HOME/RUMAH

Sabtu, 18 November 2017

Cinta Rana Mengepak Bebas

Oleh Rohyati Sofjan


Curhat Rana
Adi seperti biasa sok cuek seolah-olah aku tak ada, jika di depanku. Namun siang yang membosankan ini, ketika jam istirahat terasa panjang karena aku tak punya kegiatan dan si tengil Abu tak masuk tanpa kabar (barangkali madol lagi), aku beroleh runtutan kejutan.
Kokom cs menggodaku ketika kami sedang menonton anak-anak kelas satu main sepak bola di Lapangan Pasopati, dalam naungan pohon sawo yang rindang.
“Tuh, Adi ngeliatin kamu terus,” matanya membulat jenaka, menambah elok parasnya. Tati, Yanti, Elis, Rini, Sophie, Nia, dan Wida cekikikan.
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk mata Kokom, dara cantik dengan rambut terpanjang di kelas kami. “Masa sih?” sangsiku sebab Adi yang sedang nongkrong di depan kelasnya bareng gengnya malah cuek. Yang kudapat hanya cekakakan menggoda dari kawan-kawan Adi melihatku seperti ini.
“Bego,” Sophie gemas. “Mestinya jangan menoleh, ngerling aja, gitu. Tu anak malah pura-pura.”
Dan aku hanya bengong. Apalagi Kokom bilang dari tadi Adi ngeliatinnya.
Aku pusing, apa benar Adi merhatiin aku sekadar menggoda atau ada maksud tertentu. Dan aku bertambah pusing ketika jip hard top merah yang dikemudikan Kak Iwan lewat di jalan depan yang membelah lapangan sepak bola dengan kompleks sekolah. Ia melambai ke arahku. “Hai Rana!” Senyumnya begitu lebar, seolah siang diliputi kebahagiaan. Ia bersama sepupu lelakinya yang cengengesan. Gantian kawan-kawanku bengong. Kecuali Sophie dan Rini yang cuma mesem-mesem.
Aku tidak tahu harus bagaimana ketika jip itu malah berhenti tepat di depan kami. Aku ingin ngumpet saja. Dan sebelum Kak Iwan turun dari mobilnya, aku beranjak meninggalkan kawan-kawanku.
“Mau ke mana?” tanya mereka hampir serempak.
“Aku pusing,” dan jawaban ini mewakili apa yang kurasakan. Aku berjalan menjauh, tak memedulikan teriakan Rini bahwa Kak Iwan ingin bicara denganku. Bicara? Uh, tidak sekarang. Aku tidak menoleh, tidak juga ketika melewati kelas Adi dan kawan-kawannya. Aku hanya ingin duduk di bangkuku. Mengaktifkan APAD  dan selancar di dumia maya, duniaku.
Dan lonceng pertanda jam istirahat usai akhirnya berdentang. Kokom cs menghambur ke bangkuku. “Gila, Rana!” sembur Rini geregetan. “Kak Iwan ingin ketemu, kamunya malah kabur.”
“Emangnya buat apa ketemuan, Rin?” tanyaku enggan mengalihkan pandang dari layar kecil. Aku sedang membaca situs sastra milik seorang kawan maya. Rini hanya angkat bahu, mengatakan bahwa itu bukan urusannya untuk tahu.
“Ayolah, Rana, bukankah itu lucu?” Kokom membuatku mendongak. “Dari tadi kamu diperhatikan Adi, eh tahu-tahu abangnya datang ingin ketemu, haha....”
Aku membiarkan Kokom dan kawan-kawanku tertawa, aku terlalu sedih dan bingung untuk mengiringi tawa mereka. “Dan Adi tahu kejadian itu?”
“Aku melihatnya beranjak masuk kelas begitu abangnya datang, sepertinya ia tidak suka. Entahlah.” Rini angkat bicara. Ia tetangga mereka, masih terhitung saudara jauh sebenarnya.
Aku membayangkan reaksi Adi, apakah hanya tidak suka abangnya coba mendekatiku atau malah tidak peduli? Sudah dua tahun aku mengenal Adi namun perkenalan kami cuma sebatas kawan-beda-kelas dan kawan-selatihan-karate di sekolah. Ada jarak di antara kami. Aku tak pernah berani menyapanya, ia cuma sesekali menyapaku dan lebih sering pasang aksi cuek begitu berembus isu bahwa aku diam-diam naksir dia.
Bukan aku yang membocorkan rasa itu, rasa yang timbul ketika pertama kali melihatnya di acara perpeloncoan orientasi sekolah. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Melihat sosoknya yang tinggi tegap dibalut seragam SMP dan kulitnya yang kecokelatan dengan tahi lalat gepeng sebesar kismis di atas tulang pipinya, aku langsung terpesona padahal tidak tahu apa pun mengenainya. Nama hanya yang tertera di karton, aku Pion (dan seniorku bilang Pilon), ia Topa (belakangan aku tahu itu nama sayang dari ayahnya). 
Kami sudah dibedakan kelas sejak MOS  bahkan sekarang, seolah rentangan jarak semacam pemisahan dari takdir. Dan takdir itu yang membuatku lebih suka diam-diam mencintainya secara platonis, sialnya ada kawan sekelas Adi yang memergoki aku sering memerhatikannya. Dan aku, Rana Diandra, yang tak suka menonjolkan diri dan lebih suka tenggelam dalam dunia fiksinya, menjadi sumber gosip baru di seantero sekolah. Gosip yang barangkali membingungkan beberapa cowok, juga kawan-kawanku.
“Apa menariknya Adi hingga kamu naksir dia, Rana? Padahal reputasinya suka godain cewek. Bisa patah hatimu.” Itu nasihat Ai Nurrohmah sobat sebangkuku di kelas satu, orang pertama yang menanyakan kebenaran gosipnya.
Apa menariknya Adi, secara fisikkah? Aku tidak tahu. Reaksi kimia memang rumit. Cowok itu bahkan di mata Ai tidak terlalu tampan, lumayanlah. Prestasinya tak begitu cemerlang, ia pernah tinggal kelas waktu SD kata Rini. Bagaimana aku menjelaskan pada Ai tentang konsep cintaku. Bagi Ai hidup itu mesti nyata, termasuk pacarnya yang sekarang. Aku mencintai seseorang namun enggan pacaran. Dan itu membingungkan orang-orang.
Tidak bagi Abu, sobatku, ia tak peduli pada siapa aku melabuhkan hati sejauh kami tetap dekat. Kadang juga aku pindah ke bangkunya di barisanku paling belakang. Kami hanya berkawan. Abu naksir Sophie, tetapi Sophienya pacaran dengan Dadan. Dan cinta Abu seolah bertepuk sebelah tangan. Banyak yang menduga kami pacaran. Yang jelas kedekatanku dengan Abu tak cuma membingungkan orang lain, aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku menyayangi Abu, dan rasa sayangku kukhawatirkan berbeda kadarnya dengan apa yang ia rasakan. Maka aku ambil jalan aman.
