Sabtu, 01 Februari 2014

Bandung, 11 Maret 2003



Bandung, 11 Maret 2003

Kang Cecep Syamsul Hari, Yth.

    Bukankah hujan itu indah, ia sumber inspirasi untuk kita ziarahi? Karena itulah Surat dalam Hujan  ditulis ketika saya merasa sangat  passion oleh stimung dengan hujan sebagai latar belakang yang memengaruhi aspek kejiwaan.
    Barangkali saat itu Chopin sedang memainkan partiturnya yang diinterupsi Mozart. Lalu Bach ikut ambil bagian. Lantas Beethoven dan Schubert pun ngotot ikutan. Kemudian mereka kompak memainkan harmonisasi dari berbagai komposisi. Ya, itulah Surat dalam Hujan dalam pandangan saya.
    Saya tidak tahu apakah saat Anda atau siapa saja membacanya; merasakan stimung macam itu? Yang saya rasakan kala membaca ulang adalah semacam ruh ketika saya berada di Limbangan. Sudah lama saya tidak pulang, sengaja demikian karena enggan. Namun Surat dalam Hujan senantiasa menghadirkan the past is the present wherever I were.
    Apakah hal macam itu Anda rasakan juga saat membaca ulang sajak Hujan Bulan November di antologi puisi Kenang-kenangan (yang kini lagi “piknik” pada Andi rekan kerja saya yang penggemar puisi meski tak merasa dirinya penyair sebagai pembaca biasa)? Wallahu’alam.
    Saya penyimak tulisan Anda, terutama di majalah Horison. Ulasan Anda tentang puisi dan cerpen sangat membantu sebagai bahan pembelajaran bagi saya yang sangat awam dalam dunia kepenulisan dan ingin terus belajar. Selain itu, insya Allah, saya akan berusaha memenuhi harapan untuk terus menulis selama  Tuhan masih memberi napas dan kekuatan yang tak saya sia-siakan demi mencapai esensi kehidupan akan rahasia Sang Maha Besar yang sangat menakjubkan dan senantiasa menggetarkan. (Ah, maafkan bahasanya.)
    Kadang saya berpikir apakah tulisan yang saya kirim ke Horison pun telah menginspirasi pengurusnya akan kinerja sampai estetika karya mereka? Seperti soal tenggat waktu yang 6 bulan. Itu ‘kan dulu waktu pertama kali saya mengirim tulisan ke Horison di sudut kiri amplopnya diberi topik sampai tenggat waktu, sesuai kebiasaan saya dalam setiap pengiriman agar memudahkan penyeleksian (terinspirasi dari ucapan Pak Tendy K. Somantri via telepon agar memberi batas waktu – yang saya kembangkan sendiri sesuai persepsi).
    By the way, sebelumnya keberatankah Anda jika saya berniat menulis banyak tentang dunia kepenulisan dalam imel ini? Mudah-mudahan tak terlalu menyibukkan.
    Lantas dalam salah satu esai Anda tentang puisi ketika mengulas sajak Cermin di bulan Januari 2003 ini, di sana Anda menulis tentang jalan sunyi menjadi penyair. Saya sempat tersenyum membacanya, dan memberi stabilo pada bagian itu agar saya (juga Andi yang sering saya pinjami aneka bacaan) mencamkannya. Jalan sunyi? Terima kasih, saya merasa seolah tulisan Anda menguatkan sekaligus mengingatkan akan hakikat kehidupan penyair yang penuh tikungan.
    Sejak mula saya sudah paham dunia itu. Apakah kesunyian yang saya reguk adalah semacam kekuatan akan cara pandang yang berbeda dalam menyikapi kesunyian dunia penyair yang berpendengaran normal? Saya tidak tahu. Tetapi semoga Anda benar bahwa suratan saya bisa saja semacam anugerah. Sebab jika tak seperti ini, bisa jadi jalan saya bukan di dunia menulis. Bisa jadi kehidupan saya malah tak tentu arah dalam kesempurnaan ragawi. Dan itu yang saya takutkan. Kadang saya merasa seperti dalam suasana yang sangat déjà vu jika mengingat saat di mana tiba-tiba “berbeda”. Seolah takdir telah mengharuskannya. Dan takdir pula menggharuskan saya menjalani ritus penyembuhan yang berakhir tanpa hasil. Sebenarnya ritus itu semacam pengalaman saja, jika saya telah berhasil melewatinya dan bisa menerimanya tanpa sesal. Baiklah jika demikian. Saya harus berusaha keras untuk lebih menerima diri sendiri dulu, sebab itulah semacam spirit agar orang lain pun bisa menerima saya apa adanya.
