HOME/RUMAH

Selasa, 26 Agustus 2014

Asyiknya Berburu di Pameran Buku Bandung

TEMA LOMBA BLOG #PameranBukuBdg
1. Hari ke-1 [25 Agustus 2014]
Pernahkah teman-teman mengunjungi pameran? Pameran apa yang paling menarik yang pernah dikunjungi? Kenapa menarik? Bagaimana dengan pameran buku?
Apa yang membuat sebuah pameran buku menarik selain berburu diskon? Tulis opini/reportase berdasarkan pengalaman teman-teman, sekecil apapun pamerannya. :)

Asyiknya Berburu di Pameran Buku Bandung


BAGI bookaholic alias penggila buku, betapa menggairahkannya berkunjung ke pameran buku daripada pameran lain seperti pameran lukisan, misal. Pameran lukisan memang asyik, sayang cenderung sepi dan sarat kontemplasi. Cocok dinikmati kala masih lajang dan butuh ruang me time dengan sesuatu yang berbau seni untuk mem-booster­ spirit menulis lagi agar lebih peka. Pameran seni lukis yang pertama kali saya kunjungi ada di auditorium Gedung CCF de Bandung, Jalan Purnawarman, tahun 2004. Lukisannya bagus banget, dan kebetulan pelukisnya ada di sana. Ikut mengamati saya yang takjub dengan ekspresi senang. Sayangnya saya terlalu malu untuk berbincang mengenai lukisannya. Cuma bilang bagus saja dengan nada suara kagum. Soalnya suasana sepi dan saya satu-satunya yang berkunjung ke sana. Atmosfer demikian membuat saya tak PD atau kurang nyaman, tidak ajak teman, sih.
Berbeda 180 derajat kala berkunjung ke pameran buku, ramai banget, kayak pasar. Iyalah, pameran buku ‘kan merupakan pasar khusus dari penerbit yang tergabung dalam IKAPI Jabar bagi masyarakat pencinta buku untuk berkunjung secara nyaman. Kita diundang untuk berburu buku-buku baru atau yang lagi beken plus keren. Menuntaskan rasa kepo terhadap buku yang kita incar. Bayangkan, betapa asyiknya karena dalam satu gedung, berkumpul banyak penerbit keren, indie atau mayor, yang bisa kita pilih plus pilah buku terbitannya. Dan toko-toko buku beken juga turut buka stand. Kayak Mitra Ahmad yang pernah saya kunjungi di Pasar Palasari, Bandung.
Dengan kata lain, kita dimanjakan agar tak usah mutar-mutar keliling Bandung demi buku incaran. Cukup di satu tempat kayak Gedung Landmark, Jalan Braga, Bandung yang luas dan adem. Braga adalah jalan kenangan sepanjang masa saya. Menyusuri jalan kenangan sambil berburu buku berasa sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Berkenang-kenangan, berburu buku, sampai beroleh teman baru.
Yap, saya beroleh banyak hal dari pameran buku!
Pertama kali mengunjungi pameran buku di Gedung Landmark kala 3 SMU. Nekat banget, dari Limbangan, Garut ke Bandung pakai acara boongin orang rumah dengan ngatain akan nginap di rumah teman Cibiuk untuk Agustusan. Yeah, kala itu sebagai pelajar SMU, biasanya wajib isi absen di acara sebelum 17 Agustus untuk pawai sore yang dihadiri semua sekolah di kecamatan Limbangan. Pagi-pagi, 16 Agustus 1996, berangkat dari rumah dengan seragam lengkap, malah langsung ke terminal, naik angkot untuk ke Stasiun Cicalengka. Turun di Stasiun Bandung, kelimpungan cari lokasi gedungnya. Di perempatan Jalan Braga, dekat Restoran Maison Bogerijn, tanya seorang bapak sambil menyodorkan guntingan koran iklan pameran buku. Bapak itu bilang terus saja lurus ikuti jalan sampai bertemu gedungnya.
Wuih, meski kenal daerah Braga cukup baik karena lahir dan besar di Bandung, tapi tidak tahu nama gedung yang ada di sana. Berdebar-debar rasanya, takut kesasar. Untungnya kekhawatiran saya tidak perlu. Umbul-umbul dan banner pameran dipasang mencolok, memudahkan saya untuk tahu. Pameran belum buka, saya datang kepagian. Belum jam delapan. Menunggu di luar bareng beberapa pengunjung. Terus terang saya berdebar-debar, baru kali ini menghadiri acara pameran buku, pakai acara bohongi ortu, takut kepergok saudara.
