HOME/RUMAH

Minggu, 09 Maret 2014

Teman untuk Filo



Teman untuk Filo

Cerpen Rohyati Sofjan


S
etiap melihat ikan yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara memasaknya dengan benar agar enak dimakan. Goreng, bakar atau rebus, bergantung jenis ikannya. Mamaku selalu masak ikan dan aku dengan senang ikut membantu jika sempat. Toh, sebagai anak tunggal ikan itu hanya untukku, dalam artian aku akan mengambil porsi lebih besar daripada mama atau papa, hehe. Tak ada yang protes itulah untungnya jadi anak tunggal, tak perlu rebutan.
Dan aku mengernyit mengamati mainan baru Anna. Aquarium mini berbentuk toples itu ternyata berisi makhluk hitam kecil dengan ekor spiral yang meliuk-liuk. “Kamu menelefonku ke sini hanya untuk menonton kecebong?!” seruku tak bisa menahan tawa. Di telefon tadi dengan antusias Anna bilang bahwa ia punya ikan peliharaan, dan aku berharap bahwa ikannya jenis yang bisa dimakan agar jika mati karena salah urus tak mubazir. Namun yang ini, ya ampun! Aku tenggelam dalam tawaku mengabaikan ekspresi Anna yang bingung.
“Apa katamu tadi, Fi?”
“Kecebong!” seruku menikmati gema dari namanya. Yang jelas ini bukan kece, bong! Alias cakep, dan bong itu kata seru bikinanku sendiri, hehe.
“Tapi kata David tadi ini ikan spesial.” Anna tak terima.
Alisku bertaut, jadi David the menace itu tak tahan juga untuk menjaili Anna yang lembut dan penakut? Anak itu 3 atau 4 tahun lebih tua daripada kami, namun badungnya sangat mengerikan bagi anak-anak sampai orang dewasa. Kami menjulukinya David The Bullying alias David si penggencet. Ia tak segan mengganggu siapa saja, memeras anak lain agar menyerahkan miliknya, mencuri buah dari pohon tetangga, sampai memancing di empang milik orang. Pokoknya segala hal kenakalan yang bisa membuat anak perempuan atau lelaki menangis, apalagi David punya geng yang kusebut gerombolan si berat. Huah, kecil-kecil sudah jadi kepala bandit....
“Jadi ini dari David?”
Anna mengangguk lesu. Kupikir setelah ancamanku pada David tempo hari lalu untuk tidak mengganggu kami atau siapa saja dengan hampir mematahkan hidungnya tepat di depan gerombolan si berat yang bengong melihat bosnya dikalahkan seorang anak perempuan, akan membuatnya kapok. Sekarang ia mau apa? Membuat lelucon bahwa ikannya merupakan hadiah permintaan maaf karena telah merebut dan melemparkan bungkusan ikan mas koki Anna yang baru dibelinya waktu itu? Aku kesal.
“Yuk, kita ke sana!” Aku mengangkat aquarium dengan hati-hati.
“Ke mana?” tanya Anna bingung.
“Ke rumah David!”
T