Lalu Kak Iwan, lelaki sekira 24 tahun itu bagiku terlalu jauh. Ia abang sulung Adi. Pertemuan kami bisa dibilang konyol. Aku, Rini dan Sophie sedang menanti kendaraan untuk pulang; sado untukku ke perempatan Cianten lalu disambung ojek motor ke rumahku yang jauh di Cipeujeuh, dan angdes (angkutan pedesaan) untuk Sophie ke daerah Selaawi. Kami habis main dari rumah Rini. Berteduh di bawah naungan atap gapura Randukurung, beberapa meter di depan rumah Adi, ketika sebuah vesva melintas di depanku. Pengendaranya berhenti dan menyapaku, “Mau ke mana?”
“Pulang,” jawabku singkat. Aku hanya tahu dari Rini kalau ia abang Adi. Sehari sebelumnya ia pernah menyapaku di atas mobilnya kala aku, Rini dan Sophie berjalan beriringan menuju gapura; aku berteriak pada Rini agar jalan bareng jangan kayak iring-iringan bebek. Dan saat itu Kak Iwan rupanya mendengar ucapanku yang terasa lucu, ia tertawa ke arahku dan aku hanya bengong melihat sosok yang sepintas mirip Adi. Siapa nyana kemudian lelaki itu coba PDKT. Tidak cuma itu, setelah kejadian di sekolah, ia nekat datang ke rumahku sore-sore. Mau apel, ceritanya. Padahal aku naksir saja tidak. Aku cuma kagum pada keberaniannya dalam hal pendekatan, aku tak pernah berani undang kawan lelaki main ke rumah. Bapakku streng.
Lalu,  aku harus bagaimana? Naksir adiknya, malah dikejar abangnya!

Kesah Topan
Rana cantik sekali pagi ini. Banyak tertawa, bercanda bersama Abunya. Hatiku pilu. Aku hanya bisa melihat Rana dari kejauhan. Selalu. Seperti sekarang di koridor ini, hanya dipisahkan taman kecil dengan kelas Rana.
Aku tak punya keberanian untuk mendekati apalagi menyapanya, malu selalu menyergapku. Bukan hanya pada Rana seorang aku merasa malu (atau tak PD), pada perempuan aku selalu demikian. Tak tahu harus bagaimana.
Sebetulnya Rana cukup ramah pada sesama, namun ia seperti berkesan menjaga jarak pada lawan jenisnya. Ia bisa akrab dengan siapa saja, menjadi kawan untuk curhat, bisa dipercaya untuk menjaga rahasia. Pendengar yang baik sekaligus konsultan amatiran bagi beberapa kawan lelaki dan perempuan yang butuh saran. Itu kabar yang kudengar. Ia bisa dermawan sekaligus bisa pelit minta ampun. Ia bukan tipe gadis yang digosipkan matre. Namun ia juga tak bisa dimanfaatkan.
Waktu aku pertama kali melihat Rana di acara MOS, ia masuk jajaran senior yang menjadi panitia opsek. Ia bukan tipe senior yang over acting mengintimidasi adik kelas. Ia hanya menugaskan kami untuk menulis esai dua halaman bertema Mengapa Aku Sekolah. Boleh ditulis tangan, katanya ramah. Justru karena ramahlah aku langsung jatuh cinta padanya. Dan sialnya, bukan hanya aku yang mengaguminya, ada banyak cowok naksir Rana!
Yang menjadi pertanyaan adalah: pada siapa hati Rana terpaut? Sebab sampai sekarang ia dikenal sebagai tukang tolak cowok. Aku yakin Rana punya alasan untuk itu. Playboy tak masuk hitungan. Atau karena seorang Adi, lelaki yang ditaksirnya sampai sekarang?
Tiga hari lalu, aku sedang bermain sepak bola bersama kawan-kawan sekelas, jam olahraga belum usai. Pak Kuswendi mengawasi kami. Anak perempuan main voli. Dan Rana, Irwan menyenggolku. “Gadismu,” katanya singkat. Aku memalingkan muka ke arah yang ditunjuk Irwan. Sial, pada saat itu bola yang sedang kugiring malah dicuri Irwan. Aku memaki, Irwan hanya tertawa dan sudah berlari menjauh menuju gawang. Untung Dani sigap merebut kembali bolanya.
Dan Rana luput menyaksikan adegan itu. Ia sedang menengok ke arah lain. Arah Adi sedang nongkrong bareng gerombolannya. Aku merasa pilu. Rana seolah hanya melihat seorang Adi saja dalam hidupnya, tidak aku yang sering mencuri pandang ke arahnya, diam-diam sampai terang-terangan.
Dan siang seolah tak henti mengabar duka. Beberapa menit kemudian, saat aku masih main sambil sesekali mengerling ke arah Rana. Jip merah melintas. Aku tahu pengemudinya Kak Iwan, abang Adi. Yang tak kutahu kemudian adalah ternyata ia mengincar Rana. Aku bermain dengan murung, merasa lelah dan patah. Salahku juga aku tak punya keberanian untuk mendekatinya dan menyatakan rasa sukaku. Rana bahkan tidak ingat sosok dan namaku. Padahal karena Ranalah aku ikut latihan karate.  
 Usai olahraga Irwan menepuk bahuku, “Jangan melamun, bro!”
“Dab, aku patah hati.”
“Rana?”
“He-eh....”
“Lupakan dia,” Irwan membuka kaus olahraganya, mengelap dadanya dengan kaus itu. “Cowok di mobil yang tadi cari Rana, ya? Untuk apa emangnya?”
 “Tauk!” aku hanya mengedik.
“Kalau begitu,” Irwan menambahkan, “Coba saja....”
“Coba apa?” aku penasaran karena Irwan sengaja menggantungkan kalimatnya.
“PDKT.”
“Rana?”
“Siapa lagi?”
Aku mendengus.
“Jangan begitu,” Irwan seperti tidak sabar. “Hanya dengan cara itulah kamu akan dapat kepastian ketimbang menyiksa diri terus dengan cinta terpendammu.”
“Aku bisa ditolak, Dab!”
“Itu risikomu,” Irwan nyengir. “Aku hanya tak ingin kamu terombang-ambing rasa aneh karena loving gadis itu. Rana berhak tahu, ‘kan?”
“Dan membuatnya kelak menjauhiku karena itu? Tidak, bukan itu yang kuinginkan dengan mencintai Rana.”
“Hei, kenapa kamu berpikir negatif? Belum tentu ia menjauhimu,” Irwan mengibaskan kausnya, hampir menyabet kepalaku. Huh, kaus bau!
“Entahlah, Wan, mungkin nanti aku akan bisa menghimpun keberanian.”
“Topan, kamu jangan menilai rendah dirimu sampai berpikir orang lain akan menerapkan standar tinggi!”
“Rana cerdas,” aku menyimpulkan.
“Tapi tak berambisi jadi bintang kelas,” Irwan menambah kesimpulan, “Tiga besar di kelasnya paling hanya peringkat dua atau tiga. Setahuku ia pembenci angka, itu kesempatan bagimu untuk PDKT dengan dalih belajar bersama matematika sampai fisika,” Irwan tergelak. Aku hanya melongo.
“Bagaimana kamu tahu soal itu?” Sungguh, meski otakku lumayan aku tak tahu Rana punya kesulitan. Hitungan memang mengerikan bagi yang tak doyan, tapi aku sangat cinta matematika.