Kekhawatiran yang tidak perlu, kebetulan itu hari terakhir pameran, suasananya masih lumayan sepi, saya nyaman menyusuri setiap stand yang ada. Berhasil menemukan buku ekonomi titipan teman dan sosiologi untuk saya di stand Penerbit GANECA EXACT BANDUNG, dapat diskon. Belanja beberapa majalah sains murah yang sekarang sayang tidak terbit lagi, Etos. Sayangnya saat itu belum ada acara pendukung pameran seperti sekarang, jadi terasa sepi.
Dibandingkan dengan dulu, saya merasa pameran kedua yang diikuti pada tahun 2000 lebih seru. Ada panggung untuk event lomba, bedah buku, seminar, atau hiburan seni berkat peranserta Yayasan Jendela Seni Bandung. Pengunjung jadi leluasa duduk menyimak sambil istirahat. Dari pagi sampai malam acaranya. Dari jam buka sampai tutup.
Disadari atau tidak, event semacam itu memberi nilai lebih pada pameran buku. Memperseru suasana. Saya bahkan bisa kenalan dengan orang yang duduk di sebelah. Teman baru yang ikut lomba atau sekadar menonton acara. Mengobrol ringan. Rasanya betah main ke pameran buku, selain bisa beli buku murah hasil diskonan, bisa dapat buku langka yang saya idamkan.
Pernah, loh, di stand Mizan, saya bersorak girang begitu menemukan buku Teras Terlarang karya Fatima Mernissi yang sudah lama diincar. Pas tanya harganya, penjaga bilang agar lihat sampul belakang. Saya bengong begitu lihat harganya. Cuma Rp7000! Harga aslinya Rp28400.
Wuih, belanja di sana selalu dapat diskonan. Dapat buku idaman yang saya kira sudah tak ada lagi karena terbitan lama. Sejak itulah, dari tahun 2000 sampai 2003 saya selalu menghadiri acara pameran buku di Gedung Landmark. Sayangnya sejak 2004 sampai sekarang tidak bisa lagi menyambangi hal demikian, pulang kampung dan status keuangan pas-pasan untuk borong buku secara elegan, hehe. Bisanya beli secara online ke penerbitnya atau teman.
Saya sungguh sangat-sangat-sangat rindu acara demikian, hadir di pameran buku bukan sekadar belanja semata. Bisa bersua dengan beberapa persona yang telah lama dikenal atau kenalan baru yang kebetulan nongkrong di kursi untuk panggung acara. Mengobrol dan tertawa adalah hal menyenangkan bagi saya. Pernah, teman saya, Rusi Hartati, yang pegiat Yayasan Jendela Seni Bandung, betah nongkrong dari pagi sampai malam, sejak jam buka sampai tutup. Kebetulan banyak acara seru di sana. Lomba fesyen atau menggambar dan mewarnai untuk anak-anak, bedah buku dan sign book, seminar, teater, baca puisi, sampai lomba seni lainnya untuk pelajar, mahasiswa dan umum. Lapar? Jangan khawatir, ada stand jajanan, plus di luar banyak tempat makan sampai gerobak mamang gorengan.
Bagi saya, pameran buku Bandung di Gedung Landmark, Braga tidak sekadar pasar buku semata, sudah terlalu banyak pasar buku berikut toko buku murah, yang terpenting lagi adalah suasananya yang membuat pengunjung betah. Bahkan yang baru berkunjung jadi kecanduan untuk datang dan datang lagi. Sekadar belanja atau main saja.
Titik utama dari pameran adalah acara penunjangnya, dan itu butuh penyelenggara acara alias even organizer yang apik dan kompak kinerjanya.
Semoga saja kelak saya ada rezeki lumayan untuk menyambangi Bandung tercinta demi main dari pagi sampai malam bareng anak dan suami di pameran buku. Saya ngiler, loh, dengan buku anak sampai mainan edukatif yang biasa ada di sana. Pernah lihat ensiklopedia untuk anak kala masih lajang main di stand sana, sayang harganya belum terjangkau ukuran dompet saya, hehe.
Ah, betapa saya sangat rindu pameran buku. Sering patah hati kala beberapa pameran terpaksa terlewati untuk dihadiri. Saya suka suasananya yang tak diperoleh di toko buku besar macam Gramedia, misal. Kehangatan dalam keriuhan!

