HOME/RUMAH

Senin, 25 Agustus 2014

Asyiknya Berburu di Pameran Buku Bandung

TEMA LOMBA BLOG #PameranBukuBdg
1. Hari ke-1 [25 Agustus 2014]
Pernahkah teman-teman mengunjungi pameran? Pameran apa yang paling menarik yang pernah dikunjungi? Kenapa menarik? Bagaimana dengan pameran buku?
Apa yang membuat sebuah pameran buku menarik selain berburu diskon? Tulis opini/reportase berdasarkan pengalaman teman-teman, sekecil apapun pamerannya. :)

Asyiknya Berburu di Pameran Buku Bandung


BAGI bookaholic alias penggila buku, betapa menggairahkannya berkunjung ke pameran buku daripada pameran lain seperti pameran lukisan, misal. Pameran lukisan memang asyik, sayang cenderung sepi dan sarat kontemplasi. Cocok dinikmati kala masih lajang dan butuh ruang me time dengan sesuatu yang berbau seni untuk mem-booster­ spirit menulis lagi agar lebih peka. Pameran seni lukis yang pertama kali saya kunjungi ada di auditorium Gedung CCF de Bandung, Jalan Purnawarman, tahun 2004. Lukisannya bagus banget, dan kebetulan pelukisnya ada di sana. Ikut mengamati saya yang takjub dengan ekspresi senang. Sayangnya saya terlalu malu untuk berbincang mengenai lukisannya. Cuma bilang bagus saja dengan nada suara kagum. Soalnya suasana sepi dan saya satu-satunya yang berkunjung ke sana. Atmosfer demikian membuat saya tak PD atau kurang nyaman, tidak ajak teman, sih.
Berbeda 180 derajat kala berkunjung ke pameran buku, ramai banget, kayak pasar. Iyalah, pameran buku ‘kan merupakan pasar khusus dari penerbit yang tergabung dalam IKAPI Jabar bagi masyarakat pencinta buku untuk berkunjung secara nyaman. Kita diundang untuk berburu buku-buku baru atau yang lagi beken plus keren. Menuntaskan rasa kepo terhadap buku yang kita incar. Bayangkan, betapa asyiknya karena dalam satu gedung, berkumpul banyak penerbit keren, indie atau mayor, yang bisa kita pilih plus pilah buku terbitannya. Dan toko-toko buku beken juga turut buka stand. Kayak Mitra Ahmad yang pernah saya kunjungi di Pasar Palasari, Bandung.
Dengan kata lain, kita dimanjakan agar tak usah mutar-mutar keliling Bandung demi buku incaran. Cukup di satu tempat kayak Gedung Landmark, Jalan Braga, Bandung yang luas dan adem. Braga adalah jalan kenangan sepanjang masa saya. Menyusuri jalan kenangan sambil berburu buku berasa sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Berkenang-kenangan, berburu buku, sampai beroleh teman baru.
Yap, saya beroleh banyak hal dari pameran buku!
Pertama kali mengunjungi pameran buku di Gedung Landmark kala 3 SMU. Nekat banget, dari Limbangan, Garut ke Bandung pakai acara boongin orang rumah dengan ngatain akan nginap di rumah teman Cibiuk untuk Agustusan. Yeah, kala itu sebagai pelajar SMU, biasanya wajib isi absen di acara sebelum 17 Agustus untuk pawai sore yang dihadiri semua sekolah di kecamatan Limbangan. Pagi-pagi, 16 Agustus 1996, berangkat dari rumah dengan seragam lengkap, malah langsung ke terminal, naik angkot untuk ke Stasiun Cicalengka. Turun di Stasiun Bandung, kelimpungan cari lokasi gedungnya. Di perempatan Jalan Braga, dekat Restoran Maison Bogerijn, tanya seorang bapak sambil menyodorkan guntingan koran iklan pameran buku. Bapak itu bilang terus saja lurus ikuti jalan sampai bertemu gedungnya.
Wuih, meski kenal daerah Braga cukup baik karena lahir dan besar di Bandung, tapi tidak tahu nama gedung yang ada di sana. Berdebar-debar rasanya, takut kesasar. Untungnya kekhawatiran saya tidak perlu. Umbul-umbul dan banner pameran dipasang mencolok, memudahkan saya untuk tahu. Pameran belum buka, saya datang kepagian. Belum jam delapan. Menunggu di luar bareng beberapa pengunjung. Terus terang saya berdebar-debar, baru kali ini menghadiri acara pameran buku, pakai acara bohongi ortu, takut kepergok saudara.