“Aku tak sengaja nguping obrolannya dengan Abu di warung, ayahnya yang streng tak peduli nilai bagus mata pelajaran putri semata wayangnya, yang diincar hanya matematika. Dan itu membuat stres. Rana minta diajari Abu, tapi kamu sendiri tahu ‘kan, Abu sekolahnya sering tak benar. Hobi madol dan ngaret. Itu kesempatan bagimu, bro!” Irwan mengacungkan jempol kanannya.
Aku diam.
“Kenapa diam?” Irwan tak sabaran.
“Aku adik kelasnya, Wan....”
“Apa salahnya? Kamu juga lumayan, Rana butuh pemahaman bagi dasar. Siapa tahu, bukan hanya nambah pintar Rana, kamu juga bisa memastikan soal rasamu.”
“Mengapa rasaku harus dipastikan segala?” Aku kesal.  
“Seberapa dalam kamu mencintainya? Maksudku, kadar rasa sukamu apakah akan berkurang atau bertambah dengan mengenal Rana lebih dekat.” Itu yang menyebalkan dari Irwan, sok berfilosofi!
“Uh, emangnya emas, pake kadar-kadaran,” aku ngeles.
“Dunia ini tak diisi cewek bernama Rana doang, bro, jodohmu bisa siapa saja. Tapi, bagaimana kamu bisa tahu jodohmu jika belum coba PDKT. Takutnya...,” Irwan malah ketawa, “setelah kamu tak berani dekati Rana sampai kapan pun, kamu juga tak berani dekati cewek lain. Anggap Rana latihanmu....” Irwan ngakak.
Giliran aku balas menyabet kepalanya dengan kausku. “Sembarangan!”
Dan sampai sekarang, di Sabtu pagi yang mestinya penuh semangat karena aku bisa kembali melihat Rana, hanya bisa melihatnya; aku lesu melihat adegan kemesraan Rana dan Abu. Irwan belum datang, tak ada yang menghiburku. Setidaknya.
Dan Rana tidak menyadari tatap kecewaku, asyik tertawa-tawa dengan Abunya, entah apa yang mereka bicarakan, jarak mereka terlalu sayup untuk kudengar. Bahuku ditepuk seseorang. Aku menoleh, kaget.
“Melamun!” Adi tersenyum. Tumben anak itu menyapaku. Ia diiringi gengnya; Bule, Encep, Yosep, dan Ade.
“Gak,” aku kesal kenapa sainganku dalam urusan rasa suka pada Rana malah sok akrab segala.
Adi tertawa, “Dari tadi situ kaget, pagi-pagi kesambet apa?” Bah, kawan-kawannya ikut ngakak, tadi aku sempat tersentak. Tepukan Adi keras banget, mana ia badag. Aneh, tawa Adi seketika terhenti, ia seperti tercenung melihat Rana dan Abu. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan sebab raut wajahnya segera berubah datar. “Sori, besok Minggu latihan karatenya digabung dengan anak-anak di SMA Negeri Limbangan. Tolong beri tahu perubahan jadwalnya pada anak lain.”
Mangga.”
“Juga pada Rana,” Adi menunjuk ke seberang. Eh, apa? Memberi tahu Rana? Berarti aku harus ngomong padanya, padahal sekadar mendekati untuk menyapa saja aku tak berani.
“Aku gak bisa!” ada dorongan spontan untuk bertindak. Mata Adi menyipit tanda heran.
“Napa?”
“Kamu aja yang nyampein itu.”
“Apa susahnya?”
“Aku gak kenal, atau setidaknya Rana gak mengenaliku.”
Adi menggeleng, “Ada-ada saja. Sudah, kamu tinggal ngomong sama dia, kenal atau gak no problem Bos. Sekalian kenalan....”
“Lalu pacaran, haha...!” sambar Yosep menggelegar. Diiringi tawa Adi dan gengnya. Sialan! Jadi banci kaleng aku di depan mereka!
“Kamu saja, Di,” aku ogah jadi bulan-bulanan seniorku. “Kabarnya Rana naksir kamu, ia pasti bahagia jika kamu yang nyampeinnya.”
Kena telak! Wajah Adi memerah, gengnya tambah riuh ngakak sambil menunjuk Adi dan Rana bergantian. Dan pada saat itu, Rana menoleh ke arah kami. Ia tertegun, matanya memicing heran. Memandang Adi dan gengnya. Lalu Adi. Namun tidak padaku, tidak sekalipun ia melihatku. Aku patah!
Adi terbatuk-batuk, mengibaskan lengan pada gengnya dan berlalu. Ekor mata Rana mengiringi kepergian Adi. Dan aku yakin Rana lebih hafal sosok Adi dibanding lekaki lain, setidaknya di sekolah. Aku melihat Adi berjalan menghampiri Rana. Aku pikir ia akan menyampaikan perubahan tempat latihan, dan aku menyesal juga mengapa melewatkan peluang untuk mendekati Rana, meski hanya sekadar bicara sebentar. Sungguh aku merasa bodoh. Eh, apa? Adi melewati Rana begitu saja. Tidak ngomong atau memandangnya. Aku bengong. Gengnya malah ngakak, dan meninggalkanku, mengikuti bos mereka ke dalam kelasnya.
Aku melihat bias kecewa di wajah Rana. Tadi Adi berlaku seolah hendak menyapanya, ternyata malah sekadar lewat saja. Aku jengkel pada Adi sekaligus kasihan pada Rana. Dan rasa kasihan itu berubah jadi cemburu ketika Abu menggandeng lengan Rana agar masuk kelas. Aku masih menyaksikan sosok mereka menghilang ke ambang pintu ketika Irwan muncul dengan wajah segar dan senyum terkembang. Aku hanya mengabarkan perubahan jadwal latihan karate besok. Itu saja, lain itu tidak! Bel masuk sudah keburu berdentang.

Gerutu Adi
            Apa hidup ini hanya berkisar pada seorang Rana melulu, Rana yang dikelilingi orang terdekatnya, abangnya, bahkan yang terparah ada adik kelasnya yang naksir juga! Adi tak habis pikir. Rana yang cantiknya biasa saja, sebab kalah gaya, bisa menggaet mata banyak cowok.
Pada hari Minggu, ketika latihan karate dan Rana tak hadir, Adi bertanya pada Topan apakah sudah menyampaikan pesannya tentang perubahan jadwal. Dan apa jawab Topan? Tak berani ngomong langsung pada Rana. Sialan!
“Kenapa?” tanya Adi gusar, entah mengapa ia harus gusar dengan ketidakhadiran Rana.
“Seperti kataku kemarin, aku gak berani ngomong,” namun wajahnya pias seperti merasa sangat bersalah sekaligus khawatir. Biasanya Rana paling rajin latihan, gerakannya lumayan luwes, sabuk hijau sudah menguasai jurus kata yang diperuntukkan sabuk biru. Rana sangat serius.
“Kamu,” sesal Adi, “Kasihan ia kalau ke sekolah dan tak tahu perubahan tempat. Udah, tahu nomor HP-nya?”
“Nomor HP Rana?” ulang Topan bego, “Enggak. Mana berani aku tanya-tanya itu. Kupikir kamu....”