Limbangan, Garut, 26 Agustus 2014 







#PameranBukuBdg2014


Selasa, 12 Agustus 2014

Panduan Bahagia Sepondok dengan Mertua (Pondok Mertua Indah-Nunung Nurlaela)




Pernikahan merupakan penyatuan dua insan dalam suatu lembaga yang disahkan secara agama dan negara. Namun pernikahan tidak sekadar penyatuan dua insan dan dua hati semata, tetapi juga penyatuan dua keluarga yang berbeda latar belakangnya. Intinya, menikah bukan saja urusan pasangan suami-istri, pihak keluarga masing-masing pasangan pun berperan. Tak jarang konflik dan ketidakharmonisan terjadi dalam keluarga, yang berpengaruh pada retaknya hubungan antara suami-istri (hlm. 4).

Oleh ROHYATI SOFJAN


DATA BUKU      :  Pondok Mertua Indah, 101 Cara Hidup Bahagia Bersama Mertua
PENULIS          : Nunung Nurlaela
PENERBIT        : Gramedia Pustaka Utama
CETAKAN         : Pertama, 2014
TEBAL             : ix + 148 halaman
ISBN              : 978-602-03-0200-3
HARGA            : Rp40.000

ADAKALANYA setelah menikah pasangan suami-istri terpaksa tinggal serumah dengan mertua karena disebabkan beberapa hal seperti: belum mampu membeli rumah sendiri; tidak ada dana atau belum menemukan rumah kontrakan yang cocok; pekerjaan, seperti tempat kerja dekat dengan rumah mertua; kemauan salah satu pasangan; karena keinginan mertua; dan beberapa penyebab lainnya.
Buku Pondok Mertua Indah (PMI) memaparkan 101 Cara Hidup Bahagia Bersama Mertua. Nunung Nurlaela sebagai pelaku sepondok dengan mertua memandu kita untuk mendalami esensi kehidupan, bahwa tinggal seatap dengan mertua bukanlah hal menyeramkan jika kita bisa menyiasatinya. Dan inti utamanya adalah meluruskan niat.
Meluruskan niat bahwa kita tinggal di rumah mertua semata karena ikhlas ingin menghormati, berbakti, dan berbuat baik kepada mereka. Adapun berbakti kepada mertua merupakan kewajiban kita. Berbuat baik kepada mertua sama wajibnya dengan berbuat baik kepada orangtua kita (hlm. 17).
Tentunya jika sepondok dengan mertua ada hal baik dan buruk, namun dibutuhkan kebesaran hati kita yang terlibat di dalamnya untuk mengelola perasaan agar harmonisasi bisa terjaga.
Jika fokus pada hal baik kita bisa belajar tentang pengalaman dari mertua,  memudahkan interaksi, merasa tenang dalam hal tertentu, dan menguatkan hubungan dua keluarga.
Meskipun demikian, tak bisa menisbikan hal buruk seperti memiliki perasaan masih sebagai anak dan bukan kepala keluarga; kurang nyaman dengan adanya anggota keluarga lain; tidak bisa mengambil keputusan sendiri; manja dan cenderung bergantung; dan kurang percaya diri.
PMI dibagi dalam 3 bab. Jika bab pertama mengenai profil menantu dan mertua secara umum, maka bab 2 yang merupakan isi buku memuat 25 motivasi dan tip sederhana ketika tinggal dengan mertua. Sedangkan bab 3 berisi penutup yang esensi utamanya ada pada sabar, nikmati, syukuri, yakini, dan introspeksi. 
Nunung Nurlaela telah berupaya keras berbagi hasil pengalaman dari pengamatan sekitar, tidak heran Felix Siauw memuji dengan, “Pembahasan Mbak Nunung asyik, lengkap, tak menggurui tapi tetap bernilai, dan memberi solusi.”