Kekhawatiran yang tidak perlu, kebetulan itu hari terakhir pameran, suasananya masih lumayan sepi, saya nyaman menyusuri setiap stand yang ada. Berhasil menemukan buku ekonomi titipan teman dan sosiologi untuk saya di stand Penerbit GANECA EXACT BANDUNG, dapat diskon. Belanja beberapa majalah sains murah yang sekarang sayang tidak terbit lagi, Etos. Sayangnya saat itu belum ada acara pendukung pameran seperti sekarang, jadi terasa sepi.
Dibandingkan dengan dulu, saya merasa pameran kedua yang diikuti pada tahun 2000 lebih seru. Ada panggung untuk event lomba, bedah buku, seminar, atau hiburan seni berkat peranserta Yayasan Jendela Seni Bandung. Pengunjung jadi leluasa duduk menyimak sambil istirahat. Dari pagi sampai malam acaranya. Dari jam buka sampai tutup.
Disadari atau tidak, event semacam itu memberi nilai lebih pada pameran buku. Memperseru suasana. Saya bahkan bisa kenalan dengan orang yang duduk di sebelah. Teman baru yang ikut lomba atau sekadar menonton acara. Mengobrol ringan. Rasanya betah main ke pameran buku, selain bisa beli buku murah hasil diskonan, bisa dapat buku langka yang saya idamkan.
Pernah, loh, di stand Mizan, saya bersorak girang begitu menemukan buku Teras Terlarang karya Fatima Mernissi yang sudah lama diincar. Pas tanya harganya, penjaga bilang agar lihat sampul belakang. Saya bengong begitu lihat harganya. Cuma Rp7000! Harga aslinya Rp28400.
Wuih, belanja di sana selalu dapat diskonan. Dapat buku idaman yang saya kira sudah tak ada lagi karena terbitan lama. Sejak itulah, dari tahun 2000 sampai 2003 saya selalu menghadiri acara pameran buku di Gedung Landmark. Sayangnya sejak 2004 sampai sekarang tidak bisa lagi menyambangi hal demikian, pulang kampung dan status keuangan pas-pasan untuk borong buku secara elegan, hehe. Bisanya beli secara online ke penerbitnya atau teman.
Saya sungguh sangat-sangat-sangat rindu acara demikian, hadir di pameran buku bukan sekadar belanja semata. Bisa bersua dengan beberapa persona yang telah lama dikenal atau kenalan baru yang kebetulan nongkrong di kursi untuk panggung acara. Mengobrol dan tertawa adalah hal menyenangkan bagi saya. Pernah, teman saya, Rusi Hartati, yang pegiat Yayasan Jendela Seni Bandung, betah nongkrong dari pagi sampai malam, sejak jam buka sampai tutup. Kebetulan banyak acara seru di sana. Lomba fesyen atau menggambar dan mewarnai untuk anak-anak, bedah buku dan sign book, seminar, teater, baca puisi, sampai lomba seni lainnya untuk pelajar, mahasiswa dan umum. Lapar? Jangan khawatir, ada stand jajanan, plus di luar banyak tempat makan sampai gerobak mamang gorengan.
Bagi saya, pameran buku Bandung di Gedung Landmark, Braga tidak sekadar pasar buku semata, sudah terlalu banyak pasar buku berikut toko buku murah, yang terpenting lagi adalah suasananya yang membuat pengunjung betah. Bahkan yang baru berkunjung jadi kecanduan untuk datang dan datang lagi. Sekadar belanja atau main saja.
Titik utama dari pameran adalah acara penunjangnya, dan itu butuh penyelenggara acara alias even organizer yang apik dan kompak kinerjanya.
Semoga saja kelak saya ada rezeki lumayan untuk menyambangi Bandung tercinta demi main dari pagi sampai malam bareng anak dan suami di pameran buku. Saya ngiler, loh, dengan buku anak sampai mainan edukatif yang biasa ada di sana. Pernah lihat ensiklopedia untuk anak kala masih lajang main di stand sana, sayang harganya belum terjangkau ukuran dompet saya, hehe.
Ah, betapa saya sangat rindu pameran buku. Sering patah hati kala beberapa pameran terpaksa terlewati untuk dihadiri. Saya suka suasananya yang tak diperoleh di toko buku besar macam Gramedia, misal. Kehangatan dalam keriuhan!