“Hai kalian, ada yang tahu nomor HP Rana, gak?!” seru Adi pada segerombolan kawan-kawannya yang dijawab dengan gelengan. Ih, Rana tuh pelit ngasi nomor, takut diisengi ‘kali.
Adi garuk-garuk kepala, mau apa lagi Sensei Junjun, Pak Marga Riswanda, dan Pak Kuswendi telah tiba dan bersiap memberi aba-aba untuk pemanasan. Latihan karate kali ini tanpa Rana, Adi entah mengapa merasa sepi. Dan di barisan belakang Topan tidak fokus latihannya. ‘Ke mana Rana?’
Istirahat latihan, sambil tertawa Irwan bilang, “Topan tuh tak berani ngomong sama Rana sebab naksir....”
Adi diam, diliriknya Topan yang menunduk seperti menyembunyikan wajahnya dari rasa malu. Huh! Naksir Rana, pantesan pikir Adi, anak itu sering ngeliatin Rana.
“Bener?” tanya Adi yang segera berusaha menyembunyikan rasanya dengan tertawa ngakak seolah itu lelucon besar.
“Tanya Topan,” senggol Irwan pada bahu Topan yang dibalas dengan semburan, ember kamu!
“Kabarnya Rana naksir kamu, ya, Di?” Irwan seolah tak peduli pada reaksi Topan maupun Adi yang kali ini jambon. Namun Topan tegang ingin tahu reaksi Adi.
“Ah, gosip,” Adi berusaha ngeles.
“Tapi gosipnya bener, Di. Gimana sebenarnya rasamu pada Rana?” cecar Irwan sambil mengedip ke arah Topan.
“Biasa aja,” Adi ngeles lagi. Biasa? Apa arti rasa tadi ketika Rana tak hadir dan beberapa hari lalu Kak Iwan PDKT?!
Bajingan, abangnya ‘kan sudah punya pacar, kurang apa Teh Didah dibanding Rana? Teh Didahnya tak mau dijodohkan dengan Kak Iwan, itu masalahnya padahal Kak Iwan konon cinta. Huh, apa itu cinta? Sekarang ada bocah ingusan kelas satu yang naksir Rana juga. Adi merasa tersaingi, entah mengapa.
“Ah, kalau gitu berarti Topan harus dibantu, Di.” Kurang ajar betul Irwan itu, dibantu apa?
“Jangan tambah ngaco,” omel Topan.
“Loh, bukan ngaco, ini kan faktanya, Rana naksir Adi tapi Adinya enggak, kamu naksir Rana, sekarang dapat kepastian ‘kan, maka kita bantu comblangi Topan pada Rana.”
Adi tertawa, wajah Topan kayak udang rebus. “Bereslah,” entah mengapa Adi merasa bisa mengucapkannya dengan ringan, namun ia ingin tahu juga bagaimana reaksi Rana nanti. Baguslah kalau saingannya gugur, Adi sebetulnya suka ditaksir Rana, namun ia tak tahu bagaimana cara menghadapinya. Rana bisa sangat berjarak dan Adi takut jatuh gengsi ditolak Rana atau minimal dijauhinya seperti pada Aceng anak kelas tiga, pleboi cap jempol yang pernah coba PDKT. Dilihatnya Aceng cuma cengengesan. Kapok ia. Apalagi seperti tak ingin bersaing dengan Adi sobatnya yang masih tetanggaan.
“Caranya?” cecar Irwan. Aneh, napa anak itu sangat bersemangat. Yang naksir siapa?
“Ah, nanti kita pikirkan. Sekarang nyante dulu. Rananya gak ada.” Ponsel Adi berdering. Ia meraihnya dan melihat di layar Kak Iwan memanggil, dengan malas Adi menjawabnya. “Halo?”
“Di, ada pesan dari Rana latihannya di mana?”
“Latihan apa?” Adi sebetulnya berdebar juga bagaimana Rana bisa menyuruh Kak Iwan untuk menghubunginya.
“Karate.” Deg, debar Adi kian kuat. “Kata Rana dari tadi ia udah nunggu di luar sekolah, ditemani aku sampai lupa waktu, sekarang ia ingat dan bingung.”
“Oh itu,” Adi berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya karena Rana bersama abangnya, huh. “Di SMA Negeri, udah telat ia, sekarang lagi istirahat. Bilangin ke Rana.” Tahu rasa! Didengarnya Kak Iwan menyampaikan ucapannya. Dan ada suara Rana yang ber-o. Adi gemas sekali dan segera mengakhiri pembicaraan.
“Itu tadi tentang Rana, Di, dari siapa telefonnya?” Irwan penasaran.  
“Abangku,” jawab Adi singkat. “Lagi bareng Rana di sekolah nunggu latihan, ianya gak tahu perubahan tempat.” Diliriknya Topan yang bengong.
“Kak Iwan?” desis Topan kecewa.
“Ah, ya.” Adi tidak tahu mengapa rasa kecewa Topan malah menular padanya. “Sebetulnya abangku udah punya pacar dan bentar lagi mau nikah.” Adi tiba-tiba merasa kasihan pada Rana.
Topan dan Irwan melongo. Aceng malah cengengesan terus, “Kacian!” celetuknya puas. Adi hanya tersenyum getir tak menanggapi Aceng.
Dan sepulang latihan, kala angdes yang mereka tumpangi lewat Alun-alun Limbangan, dada Adi berdentam melihat Kak Iwan membonceng Rana dan berbelok ke kedai bakso. Ngapain saja mereka? Lelah dan lapar Adi merasa sendirian, seharusnya ia yang berboncengan dengan Rana dan mengajaknya makan sepulang latihan. Kadang Adi suka membayangkan itu kala melihat Rana sehabis latihan namun tidak berani mengajaknya. Sekarang abangnya malah menyerobot. Huh, mentang-mentang sudah kerja di Geofisika.
Hari-hari merayap cepat, kisah Rana dan abangnya menjadi hot gossip di kalangan sekolah. Kak Iwan sering menjemput Rana dan bertandang setiap hari Sabtu. Apel, ceritanya kala diledek Adi. Tidak sadar adiknya ditaksir Rana. Tidak peduli sebentar lagi ia akan nikah. Apa perlu calon pengantin pacaran sepuasnya dulu sebelum menikah, dan apakah kelak Kak Iwan akan jadi suami yang baik dan tak selingkuh sana-sini? Adi tidak tahu. Namun ia sangat terusik membayangkan reaksi Rana jika tahu.
Mungkin ini saat yang tepat kala ia berpapasan dengan Rana di toilet. Adi tersenyum dan menyapanya agar ke kelas bareng. Rana terlihat gugup namun mengangguk.
“Aku ingin ngomong dulu dengan kamu, penting.”
“Tentang apa?” Rana bingung.
Dan Adi menunjuk ke arah beranda masjid yang sepi, sekarang jam pelajaran terakhir. “Yuk,” ajaknya.
Adi duduk diikuti Rana yang mengambil jarak. Huh, seharusnya gadis itu berdekatan dengannya, pikir Adi, namun ia malu juga ketika sadar gugup Rana karena malu.