Dalam bab 2 Nunung memandu kita untuk bisa mengatasi sekian kasus KETIKA. Ada 25 motivasi dan tip untuk menghadapinya. Ketika baru menikah dan resmi sebagai penghuni PMI tentu kita alami hal seperti merasa asing dan serba salah. Solusi: kenali keluarga baru Anda, dan beradaptasilah; cermati, pelajari, tanyakan, dan lakukan.
Bekerja dan tidak bekerja pun kerap menjadi masalah, namun sebaiknya komunikasikan dengan baik. Ketika bekerja: aturlah, jadi yang terbaik, dan memberi. Ketika tidak bekerja: berceritalah, beri alasan, berusaha mandiri dan kreatif, serta jangan jadi parasit.
Tentunya masih banyak kasus KETIKA lainnya yang harus kita atasi dengan baik. Apakah mertua kepo, egois, mengomel, pilih kasih, berbeda keyakinan, tak merestui Anda, atau masih memanjakan pasangan kita.
Atau hal lain seperti berbagi dapur, berbeda pendapat, berkonflik dengan anggota keluarga, aturan jika ke luar kota, menyambut hari raya, bergaul dengan tetangga, bicara tentang uang, tidak dipercaya lagi. Atau masalah buah hati yang tak kunjung hadir maupun ketika hamil dan buah hati lahir. Plus bagaimana cara mendidik buah hati dalam keadaan ber-PMI.
Belum lagi hal pelik lainnya ketika sakit, ada yang dipanggil Sang Pencipta, sampai keputusan bercerai harus diambil.
Nunung menawarkan beragam solusi dari contoh kasus yang diilustrasikan. Dan intisari utamanya adalah kesabaran. Bukan perkara yang mudah sabar itu, yang jelas bukan asal sabar. Ada panduannya. Seperti kasus ketika buah hati tak kunjung hadir, yang kita butuhkan adalah sabar, saling mendukung, berdoa, dan jangan berhenti berusaha (hlm. 86).
Memang tak enak alami pertanyaan gencar dari pihak keluarga, teman, sampai tetangga tentang momongan. Beruntunglah jika punya mertua bijak. Jika tidak, maka menantu akan minder, mertua tidak sabar, dan akibatnya suami jadi galau. Amat buruklah jika suami ambil jalan mudah yang ternyata salah.
Ada banyak faktor dalam kehidupan. Hukum sebab-akibat seharusnya bisa membukakan perspektif kita, bahwa posisi menantu dan mertua merupakan kesejajaran bukan ketimpangan seperti yang selama ini telah distigma. Maka jadikanlah hidup sepondok bersama mertua merupakan bagian dari keseharian yang wajar dan tanpa tekanan.
Tentunya buku Pondok Mertua Indah bisa memandu kita untuk mewujudkannya.
“Menikmati kebersamaan dengan mertua menjadikan Anda lebih bijak, lebih hebat, dan lebih kuat serta membuat hubungan dengan mertua semakin erat. Rasa cinta pasangan Anda pun akan semakin besar dan kuat.” (Hlm. 137)***
Cipeujeuh, 21 April 2014



#ResensiBuku #PanduanBahagiaSepondokdenganMertua #NunungNurlaela

Lakon Muram Ririn Rahayu Astuti Ningrum




Cerpen memberi keleluasaan pada penulisnya untuk mengeksplorasi bahasa, menggali kekayaan kata dari khasanah peristiwa, sesuai budaya lokal yang dianutnya. Demikianlah Ririn Rahayu Astuti Ningrum menulis kumcer Kitab Gangpitu dengan indah sekaligus sarat filosofis.