ernyata tidak sulit mencari David. Ia sedang bengong di kursi teras rumahnya yang besar dan megah. Satpam membukakan gerbang dan mempersilakan kami masuk dengan ramah. David seakan tidak mendengar langkah kami. Hingga aku yang tidak sabaran merasa harus membentaknya. “David!”
David tersentak seolah ia barusan tidur dengan mata terbuka. “Eh, Fi...”
“Katakan apa maksudmu memberi kecebong pada Anna sebagai ganti ikan mas kokinya yang mati kamu lemparkan ke aspal?” aku marah karena teringat kejadian kala sedang melintas dengan sepeda lipatku tahu-tahu ada ikan terbang dan mendarat tepat di depan roda depan hingga aku melindasnya. Aku jatuh dengan gusar dan sedih karena telah menabrak ikan mas koki tak berdosa hingga mati. Dan saat aku berusaha mencari sumber siapa biang kerok yang sembarangan main lempar ikan, ternyata David dan gerombolannya sedang mengganggu Anna tak jauh dari tempatku.
Waktu itu Anna menangis sambil memegang erat-erat aquarium kecilnya agar tak dirampas David yang mendesak. Aku tak tinggal diam dan secepat kilat bersama sepedaku menabrak David agar menjauh dari Anna. David tentu saja marah dan tak terima, sebelum ia memerintahkan gerombolannya bertindak aku sudah memukul hidung David hingga terjengkang. Oh, sekadar info aku ikut karate di sekolahku dan sering mengikuti kejurnas antar sekolah. David tentu saja tercengang karena ia dikalahkan anak SD kelas V. Dan aku mengancamnya agar ia tak mengganggu Anna lagi atau akan menanggung akibat yang lebih parah nantinya. Juga harus mengganti ikan mas koki yang dilemparkannya. Perhatikan, ikan mas koki dan aku tak pernah salah bilang kecebong atau berudu alias anak katak!  
Dan kini, di sore yang berangin ini aku (juga Anna) ingin tahu apa maksud David memberi Anna kecebong.
David berdiri, ia lebih tinggi daripada kami. Tentu saja karena ia sudah SMP. Aku mendongak waspada. “Namanya Filo,” gumam David pelan.
Aku tak bereaksi. Sebaliknya Anna malah berkata dengan nada lembut, “Kecebong yang kamu berikan itu bernama Filo?”
David mengangguk mantap. Aku ingin terbahak. Filo, agak miriplah dengan ikan giru kecil bernama Nemo dalam film kartun Finding Nemo. Apa David doyan ikan?
“Aku ingin seperti Filo, Fi.”
“Kamu ingin seperti kecebong,” aku tak tahan untuk mengejek. Namun David hanya tersenyum.
“Ya, katakanlah secara filosofis, Fi.”
Giliran aku yang bingung.
“Papamu,” lanjut David. “Kemarin ia datang lagi ke sini. Semula aku takut ia akan memarahiku karena soal ikan yang mungkin kamu adukan. Sebaliknya ia malah mengajakku ngobrol banyak hal tentang kehidupan.”
Aku diam. Setelah menghajar David dan mengantar Anna pulang ke rumahnya, aku mengadu pada Papa tentang ulah David yang kali ini sangat keterlaluan. Papa yang murah hati hanya diam. Aku kesal karena Papa diam saja. Apa iya bisa mengubah si menace itu jadi manis dengan menyogoknya buah rambutan doang?
Dulu, ketika masih kecil aku memergoki David dan gerombolannya mencuri buah rambutan di pekarangan dengan cara menggunakan galah panjang. Aku mengadu pada Papa, tapi Papa hanya tersenyum. Ia mengambil galah dan memetik banyak sekali rambutan. Menyuruhku membantunya mengumpulkan di keresek besar. Dan Papa mengajakku ikut. Apa yang dilakukannya membuatku tercengang. Papa mengajakku ke rumah David hanya untuk mengantarkan rambutan itu. Kami bahkan harus menunggu di teras sampai David pulang dan menerima bagian rambutannya. Kedua orang tua David selalu sibuk dan jarang di rumah. David sepertiku merupakan anak tunggal. Bedanya aku dibesarkan dalam keluarga yang harmonis.
“Untuk David dan teman-teman,” kata Papa ramah. “Kalau ingin rambutan jangan sungkan datang ke rumah, dengan senang hati Om dan dik Sofia akan berbagi. Ada banyak kok.”
David waktu itu malu, menerima rambutannya dengan ucapan terima kasih yang lirih. Sejak saat itu David dan gengnya tak pernah mengganggu pohon rambutan kami kala berbuah, tidak juga menjadikanku sasaran untuk digencet. Ia seperti segan pada Papa dan aku. Namun setiap musim rambutan Papa akan datang ke rumah David dengan membawa sekeresek besar rambutan untuk dibagikan pada teman-temannya juga. Aku mau tak mau menemani Papa sebab Papa bilang ia ingin melatihku agar mau berbagi pada yang membutuhkan. Aku tidak keberatan berbagi, namun mengapa harus pada si bandit kecil itu, kesalku. Papa hanya tersenyum. Berbuat kebaikan jangan lihat orangnya tapi konteksnya, Sofia, kata Papa waktu itu. Aduh, Papa suka bicara dengan gaya bahasa berat yang sulit dicerna anak kecil. Apa semua orang dewasa memang rumit? Tapi bagaimana jika aku dewasa akankah ikut bergaya bicara rumit kayak Papa? David dan gengnya pernah diundang Papa untuk pesta rambutan namun tak nongol. Jadi Papa memilih mengantarkan rambutannya dari dulu sampai sekarang.
Jadi, apa yang dilakukan Papa sampai David ngomong Filo segala?
David seolah bisa membaca raut wajahku yang berkerut. “Selama ini aku hanya mengacau saja, Fi. Aku minta maaf. Juga terutama pada Anna.” David memandang kami bergantian.
“Tentu kamu tahu bagaimana katak bermetamorfosis, dari telur-berudu kecil-berudu besar-anak katak-lalu katak, jika aku tidak salah urai,” kata David. Aduh, pelajaran itu sih sudah kupahami benar dari acara TV juga. Namun Anna belum pernah melihat kecebong secara langsung seumur hidupnya.
“Aku tak mau selamanya jadi bandit,” David sepertinya tertohok dengan ucapanku tentang julukannya tempo hari lalu.
Aku tak bisa menahan senyumku padahal seumur hidup aku tak pernah tersenyum pada David. “Lalu?”
“Mungkin aku butuh teman seperti Filo, teman yang tulus dan berani meluruskan yang salah.” Suara David mengambang serak di udara sore yang kali ini hangat. Aku dan Anna saling berpandangan dan mengangguk.
“Ide bagus,” kataku. “Kita bisa jadi teman Filo dan melihat ia tumbuh alami mengikuti hukum alam, sepakat?” Aku memandang David dan Anna bergantian. Wajah David yang murung berubah ceria. Anna seperti lega, sepertinya kisah the menace tamat. Ya, semoga David jadi anak yang baik. Betapa mengerikannya bagi sebagian besar anak untuk hidup di bawah kendali orang lain berupa digencet. Semoga David benar-benar sadar.
Bertiga, kami mengamati Filo berenang bebas dalam kolamnya. Mungkin suatu saat ia akan melompati tepi aquarium sebagai katak yang merdeka.***
            Limbangan, 9 Januari 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D