“Kamu dan Kak Iwan pacaran?” bagaimanapun Adi harus ucapkan itu, dan ia tak berani melihat Rana langsung. Matanya lurus ke depan, ke jejeran kelas yang sepi. Para guru pasti sedang menerangkan pelajaran. Adi ingin membolos saja agar bisa berlama-lama dengan Rana. Fisika tadi bikin suntuk. Hening. Tak ada jawaban. Adi terpaksa menoleh ke sampingnya, Rana terlihat bingung.
“Halo?” sapa Adi tak sabar.
“Aku tidak tahu.”
“Kok?”
“Abangmu sering jemput dan ajak jalan, tapi aku gak tahu apa kami pacaran.”
“Kamu aneh,” sembur Adi. “Ngapain saja kalian?”
“Ya jalan, ngobrol dan makan.” Rana seperti tidak nyaman.
“Belum apa-apa?”
“Apa maksudmu?”
“Tidak lebih dari itu?” Adi sadar ia tak berhak ajukan pertanyaan macam itu sebab dirasa tak sopan, namun ia harus tahu sebab Kak Iwan suka membual soal keahliannya dalam menggaet cewek.
Insya Allah, tidak lebih.” Rana tersenyum, senyum yang sulit diartikan Adi namun ia merasa senyum Rana tulus.
“Kamu harus tahu kebenaran tentang Kak Iwan dariku sebelum orang lain memberi tahumu.” Bagaimanapun, Adi harus ucapkan itu. Mata Rana bertanya. Dan Adi tidak tega. “Ia sudah punya calon istri,” ucapan itu sebetulnya bernada lembut namun efeknya dahsyat sebab wajah Rana langsung pucat.
Hening mengambang di antara mereka. Adi merasa bersalah sebab Rana terlihat sedih dan kecewa, entah mengapa ia merasa kecewa juga. Untuk apa?
“Maaf, aku tidak tahu.” Suara Rana lemah.
“Maaf aku memberi tahumu.” Adi merasa jadi banci.
“Terima kasih.” Sendat sekali suara Rana.
Apa perlu Rana berterima kasih, pikir Adi. Sungguh ia ingin bisa menghibur gadis itu, setidaknya menyediakan bahunya untuk menangis, namun Rana tak menangis. Dan Adi tak berani berbuat lebih. Ia teringat Topan yang masih berharap. Topan yang patah hati.
Bocah itu! Andai saja ia tak mengiyakan soal mencomblangkan barangkali Adi bisa menggunakan saat ini untuk PDKT. Namun tak etis, bukankah hati Rana barusan patah karena dikadalin abangnya. Apa yang harus dilakukannya? Adi ingin sekali menggenggam tangan gadis itu. Tangannya memegang bahu Rana. Rana menoleh kaget.
“Masuk kelas, yuk?” Bego! Napa kata itu yang ia ucapkan? Seharusnya, ‘Aku suka padamu!’ Lidah Adi kelu. Ia merasa terpasung rasa khawatir. Rasa itu yang menghalanginya untuk PDKT Rana. Ia merasa tersanjung disukai gadis itu namun khawatir kelak Rana akan berhenti suka jika tahu kekurangannya. Mengapa ia ingin terlihat sempurna di mata gadis itu? Lalu untuk apa segala sikap jaimnya, pura-pura cuek jika berjumpa dengan Rana, namun diam-diam ekor matanya akan mencari ke sudut mana Rana berada? Dan kekecewaanlah yang melanda jika Rana malah berakrab ria dengan Abu.
Sebagai lelaki nalurinya merasa Abu pun menyukai gadis itu, hanya soal waktu, barangkali. Mungkin Abu lebih punya keberanian untuk menyatakannya, atau sama-sama pengecut sepertinya? Abu junkie dan tak bisa lepas dari dunianya! Itu sudah jadi rahasia umum, dan Rana tak berdaya untuk meluruskan Abunya. Mengapa Rana harus dekat dengan Abu, apakah gadis itu pun sebetulnya menyukai Abu namun tidak sadar? Adi merasa mumet. Ia bangkit.
“Ayo!” Lebih bernada paksaan daripada ajakan. Ia tidak suka berada dalam suasana diam yang aneh. Ia suka berdekatan dengan Rana namun tak suka dengan efek yang telah ditimbulkan dari percakapan tentang fakta Kak Iwan. Ia merasa tidak nyaman dan bersalah.
Mereka berjalan berdampingan dalam diam, menginjak rumput yang kering diranggas kemarau. Udara terasa terik membakar, sebentar lagi jam pelajaran usai.
“Pulang sekolah nanti kita pulang bareng, yuk. Aku ingin mentraktirmu ngebakso.”
Mata Rana mengerjap, ada binar bahagia di sana. “Napa?”
“Pingin aja.” Adi tersenyum. Mungkin ini sebuah awal untuk berbagai urusan, menghibur Rana (atau PDKT?). Dan bagaimana dengan Topan? Tidak sekarang, mungkin nanti ia akan mencomblangkan atau tidak jadi. Adi tidak tahu. Yang ia tahu hanya ingin membuat Rana menyukainya apa adanya. Mereka berpandangan dalam senyum dan sama-sama malu untuk melanjutkan percakapan.

Abu Sang Junkie
Rana Sayang, gue gak nyangka akhirnya elo bisa dekat Adi. Di satu sisi gue senang elo hepi meski gue sedih dan merasa kehilangan. Gue gak tau napa. Mungkin gue suka elo lebih dari sekadar kawan, gue gak tahu. Gue suka perhatian lo, gue suka cara lo nanggapi gue. Cara lo mengacak-acak rambut gue. Cara lo....
Sampai di sini Abu berhenti. Dipandanginya coretan di buku catatan kimia. Norak! Pikirnya. Gue cuma bisa curhat di sembarang kertas. Gak bisa ngungkapinnya pada Rana. Abu segera melempar buku itu ke atas meja belajar. Ada rasa sepi menjalar. Tinggal di pesantren mungkin adem, ia bisa belajar mandiri. Namun Abu adalah Abu, si bungsu yang manja dan susah diatur. Seorang pencandu narkoba, sudah coba-coba sejak kelas enam SD dan sampai sekarang masih keterusan. Tidak heran keluarganya kewalahan. Mereka berusaha menyadarkannya dengan berbagai cara, termasuk menjebloskannya ke pesantren di Cibiuk ini, sekalian sekolah di SMA swasta Al Fatah. Dan di sekolah itulah ia berjumpa Rana Diandra.
Abu tak menyesal didepak dari Jakarta ke Garut. Namun mondok di pesantren tak membuatnya merasa jadi santri, mengaji Quran ia bisa dan lumayan bagus, yang sulit adalah mengaji kitab kuning salafi. Si anak betawi itu kesulitan memahami bahasa Sunda. Bahasa Tionghoa sih bisa, Abu masih keturunan Tionghoa campur betawi, kulitnya yang kuning sudah putih sejak sekolah di sini. Matanya yang besar  memang tidak kentara sipit, dan kawan-kawan tak mempersoalkan itu.