Oleh ROHYATI SOFJAN


DATA BUKU      : Kitab Gangpitu
PENULIS          : Ririn Rahayu Astuti Ningrum
PENERBIT        : Pustaka Nusantara
CETAKAN         : Pertama, Oktober 2013
TEBAL             : 127 Halaman
ISBN              : 978-602-7645-12-7
HARGA            : RP34.500,-
RIRIN mempersembahkan sepilihan cerpen yang ditulis dari tahun 2012-2013 dengan nada muram, kebanyakan memotret permasalahan yang menimpa orang terpinggirkan karena nasib, status sosial, bahkan kisruh politik.
Ada banyak cerpenis yang berusaha eksis dengan ciri khasnya, termasuk Ririn. Aroma kebudayaan Jawa sangat kental terasa, dari ujaran sampai tindakan. Dengan bahasa sastra sarat simbolisme, Kitab Gangpitu layak kita perhitungkan sebagai kumcer yang menyorot persoalan hidup dalam perspektif perempuan, memandang masa lalu sebagai bagian dari kekinian.
Ada banyak benturan di kumcer itu. Ajaran agama dibalut dalam mitos kitab Kalimasada versus kitab Gangpitu sebagai ajaran terlarang yang bisa membangkitkan amuk Nogo Samber Jiwo,  seperti dalam cerpen “Kitab Gangpitu”.  Bagi kita yang berada di luar budaya Jawa atau tak mengakrabinya, pasti asing dan tak paham soal kitab Kalimasada, bagian dari Kejawen  (ajaran asli leluhur tanah Jawa yang belum terkena pengaruh budaya luar, sebelum budaya Hindu dan Budha masuk).
Di dalam sana, Eyang Resi dan para Pakubumi merapal mantra Kalimasada. Sepenuh jiwa. Syahdu. Silu. Hanya itu yang mampu mereka lakukan untuk menahan Nogo Samber Jiwo dalam lelap peraduan. Mereka terus merapal, siang dan malam hingga suara tak lagi keluar. Mereka terus membaca hingga perlahan lebur dalam keheningan. Abadi. Moksa. Tinggallah enam buah Kitab Kalimasada di atas meja batu bundar. Tak terjamah, berdebu, penuh sawang. Buram.
Dan di negeri Sokoroso, khutbah terus berlanjut Suara hentakan-hentakan dan rapalan mantra Kitab Gangpitu menggelora. Orang-orang bersorak merayakan penghormatan. Dengan tawa berderai-derai mereka ikuti setiap gerak Sang Gae Odo-Odo sebagai bentuk penyucian jiwa model baru, meninggalkan kekunoan yang diajarkan Eyang Resi. Seluruh negeri bergetar karenanya. (Hal. 63)
Lalu apa yang terjadi dengan negeri itu? Sebuah umpama yang bagus mengenai negeri kita sendiri. Campuran mitos dan kekinian diramu Ririn dengan apik.
