Minggu, 24 Desember 2017

Pretty Prita (2)



 

Serial Rohyati Sofjan


PRITA tak ingin menjadi model. Padahal ia memiliki segala tampilan yang disyaratkan dunia model. Cantik, tinggi semampai, langsing, seksi, anggun, dan jangan lupa camera face.
Prita, kata mamanya, sudah cantik sejak lahir, karena itu diberi nama Prita. Dan Armand hanya tersenyum mendengarkan penuturan beliau yang sedang menunjukkan koleksi album foto keluarga di ruang tamu rumah besar sekaligus asri dan rindang.
Ya, Prita memang cantik, lucu dan menggemaskan. Foto bayi itu montok dan imut. Prita kecil sudah memiliki mata yang indah dan hidung bangir. Belum lagi lekukan di dagunya. Dan Prita tahu bagaimana caranya agar tampil menarik. Namun tanpa dandan dan dalam penampilan seadanya ia tetap cantik. Barang bagus tetap kelihatan bagusnya meski tak dipoles berlebih.
“Sudah siap?” Prita muncul diiringi harum mawar menguar, keharuman yang lembut dan menyegarkan. Apalagi senyumnya yang menawan selalu menghiasi parasnya hingga tambah rupawan. Prita terlihat riang dan ceria. Ia pantas jadi model sampul majalah, pikir Armand muram. Namun dipaksakannya seulas senyum terkembang. Berdiri menyambut Prita, dan berpamitan pada mamanya.