Namun Rana lain, “Elo masih ada darah chinesse, ya, Bu? Gue jadi ingat masa kecil di Bandung waktu malam-malam diajak bertandang ke rumah sobat bapak yang keturunan Tionghoa. Rumahnya di Jalan Cikawao, rumah besar zaman Belanda. Gue suka ke sana, Teh Santi anak Pak Abas baik, suka jajanin gue di warung pinggir jalan. Sekarang gak bisa main ke sana lagi. Rumah mereka digusur, katanya untuk pembangunan, eh malah dibikin pertokoan. Tega banget. Bu Abas sampe sakit-sakitan. Mereka terpaksa ngungsi ke Cimahi. Tinggal di rumah kecil, perumnas dekat bandara. Padahal anggota keluarganya banyak. Rumah elo baik-baik saja, Bu?” Lucu celotehan Rana kadang ngalor-ngidul.
“Aman. Di Jalan Raya Kelapa Dua. Elo mau main ke sana? Rumah gue besar, sodara gue banyak.”
“Main ke rumah lo? Gue gak pernah ke Jakarta. Mungkin kapan-kapan. Mau nginap di mana gue kalo ke Jakarta?”
“Di rumah gue aja, lo bisa bobo di kamar gue, gue di kamar abang. Liburan nanti ke sana yuk, sekalian ke Dufan atau Taman Safari atau Taman Mini?”
“Gak, ah. Mungkin kapan-kapan kalo gue dah dewasa, hehe. Ortu melarang gue ke luar kota. Sebel!”
“Loh, emang napa?”
“Gue anak cewek satu-satunya, dan anak cewek di keluarga gue harus dijaga baik-baik agar tak kena aib.”
“Itulah sebabnya elo suka jaga jarak ma cowok?”
Yup. Bokap gue streng.”
Dan sampai sekarang Abu tak pernah bertandang ke rumah Rana, ingin sih, namun ngeri juga gimana kalo bokap Rana yang streng tanya macam-macam. Sekarang hari Minggu. Abu merasa sepi. Pasti Rana sedang asyik latihan karate di sekolah, dan ditemani Adi. Adi yang di mata Rana macho bagi Abu seolah menjelma rival. Ia tidak se-macho Adi. Tinggi mereka sama namun Abu lebih kurus. Di beberapa bagian lengan kirinya ada luka bekas jarum suntik. Sekarang ia telah berhenti nyuntik namun kadang-kadang ngeboat. Kebiasaan yang sulit dihilangkan. Uang kiriman dari orang tuanya cukup banyak namun Abu boros dan suka membelanjakan untuk obat. Rana berusaha menyadarkan, namun Abu susah lepas dari dunianya.
Dunia itu pula yang membuat Abu ragu untuk menyatakan rasanya pada Rana. Ia melihat Sophie sobat Rana, dan entah mengapa ia menjadikan Sophie sebagai selubung bagi rasa sukanya. Sudah tentu ketika ia ditolak Sophie. Dan anak-anak melihat ia sebagai junkie yang tergila-gila pada Sophie. Ia sengaja menjadikannya demikian agar kedekatannya dengan Rana tak diributkan orang lain. Abu sudah sering diledek kawan-kawan lelakinya soal kedekatan mereka dan cuma senyam-senyum saja. Ia akan menyapa Sophie dengan mesra di depan Rana hanya agar tahu bagaimana reaksi Rana. Ia sangat ingin dibutuhkan dan dicemburui. Pemikiran dangkal yang lucu. Rana seolah tidak peduli, tidak juga ketika Abu mulai cerita tentang cewek lain dan rasa suka serta ketidakberaniannya untuk PDKT. Rana malah mendorongnya agar berani. Abu kesal. Ia ingin agar Rana....
Ingin agar Rana apa?
Sekarang sudah terlambat. Rana dekat dengan Adi. Tidak secara kentara di depan orang-orang. Seperti back street. Dan Abu merasa Rana pun tidak berani bilang padanya. Ia tak sengaja memergoki mereka jalan bareng, bukan sekali dua. Dan entah mengapa ia merasa dadanya sesak melihat adegan keakraban mereka. Rana begitu jauh berbeda. Mungkin Rana lebih menyukai Adi daripadanya sang junkie.
Tiba-tiba Abu marah pada diri sendiri. Obat-obat terkutuk! Ia sungguh sangat ingin berhenti, namun darahnya sudah terkontaminasi, dan ia tak kuasa menolak kehendak akan candu. Selalu sakaw ketika mencoba secara bertahap untuk berhenti
Baru-baru ini ketika ia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, hasil lab menyatakan positif HIV. Dan dunia Abu serasa jungkir balik. Membayangkan masa depan suram. Ia bahkan tak berani memberi tahu keluarganya. Jarum suntik yang pernah dipakai beramai-ramai dengan sesama kawannya kala di Jakarta adalah penyebab.
Susah payah Abu berusaha mencari informasi mengenai pengobatan lewat internet maupun secara langsung ke klinik yang dirujuk. Karena itulah kini ia sering membolos. Dan hanya Rana yang perhatian bertanya ke mana saja. Rana begitu cemas ketika sakitnya kumat, tidak sadar dirinya sakaw. Apa yang Rana tahu tentang narkober? Gadis itu sibuk mengurus dunianya, dunia sastra yang bagi Abu terasa aneh. Apa jadinya jika si kutu buku bersanding dengan junkie? Dan sang junkie kini nyaris sekarat.
Rana selalu cerita soal masa depan. Kuliah sastra di Bandung atau Yogya. Dan mungkin nanti akan bertandang ke rumah Abu di Jakarta. Kata Rana di Jakarta suka ada acara sastra yang menarik sampai pameran buku akbar.
“Elo akan jadi apa, Bu?”
“Maksud lo?
“Dah rencanain masa depan atau usaha agar lolos PMDK.”
“Ah, jauh amat. Masih kelas dua.”
“Apa salahnya merencanakan arah hidup sedini mungkin agar tak sesat.”
“Gue lom tahu minat gue apa. Kuliah males, mungkin gue akan langsung kerja aja agar gak bebanin ortu dan sodara gue meski secara finansial mereka kaya.”
“Gak apa, itu bagus. Masalahnya apa elo mau berhenti ngeboat?” Rana menatapnya teduh, Abu merasa ada sesuatu dari tatapan itu. Rasa khawatir yang teramat sangat.
“Jangan khawatir, Say. Gue akan berhenti, cepat atau lambat. Tuh, Adimu lewat,” Abu mengalihkan pembicaraan. Rana menengok ke arah Adi dan tersenyum, Adi membalas senyum Rana tawar seperti tidak suka kedekatan mereka apalagi Rana dan Abu duduk berdempetan.
“Hai!” lambai Abu konyol. Adi cuek.
“Cowokmu marah tuh elo deket gue.”
“Cowokku? Kami gak pacaran, cuma berkawan,” elak Rana.
“Masa? Gue sering liat lo jalan bareng Adi dan dari cara kalian bicara gue bisa mastiin lebih dari kawan.”
“Aduh, Abu. Jangan bikin gue bingung, dong. Biasa aja, lagian ia gak pernah ngomong I love you.”