Dalam “Teror Kala Bendu”, masih menyorot budaya Jawa. Betapa Kala Bendu dianggap sebagai oknum perusak anak gadis agar terjerumus pada perzinaan akibat pacaran yang kebablasan, hingga hamil dan membunuh bayi tak berdosa begitu lahir. Peristiwa itu bukan hanya sekali. Bunuh diri atau penjaralah pilihan akhir mereka.
Lagi-lagi, dari sarangnya yang hitam, Kala Bendu menyaksikan tangisan Putri dengan gelegak tawa kemenangan. Satu lagi masa depan berhasil dia telan. Puas meretas. Bertimpas-timpas! (Hal. 73)
Perempuan adalah subjek sekaligus objek utama cerita Ririn. Yang terperangkap stigma masyarakat karena predikat (“Bapak untuk Zahra”); yang beroleh khianat (“Anafora Pengkhianatan”); yang menyaksikan perjuangan ayah (“Kasih Tak Bertepi”); yang melahirkan anak saleh (“Sandal Jepit Pak Haji”); yang berjuang demi anak semata wayang (“Sepotong Mimpi Buat Emak”);  yang terjerumus popularitas hingga abai menerapkan ajaran kitab Kalimasada (“Ledi Gigi, Mati!”); yang mencintai tradisi batik Tulungagung (“Perempuan yang Menggandrungi Gajah Mada”); yang dijual suaminya (“Perempuan yang Tubuhnya Tergadai”).
Masih ada lagi kegetiran Ririn dalam “Iman yang Terkoyak”, sosok pemuka agama terjerembab dalam jurang maksiat; “Seorang Anak yang Menggadaikan Ibunya”, potret muram wajah bangsa kita terhadap tanah air Indonesia, dililit kelindan utang tak berkesudahan; dan “Kisruh Bethara Kala di Astinapura”, adalah cerminan bagaimana sesungguhnya pemimpin dan anggota dewan kita sekarang.
Kritik sosial dan politik Ririn dengan perspektif sastra yang indah sekaligus menggugah. Untaian bahasanya akan membuat kita kewalahan jika tak terbiasa. Kalimat puitis berhamburan. Betapa ia kaya kosakata, menggali timbunan kata yang barangkali jarang dipakai selain hanya teronggok sepi dalam lembar demi lembar halaman Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jawa adalah akar budayanya, maka cerita wayang sampai kejawen berikut antropologi masyarakat Jawa dipaparkan dengan fasih. Sebagaimana fasihnya ia memaknai cinta dan nafsu mesti berdampingan secara seimbang bukannya salah satu dominan. “Syahwah dan Mahabbah” adalah gambaran diri kita untuk becermin.
Adapun hal yang harus diperhatikan ke depannya bagi Ririn Rahayu Astuti Ningrum dan penerbit Pustaka Nusantara: penyuntingan yang apik!  Jangan sampai karya bagus jatuh karena abai kaidah gramatika. Ada banyak ketidaksesuaian EYD yang mengganggu. Semoga bisa lebih maju.(*)
Cipeujeuh, 3 Maret 2014