“KITA akan ke mana?” Daihatsu Terrios hitam milik Armand baru saja meninggalkan pintu gerbang rumah Prita di kawasan Antapani.
“Ke mana saja.” Prita tertawa. “Kamu mengajakku pergi tanpa rencana. Jadi terserah kamulah, Mand!”
Armand menyeringai. Prita punya panggilan lain, biasanya ia dipanggil ‘Ar’ atau ‘Armand’. ‘Mand’ mungkin terdengar janggal, namun lidah Prita fasih melafalkannya dengan aksen yang terdengar kentara sangat Prancis. Harap maklum, Prita lahir dan besar di kota pusat mode dunia, Paris. Ayahnya bekerja di kedubes RI. Sekarang ayahnya sudah pensiun. Prita adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Dua kakak lelaki dan perempuan sudah berkeluarga. Kakak lelaki tinggal di Jakarta dan kakak perempuan di Paris.
Armand berpikir, Prita cantiknya mirip siapa? Seperti pacar Johny Depp? Tapi sial, ia lupa namanya. Bersama Prita, rasanya ia menjadi lelaki paling beruntung sedunia. Tiap jalan bersama Prita, semua mata akan terarah pada mereka. Sensasi yang tak pernah ia rasakan dengan Marisa. Namun ia tidak tahu apakah benar-benar beruntung.
“Kamu memandangku seakan sedang melakukan penilaian, ya, Mand?” Prita tersenyum.
“Demi Tuhan, kamu cantik sekali, tahu!”
“Oh!” Mata bulat besar Prita yang lentik membelalak lucu. “Terima kasih. Tapi apa ada yang salah?”
“Tadi mamamu bilang Prita tak ingin jadi model. Benar?”
“Mama benar. Males saja.”
Napa males?”
“Jadi model di sini cuma buang-buang waktu.”
“Buang waktu bagaimana, Sayang?”
“Aku tak mau dieksploitasi.”
Deg! Ada rasa tak enak merubung benak Armand. Prita memang mengucapkannya dengan nada lembut, namun sangat mengena.
“Dulu, di Paris aku pernah coba-coba jadi model iklan, aku mengerti bagaimana. Namun yang tak aku pahami, mengapa untuk cantik dan indah itu harus dibikin sengsara?  Aku tak boleh berjerawat, tak boleh kelebihan berat badan, tak boleh kusam, dan seabreg aturan lainnya yang membuatku kesal. Aku tak mau terbelenggu dalam mitos kecantikan yang diharuskan demi pemenuhan citra ideal dunia fesyen. Lucu saja. Aku berhenti. Dan aku bahagia menjadi diriku yang bebas merdeka.”
“Kamu menyindirku?”
Prita tertawa. “Jangan mengajuk, Sayang. Aku tak bermaksud menyindir profesimu.” Prita menjawil dagu Armand.
“Kamu ‘kan tahu motifku jadi model?” Armand berdalih.
“Ya, alasan pragmatis. Demi duit dan eksis. Aku hargai itu. Sungguh. Jangan tersinggung. Tapi aku kapok jadi model. Cukup jadi pacar seorang model saja.” Prita tergelak. Armand hanya bisa tersenyum kecut. Prita benar. Dengan jadi model, Armand yang dulunya bukan apa-apa kini telah sanggup mencicil mobil meski bekas.
Ia butuh mobil bukan untuk gengsi atau gaya-gayaan. Mobil adalah bagian dari mobilitasnya, selain BB dan iPad. Dan dengan mobil pula, ia bisa gantian dengan Sami dan Lian mengangkut Kelompok Delapan mereka ke mana saja suka-suka. Ah, sial. Mengapa ia masih ingat gengnya?
“Omong-omong, mengapa mantanmu ngotot jadi model?” Prita seakan mengingatkan lagi pada kenangan Armand akan teman-temannya. Sedang apa mereka sekarang? Jadikah ke lereng Gunung Salak? Bersenang-senang dan mengutuknya sebagai pengkhianat yang membelot dari “kiblat”. Dan Marisa, benarkah sudah putus? Kata itu belum terucapkan. Ia bahkan belum menjadi mantan pacar. Armand merasa tak nyaman.
“Risa?
“Aku tak begitu ingat namanya,” Prita angkat bahu.
“Mungkin karena ia kompetitif.” Sial, bayang-bayang Marisa kembali mengguncang benaknya. Mata basah Marisa kemarin ketika ribut-ribut bersama gengnya di sudut Jalan Paskal yang rindang. Seharusnya ia tak diingatkan pada gadis itu. Gadis yang sungguh tak ingin ia lukai. Aduh, Prita!
“Ia mengekormu untuk jadi model?”
Armand menggeleng. “Sejak kecil ia sudah terobsesi jadi model. Lucu, sejak kelas 1 SMP ia selalu mendaftar kontes cover-coveran. Tapi tak pernah menang.”
“Di mana letak salahnya?” Prita entah mengapa antusias.
“Mungkin belum beruntung saja. Tapi aku bersyukur ia tak kesampaian jadi model.”
“Kenapa?”
“Karena aku khawatir.”
“Khawatir?” Prita terheran-heran. “Kamu mengkhawatirkan ia jadi model. Apa ada artinya bagimu?” Nada suara Prita kentara sangat cemburu. Armand tersentak. Fokus mengemudinya buyar. Untung mereka berada di depan traffic light perempatan Jalan Jakarta-Kiaracondong.
 “Kamu tahu sendirilah seperti apa dunia model itu, Prita. Aku lebih suka ia kesampaian jadi sutradara asal jangan jadi model atau artis.”
“Kamu berkata seolah itu hal negatif baginya. Berarti kamu masih mencintainya?”
“Aduh, Prita, jangan menyudutkanku, dong!”
“Enggak!” Kata Prita enteng. Armand entah mengapa jadi kesal.