    Takdir itu aneh. Tidakkah Anda kadang merasa heran mengapa mendapati takdir sebagai penyair? Tetapi seorang penyair dalam sebuah keluarga menurut saya tidak berlebihan apalagi keterlaluan. Jika Anda bukan penyair, saya tak akan pernah mengenal Anda berikut karya-karyanya. Jika saya tak ditakdirkan memasuki dunia kepenulisan, Anda barangkali tak pernah punya bayangan akan sunyi yang lain dari sunyi yang selama ini Anda kenal.
    Sebenarnya jalan hidup saya pun tak mulus apalagi lurus – seperti para akhwat yang sangat agamis dan berasal dari keluarga yang terlindungi. Barangkali demikianlah jalan hidup penyair yang sebenarnya; mereguk kepahitan agar memahami esensi kehidupan. Dan sesekali menyerempet keluar jalur agar tahu apa itu kebenaran, toh pada akhirnya kita pun ingin kembali pada rel yang semestinya jika merasa sebagai manusia sejati. Demikianlah Kang Cecep Syamsul Hari, saya yakin Anda pasti tak terima jika harus meninggalkan dunia sastra yang Anda cintai demi ditukar dengan dunia lain yang lebih “kemilau”. Sebab bukankah kita menemui takdir dengan jalan “bergerak”. Dunia sastra terlalu kaya jika diukur dari segi materi. Maka saya tak keberatan lebih banyak output untuk itu, sebab nilai kehidupan rasanya teramat mahal jika kita berpengetahuan. Ya, life is beautiful and useful, demikanlah yang Pak Tendy camkan (bagi saya ia sokoguru karena bukan generasi Saini KM seperti Anda).
    Lewat dunia menulis dan membaca sastra, saya mengenal banyak kisah dan beragam budaya, karakter dan keunikannya, kawan dan rival, cinta dan luka, dan hal-hal lainnya yang memberi nuansa sepanjang usia. Sebab pada mulanya saya selalu merasa sendiri dan tak tahu apa-apa, namun lewat dunia menulislah tiba-tiba cakrawala saya terbuka lebar. Bumi Allah teramat luas, bukan?
    Kang Cecep/Syamsul/Hari (baiknya saya panggil apa?), saya senang bisa berinteraksi dengan Anda, sebagaimana saya berinteraksi dengan orang-orang yang sedunia. Terima kasih telah memberi suport dengan cerita Anda tentang Mozart. Sebab sebelumnya tidak pernah ada yang demikian. Tidak Indra kawan saya. Tidak juga almarhum ayah saya. Ia pasti merasa sebagai ayah yang gagal karena kalah daripada orang lain yang berhasil memberi keyakinan pada putrinya. Meskipun demikian, sepanjang hayat saya akan berusaha agar menjadi anak yang berhasil bukan pecundang yang pernah ia sangkakan. Ah, sajak Kahlil Gibran tentang anak senantiasa terngiang.
    Anda bukan pengagum Gibran? Saya bukan pembaca Gibran jadi tak bisa menilai dengan jujur untuk menyukainya atau tidak sama sekali. Tetapi jika Gibran tak pernah ada, sajak itu tak akan tercipta, dan saya barangkali tak mengenal makna pemberontakan selain jatuh cinta pada dunia kata-kata berupa sastra; seba kehidupan di luar pasti lebih ingar-bingar dan hampa makna jika tak mengenal kontemplasi. Dan sebagai ayah, Anda pasti tak akan memahami jiwa anak jika sajak itu tak Anda baca pula.
    Mengapa Tuhan begitu pintar sebab semuanya selalu berkelindan, dari manakah asal-Nya? Ah, cerpen Ayat-ayat Gelap, Hudan Hidayat (Horison, Februari 2003) pun seolah mewakili kegelisahan saya akan sekian pertanyaan yang terpendam. Itu cerpen yang bagus sebagai awal. Mudah-mudahan novelnya bisa berhasil nanti, sebab saya penasaran juga dengan pengembaraan spiritualnya.
    Pengembaraan spiritual Anda sendiri bagaimana?
    Terakhir, saya minta maaf karena belum meminta izin pada Anda sebab telah mengutip sajak Efrosina dan Meja Kayu dalam tulisan saya. Jadi, bersediakah Anda mengizinkan soal pengutipan itu? Mestinya saya menghubungi Anda dari dulu, namun tak tahu caranya dan bagaimana pengungkapannya. Maka dalam imel ini semoga mewakili keinginan lama, sebab saya tak ingin bernasib seperti Dewa yang digugat Yudhistira ANM Massardhie. Lagi pula, secara moral saya mesti mempertanggungjawabkan masalah pengutipan, sebagaimana yang majalah Annida tekankan juga.      
    Demikianlah Kang Cecep Syamsul Hari. Selamat malam dan terima kasih banyak atas waktu dan imel Anda, juga maaf saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjawabnya berhubung butuh konsep -- meski tiap bulan rajin ke warnet.
    Semoga kita terus berkarya. Amin 3X.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D