#ResensiBuku #KitabGangpitu #RirinRahayuAstutiNingrum

Lompatan Absurditas Kenangan






Jika orang Jawa punya filosofi, “Urip mung mampir ngombe.” Barangkali hidup memang cuma untuk mampir minum, sekejapan saja, mereguk sesuatu agar dahaga terpenuhkan. Dan Sidik Nugroho dalam novel Surga di Warung Kopi memiliki filosofi tersendiri: hidup cuma mampir ngopi!

Oleh Rohyati Sofjan


DATA BUKU      : Surga di Warung Kopi
PENULIS          : Sidik Nugroho
PENERBIT        : Bhuana Sastra
CETAKAN         : Pertama, Januari 2014
TEBAL             : X + 141 Halaman
ISBN              : 978-602-249-480-5

DI warung kopi, semua orang datang dan pergi. Di warung kopi, tidak sedikit manusia yang menciptakan surga kecil barang sesaat untuk dirinya.
Lewat sebuah kejadian tak terduga, suatu ketika Iwan berada dalam dunia antara hidup dan mati. Ia bertemu dengan pacar, kawan-kawan, dan ayahnya yang telah tiada. Pertemuan-pertemuan itu terjadi di warung kopi -- kenangan demi kenangan pun bermunculan. Kenangan-kenangan itu melahirkan kebahagiaan -- mendatangkan surga di hati Iwan.
Memento Mori, semua manusia pasti mati. Semua manusia akan menuju liang lahat, lalu pindah ke alam lain. (Halaman belakang sampul buku.) 
Di dunia ini, betapa sering kita lupa bisa menciptakan surga tersendiri, meski dari hal-hal kecil. Lebih sering kita menciptakan neraka dalam diri, yang menggerogoti.
Sidik Nugroho mengajak kita menyelami arti secangkir kopi dan warung kopi dari tokoh bernama Iwan. Menjelajahi ruang-ruang kenangan, pertemuan dengan mereka yang telah meninggal. Dan warung kopi adalah panggung untuk memampangkan pertunjukan silam dari tokoh demi tokoh yang telah memberi Iwan kenangan.
Cerita dimulai dari tiga babak pertemuan di warung kopi antara Iwan dengan Yanto sahabat masa kecilnya, Naning yang pernah dipacarinya, dan Pak Johny sahabatnya di gereja. Ada lompatan absurditas kenangan yang lembut di sana. Warung kopi sekejap bisa berubah tempat menjadi Singkawang di Kalimantan Barat kala bersama Yanto; padahal sebelumnya Iwan di Batu, Jawa Timur.  Ketika Yanto pergi, datanglah Naning menggantikannya di warung kopi itu, dan pertemuan berubah tempat menjadi restoran Amsterdam. Setelah Naning pergi lalu muncullah Pak Johny. Semuanya seperti mimpi dalam mimpi. (Hal. 21)
Iwan mulai menyadari suatu hal ketika bertemu dengan Pak Johny. Kenangan. Ya, mereka semua membangkitkan kenangan. Yanto, Naning,  dan Pak Johny… mereka hanya duduk-duduk saja. Mereka tak bicara, tapi dengan cara yang sulit dijelaskan, mereka datang membawa kenangan ketika Iwan menatap wajah atau mata mereka. (Hal. 41)
Meski pertemuan dalam warung kopi hanya dilakukan dalam diam yang asing, namun kilas balik cerita bergulir. Ada filosofi dalam campuran hal lucu, pahit, manis, sampai getir.
Tentang pendeta sakti yang pernah mencoba membangkitkan orang mati tapi gagal. Tentang rasa takut Pak Johny pada kaum hantu karena waktu kecil sering dicekoki cerita mistis oleh kedua orangtuanya. Tentang asal mula Pontianak (atau Puntianak)  yang disebut kota angker, karena konon merupakan singkatan dari perempuan mati beranak.
Namun ada hal yang sangat menggugah dari Pak Johny kala berbincang dengan Iwan. Orang yang kehilangan harapan! “Orang seperti ini tidak takut dipecat dari pekerjaannya. Tidak takut ditinggalkan kekasih, sahabat, atau keluarganya. Tidak takut pada bahaya, penjara, atau kematian. Tidak takut pada hantu berwajah paling buruk sekalipun. Tidak ada ketakutan lagi dalam hatinya, karena tidak ada lagi harapan di sana.” (Hal. 46).
Harapan adalah esensi dasar manusia demi menjaga martabat kehidupan. Dari harapan itulah kita bisa mewujudkan cita. Sebelum maut merenggut.
Ya, hidup yang singkat ini akan mempertemukan kita dengan: Walaupun telah tiada, ada seseorang yang terus hidup di benak kita karena kenangan indah yang telah ditinggalkannya. Walaupun masih hidup, ada seseorang yang telah mati di benak kita karena luka yang ditorehkannya. (Hal. 74)
Ada teka-teki yang diantarkan sosok Teguh, tentang berada di dimensi manakah hidup Iwan sebenarnya. Apakah ia memasuki alam kematian dan bertemu dengan orang-orang yang telah pulang, karena absurditas melingkari lakon Iwan. Ia tidak lagi di warung kopi sederhana, berada di ruang luas yang entah apa dengan peti mati terbuka. Lalu siapakah di dalam peti mati itu?
Demikianlah Sidik Nugroho dengan lembut menjalin kelindan cerita tentang kematian yang sering kita abaikan. Kita abai bahwa si mati pernah memberi hidup dan warna pada orang-orang di sekitarnya. Biografi dalam warung kopi yang penuh teka-teki beroleh jawab pada bab epilog. Penutup tentang cerita yang masih akan mengurai cerita. Ada hidup yang menyala!(*)
Cipeujeuh, 10 Maret 2014

#Resensi #SidikNugroho #SurgadiWarungKopi #Buku



#ResensiBuku #SurgadiWarungKopi #SidikNugroho