“Oke, harap dicatat. Risa sebenarnya layak jadi model, ia menguasai ilmu gesture, membuatnya luwes bergaya. Ia cantik meski tak secantikmu, Prita.”
Prita tersenyum, namun senyumnya hilang waktu Armand melanjutkan, “Aku selalu berdoa pada Tuhan agar ia jangan sampai jadi model jika hal itu tak baik untuk Risa.” Kalimat Armand panjang, tanpa tanda baca dan seolah dalam satu tarikan napas.
“Artinya kamu cinta Risa!”
Armand angkat bahu. Kok susah banget bicara dengan Prita, cantik tapi seakan mengajak berdebat mulu, membuatnya cenderung defensif. Diam-diam Armand berpikir apakah keputusannya untuk menjadikan Prita sebagai dalih agar ia bisa cabut dari Kelompok Delapan, merupakan keputusan tepat? Ia ingin cabut untuk suatu alasan. Sami!
Ya, ia lelah hidup berada di bawah bayang-bayang pengaruh Sami yang dominan. Sang Kepala Suku yang cerdas dan kharismatik. Armand selalu merasa dirinya aneh dan sendirian. Karena warna kulit dan latar belakangnya. Karena itulah ia bergabung dengan Kelompok Delapan sejak kelas 1 SMP, anak-anak aneh yang unik dan heboh, kadang jadi biang kerok. Namun Armand yang kalem hanya merasa sekadar cameo di antara 7 anggota lain seperti Uji, Keanan, Lian, dan si kembar Zara dan Zani.
Ia tahu dirinya rupawan, namun ia minder dengan asal-usulnya sebagai anak korban keluarga berantakan. Melihat latar belakang Sami, dan Marisa, yang lurus-lurus saja kadang membuatnya merasa tak berharga. Marisalah alasan utama ia bergabung dalam kelompok itu. Marisa adalah cinta pertamanya, bahkan sampai sekarang. Namun ia tidak tahan menyadari sesuatu. Perhatian Sami pada Marisa lebih dari sekadar kawan atau abang. Sami diam-diam mencintai Marisa. Dan itu rumit, jauh lebih rumit karena Marisa tidak menyadari dan lebih memilih dirinya sebagai pacar.
Armand tahu Sami kecewa namun tak menunjukkan. Tetap berlaku sebagai kawan dan sahabat yang baik. Namun diam-diam ia menyadari bahwa tekanan itu ada, tekanan yang muncul sejak awal masuk SMA, sesuatu yang disebut ego lelaki di masa pubernya.
Armand tidak tahan lagi. Pada suatu kesempatan ketika Sami mengajak kencan ganda dengan Prita, dan diiyakan Marisa yang antusias, Armand menyadari bahwa Sami tak sungguh-sungguh tertarik pada makhluk elok itu. Pun Prita seperti hanya sekadar having a fun dengan menerima ajakan Sami. Di saat ia menyadari bahwa perhatian Sami lebih pada Marisa, dan Prita seperti lebih tertarik pada dirinya. Armand merasa bisa memanfaatkan gadis itu!
Maka di sinilah sekarang, semobil dengan Prita yang tak ia tahu seperti apakah kepribadian aslinya. Merayakan kemerdekaan dari rasa sesaknya. Cemburu bahwa pacarnya diam-diam dicintai sang sahabat sudah di ambang batas, suatu saat bisa keluar dan meruyak.
Armand takut pada dampak perpecahan kelak. Jadi ia lebih memilih mundur sebagai pengkhianat. Ia tak mau membuat Marisa kebingungan dan hubungan kekeluargaan dengan Sami retak! Marisa dan Sami bertetangga dekat; rumah yang bersebelahan dan tumbuh besar bersama sejak batita hingga antarkeluarga sudah akrab.
Ia mencintai Marisa, namun tak pernah berpikir bahwa dengan sahabatnya akan mencintai gadis yang sama. Tidak, ia lebih memilih tidak melanjutkan peran itu. Mengalah demi Marisa. Mungkin saat ini Sami sedang melakukan pendekatan pada Marisa, tapi peduli setan, ia sudah lelah! Terserah Sami mau apa. Dan pula, ia ingin menguji kadar cinta Marisa. Tidakkah Marisa tahu, kala ia berbalik meninggalkan mereka di keramaian siang Bandung, matanya perih, ia ingin urung, namun egonya mengharuskan. Jadi ia pergi tanpa memalingkan kepala meski suara Marisa yang lirih menggetarkan udara tempatnya bernapas.
Apa yang diharapkannya kini? Armand bermain dalam alur pikirannya sendiri. Dilihatnya Prita seperti tak peduli, memasang earphone ipod dan memandang ke luar jendela dengan pandangan mengawang. Apakah gadis itu sedang melakukan penilaian terhadap hubungan kami? Armand hanya bisa menerka. Dalam kebisuan mobil meluncur membelah kemacetan jalanan Bandung di sore yang cerah. Namun Armand merasa hari begitu mendung.
Pun kehadiran seorang gadis cantik di sisinya adakah artinya jika kau tak sungguh-sungguh mencintai, apalagi menginginkannya? Armand tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Sendirian tanpa Kelompok Delapan. Ia tiba-tiba merasa kehilangan sesuatu yang bernama “kebiasaan” dalam pengembaraannya menemukan “kebebasan”.
Mobil merayap di jalanan padat. Armand merasa pepat. Bahkan seorang Prita yang pretty ternyata tak bisa memupus bayang Marisa barang sekejap!***
Loji, 8 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D