Apakah kedekatan dan rasa cinta harus selalu diungkapkan dengan kata-kata verbal macam I love you atau aku cinta padamu? Abu tidak tahu. Andai ia mudah ucapkan kata itu mungkin Rana bisa mengerti perasaannya. Namun Abu kesulitan dengan kalimat verbal, ia lebih suka perbuatan. Dan sialnya Rana tak mampu menangkap sinyal. Ia terlalu terpaku pada Adi! Ya, Adilah yang lebih dulu dilihat Rana saat MOS ketimbang dirinya yang sekelas dengan Rana saat masa orientasi itu.
Dan sekarang ia harus terima kenyataan betapa sulitnya menyatakan rasa agar Rana menjadi lebih dari sekadar kawan. Ia ingin Rana menjadi bagian dari belahan jiwanya secara terang-terangan. Namun mungkinkah ketika HIV telah menjalar? Abu merasa lunglai. Ia ingin berterus terang pada Rana, namun ia takut akan akibat yang ditimbulkan dari kejujuran. Ia tak ingin Rana menjauh darinya. Ia ingin agar gadis itu selalu dekat dengannya. Ia ingin Rana jadi PACARNYA! Dan mungkin kelak jika hubungan berkembang dalam kesesuaian: jadi ISTRINYA!
Rana Diandra nama yang aneh. Kata Rana dari bahasa klasik yang berarti Ratna, putri yang cantik. Namun Rana lebih suka menganggap dirinya sebagai berani atau riang atau suka berperang. Dian berarti pelita. Dan pelita itulah yang membuat Abu merasa terbakar oleh cahayanya.
Abu bangkit. Ia harus menyiapkan buku-buku untuk esok. Di luar ramai dengan kawan-kawannya yang tengah bergurau. Aturan pondok sebetulnya lumayan ketat. Namun Abu mulai suka tinggal di sini. Acil kawan sepondok asal Depok masuk dan menyapa. Mereka sekelas juga.
“Sibuk apa, Bu?”
“Beresin buku.”
“Tadi gue ke Limbangan, mampir bentar ke sekolah buat nemuin Ipih yang ekskul pramuka, di mulut Jalan Pasopati gue lihat Rana lo dibonceng Adi. Gue sempet tanya mo ke mana. Adinya cengengesan bilang mo makan di Asep Strawberry dekat Nagreg, ngajak Rana refresing, katanya. Dasar anak tajir.” Ayah Adi pemborong.
Abu hanya menanggapi dengan senyum kecil. Rana pernah bilang pengen makan di sana. Abu sebetulnya sudah menyediakan anggaran dana untuk itu, ia akan ajak Rana ke sana November nanti. Ia ingin merayakan milad gadis itu. Ia sudah menyiapkan kado, seuntai kalung unik dari CHLORIS. Ia pernah berharap menjadi orang pertama yang ajak Rana makan di sana malah keduluan Adi. Apa yang dilakukan Adi? Menembak Rana atau cuma makan sambil jalan-jalan, berkuda atau bikin tembikar? Apa jadinya jika betul Adi menembak Rana dengan I love you?
“Rana terlihat malu-malu kepergok gue dibonceng Adi, langsung aja gue ledek mereka, ‘Kalian pacaran ya?’.” Sampai di sini Acil menggantungkan kalimatnya. Leher Abu berputar ke belakang, ke arah Acil yang asyik tiduran.
“Apa kata Rana?”
“Ia cuma senyum berjuta makna, dan Adi hanya ketawa. Lalu mereka cabut. Duh, Rana pake megang pinggang Adi, haha!”
“Garing!”
“Elo gak cemburu pacar lo selingkuh?”
“Napa lo pikir kami pacaran?” Abu duduk di atas kursi, menghadap Acil.
“Cara kalian dekat bagi orang bisa ditafsirkan lain. Gue bisa liat cara lo mandang Rana beda pada Sophie, lo lebih dalem, lembut, dan mesraaaa....”
Abu terkekeh. “Gue gak tahu apa gue pacaran dengan Rana, gue gak berani ngomong langsung ma dia.”
“Gawat!” Acil tiba-tiba bangkit dan duduk di ranjang.
“Apanya yang gawat?”
“Bukan cuma lo aja yang gak berani ngomong langsung, gue denger selentingan kabar dari Aceng tadi kalo Topan anak kelas satu dan selatihan karate naksir Rana juga tapi gak berani nyatainnya. Wah, saingan elo banyak, Bu. Buruan lo ngomong ma Rana. ‘Ntar nyesel keduluan. Bukan apa-apa agar lo bebas berdua-duaan. Kalo dah jadi pacar orang, lo bisa habis dilabrak mereka agar gak sok akrab dengan Rana.” Acil ngakak.
“Sialan lo!” tawa Abu ikut berderai, meski jauh di lubuk hatinya ada semacam kekhawatiran. Acil benar. Namun bagaimana dengan virus HIV yang telah menginfeksinya? Bisakah Rana menerima dirinya apa adanya? Seorang ODHA?!
Itu tidak adil bagi Rana. Ia punya banyak cita-cita, dan hidup bersamanya pasti sulit karena ada banyak acuan agar aman. Tinggal beranikah Sang Rana menjalaninya? Abu tidak tahu. Segalanya terlalu jauh melampaui kenyataan, hanya sebatas angan. Ia sadar mencintai gadis itu, dan dalam usianya yang sama belia bisakah kerasnya hidup dijalani dengan cinta semata? Akankah cinta bisa pudar karena perbedaan atau ketidaksabaran?
“Aku cabut dulu,” Acil meninggalkan Abu begitu sadar temannya hanya termangu.
Dan esoknya, Senin pagi yang damai Abu tidak sabar ingin tahu apakah Rana sudah jadian dengan Adi. Di pintu kelas ia malah disambut Rana.
“Bu, pinjam buku PR kimia elo, gue gak bisa bikin PR.” Wah, wajah gadis itu rusuh. Gak bikin PR? Ada-ada saja.
Abu segera membuka ransel Alpina merah marunnya yang sudah lusuh tanpa komentar dan menyerahkan bukunya.
“Makasih, Bu. Gue nyalin dulu sebelum upacara.” Kimia adalah jam pelajaran pertama. Wajar Rana rusuh sebab takut disetrap Bu Rahma yang kiler. Rana segera ke bangkunya di samping Sophie. Abu mengekor dan meletakkan tasnya di bangku belakang mereka. Dilihatnya gadis itu dengan tergesa menyalin soal-soal, rumus kimia yang bagi Rana njelimet. Abu tiba-tiba teringat Rana sering minta diajari materi pelajaran hitungan.
Ia berdiri di samping gadis itu sekadar menikmati raut wajahnya yang serius. Mungkin sudah saatnya ia penuhi permintaan Rana. Tangan Abu menyentuh tangan kiri  Rana.
“Ada apa?” Rana mendongak.
“Lo pernah minta gue ngajarin matematika, kimia dan fisika. Lo masih ingin?” Tangan Abu masih tetap di atas tangan gadis itu. Mata Rana berbinar.
“Lo mau? Lo gak sibuk?”
“Buat elo waktu gue banyak.”
“Makasih, Bu. Kapan?”
Abu hanya menjawab dengan senyum. “Kapan pun lo mau, Say.”
Sebuah suara menyentakkan mereka. “Hayo, jangan pacaran mulu! Buruan upacara!” Kosasih sang KM menghampiri mereka sambil mengibas-ngibaskan tangan.
“Bentar, bikin PR dulu!” balas Rana malu. Ia lalu memandang Abu. “Lo duluan aja, Bu. Gue gak bisa konsen ditungguin kayak gitu.” Rana tersenyum manis. Abu membalas senyumnya dan berlalu mengikuti Kosasih yang geleng-geleng kepala sambil bergumam, ‘pagi-pagi sudah pacaran’. Dibalas tawa riuh beberapa anak yang hendak keluar.
“Biar lebih segar!” sambar Abdullah sambil mengacungkan dua jempolnya. Entah menggoda atau membela Rana yang suka memberi contekan PR bahasa Inggris, terutama terjemahan.
Abu dan Rana tersipu.
Beberapa menit kemudian, ada rasa lega begitu Rana selesai menyalin PR-nya. Kelas sudah sepi. Gawat! Ia bakal telat upacara. Rana bergegas membereskan bukunya.  Buku Abu terjatuh. Ia jongkok memungutnya dan tanpa sengaja tangannya membuka bagian halaman curhat Abu. Rana membacanya dan tertegun. Ada alir hangat meresap. Alir yang membuatnya bimbang. Mengapa baru sekarang?
Perlahan dan hati-hati sekali, Rana merobek halaman itu. Ia tidak ingin Bu Rahma yang suka memeriksa buku catatan anak-anak ngomel karenanya. Ia akan menyimpannya dan menunggu Abu menyatakannya secara langsung. Mungkin saat ini Rana belum siap. Adi yang ditaksirnya seperti menunjukkan gelagat untuk PDKT namun tetap tak pernah bilang I love you padahal kemarin di restoran Asep Strawberry mereka menghabiskan waktu sampai Asar. Makan, jalan-jalan menyusuri sungai, flying fox, berkuda, dan bikin tembikar.
Rana bimbang. Ia sudah meminta Kak Iwan berterus terang. Lelaki itu tak pernah datang lagi. Tak juga mengusik kedekatannya dengan Adi begitu kemarin mereka berjumpa di restoran yang sama. Waktu itu Kak Iwan sedang dengan Teh Didah. Apakah Adi sengaja membuat pertemuan-seolah-tak-disengaja? Kemarin Adi berlaku seakan Rana pacarnya. Dan Kak Iwan seperti ingin menghindar melihat kedekatan mereka. Entah malu atau kalah.
“Rana, upacara!” Ketukan keras di pintu mengagetkannya. Rana mendongak dan melihat Pak Kuswendi sang wakasek berdiri di luar pintu. Biasanya selalu ada guru yang mengontrol kelas agar anak-anak ikut upacara. Rana mengangguk dan mengikuti gurunya ke lapangan upacara. Pagi begitu damai. Dari kejauhan ia bisa melihat punggung Adi, juga Abu. Dua lelaki yang membuat cintanya mengepak bebas menjelajahi cakrawala lepas.***
Cipeujeuh, 21 April 2011
 *41.152 CWS

 # Berapa kali Anda jatuh cinta secara platonis pada pandangan pertama?
 Saya 5 kali. 3 kali kala ABG SMP pada sesama remaja. Dan yang terakhir 3 tahun kemudian setelah saya lulus SMU, pada seorang lelaki dewasa yang kala itu tidak saya ketahui siapa ia sebelumnya apalagi namanya namun saya sangat berterima kasih padanya -- untuk pintu-pintu yang telah ia bukakan, untuk pemakluman pada seorang gadis naif 24 tahun yang jatuh cinta begitu saja pada seorang lelaki dewasa 34 tahun.
Ini kisah tentang subjek cinta platonis jilid 4 saya. Kala SMU. 3 tahun menyukai orang yang itu-itu saja, haha. Meski saya dekat dengan tokoh Abu saya ragu apakah ia pun subjek platonik saya, kami berpisah begitu saja begitu usai ujian sekolah. Sejujurnya saya orang aneh yang ragu membuka diri pada lelaki, keterbatasan fisik (disabilitas pendengaran) kerap membuat saya minder. Namun saya suka masa SMU di Al Fatah. Saya pernah bahagia, berjumpa banyak kawan yang baik dan bisa menerima saya apa adanya.
Yah, saya mulai kenal diksi ‘platonis’ kala berusia 13 atau 14 tahun gegara membaca artikel di majalah Gadis tentang penyair Khalil Gibran yang mencintai May Ziadah secara platonis dan saya sangat terkesan sekali.
Ini hanya fiksi, diambil dari apa yang pernah saya alami. Mohon maaf pada nama-nama yang tak disamarkan. Pengingat dari kenangan yang hampir lekang.
Untuk Abu, di mana pun berada, semoga hidup dengan baik dan bahagia. Saya tak bisa berhenti menjadikanmu sumber inspirasi setelah cerpen “Abu” yang pernah dimuat majalah Kartika. Saya masih menyimpan pasfotomu yang kamu berikan. Juga foto kala kita piknik bersama kawan-kawan sekelas di Curug Cindulang. (Bersama Nani Napisah, Ipih Rodiah, Ayi Wahidin, Siti Sopiah, Tati Kurniawati dan pacarnya, Kokom Komariah, Widaningsih, dan dua orang teman perempuan Tati.)
Untuk Topan, adik kelas saya, mohon maaf saya tidak tahu soal rasamu sampai Wiwin teman kita yang rumahnya dekat Alun-alun memberi tahu, tetapi kala itu kamu sudah menikah. Terima kasih atas rasa sukamu. Saya merasa tersanjung mendapat kehormatan perasaan mendalam, namun saya selalu takut dan membuat jarak dengan para “pengejar”. Saya kerap mengecewakan dengan penolakan karena tak punya keberanian bahwa saya bisa hidup bersama seseorang tanpa mengecewakan karena keterbatasan.  
Saya juga minta maaf pada sekian lelaki lain kala remaja. Entah itu tetangga sekampung, teman sekelas atau lain kelas, kakak kelas, sampai malah adik kelas (lagi) juga. Cuma pada suami akhirnya saya bisa percaya diri karena kami bisa saling melengkapi.
Untuk Kevin Nicholas G. Petterson/Kevin Richard Putranto/Nicholas Kevin/Richard Kevin/atau siapalah nama aslimu yang sebenarnya; apakah suka sekali membajak surat dua orang gadis yang dikirim lewat pos pada tahun 1994-1997-lalu tahun selanjutnya, dan menjadikan mereka tampak konyol menjadi subjek permainan psikopat? Apakah menikmati kisah-kisah curhat kami yang khas? Semoga hidup dengan baik dan penuh syukur. Maaf, saya menulis “Seberapa dalam Lukamu”, menjadikanmu tokoh fiksi. Sampai sekarang saya ragu untuk melanjutkannya. Dan Ujianto Sadewa pernah memajang karya itu di blog-nya.
Terima kasih sudah membaca novelet panjang ini. Ditulis dengan perasaan yang hangat dan bahagia, semoga Anda pun menyukainya.
Salam hangat,
~ Rohyati Sofjan/Gurun ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D