Limbangan, Garut, 26 Agustus 2014 







#PameranBukuBdg2014


Selasa, 12 Agustus 2014

[RESENSI] Panduan Bahagia Sepondok dengan Mertua (Pondok Mertua Indah-Nunung Nurlaela)



BUKU

Panduan Bahagia Sepondok dengan Mertua

OLEH ROHYATI SOFJAN


DATA BUKU
Judul              :  Pondok Mertua Indah, 101 Cara Hidup Bahagia Bersama Mertua
Penulis            : Nunung Nurlaela
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan          : Pertama, 2014
Tebal              : ix + 148 halaman
ISBN               : 978-602-03-0200-3
Harga             : Rp40.000


Pernikahan merupakan penyatuan dua insan dalam suatu lembaga yang disahkan secara agama dan negara. Namun pernikahan tidak sekadar penyatuan dua insan dan dua hati semata, tetapi juga penyatuan dua keluarga yang berbeda latar belakangnya. Intinya, menikah bukan saja urusan pasangan suami-istri, pihak keluarga masing-masing pasangan pun berperan. Tak jarang konflik dan ketidakharmonisan terjadi dalam keluarga, yang berpengaruh pada retaknya hubungan antara suami-istri (hlm. 4).
Adakalanya setelah menikah pasangan suami-istri terpaksa tinggal serumah dengan mertua karena disebabkan beberapa hal seperti: belum mampu membeli rumah sendiri; tidak ada dana atau belum menemukan rumah kontrakan yang cocok; pekerjaan, seperti tempat kerja dekat dengan rumah mertua; kemauan salah satu pasangan; karena keinginan mertua; dan beberapa penyebab lainnya.
Buku Pondok Mertua Indah (PMI) memaparkan 101 Cara Hidup Bahagia Bersama Mertua. Nunung Nurlaela sebagai pelaku sepondok dengan mertua memandu kita untuk mendalami esensi kehidupan, bahwa tinggal seatap dengan mertua bukanlah hal menyeramkan jika kita bisa menyiasatinya. Dan inti utamanya adalah meluruskan niat.
Meluruskan niat bahwa kita tinggal di rumah mertua semata karena ikhlas ingin menghormati, berbakti, dan berbuat baik kepada mereka. Adapun berbakti kepada mertua merupakan kewajiban kita. Berbuat baik kepada mertua sama wajibnya dengan berbuat baik kepada orangtua kita (hlm. 17).
Tentunya jika sepondok dengan mertua ada hal baik dan buruk, namun dibutuhkan kebesaran hati kita yang terlibat di dalamnya untuk mengelola perasaan agar harmonisasi bisa terjaga. Jika fokus pada hal baik kita bisa belajar tentang pengalaman dari mertua,  memudahkan interaksi, merasa tenang dalam hal tertentu, dan menguatkan hubungan dua keluarga. Meskipun demikian, tak bisa menisbikan hal buruk seperti memiliki perasaan masih sebagai anak dan bukan kepala keluarga; kurang nyaman dengan adanya anggota keluarga lain; tidak bisa mengambil keputusan sendiri; manja dan cenderung bergantung; dan kurang percaya diri.
PMI dibagi dalam 3 bab. Jika bab pertama mengenai profil menantu dan mertua secara umum, maka bab 2 yang merupakan isi buku memuat 25 motivasi dan tip sederhana ketika tinggal dengan mertua. Sedangkan bab 3 berisi penutup yang esensi utamanya ada pada sabar, nikmati, syukuri, yakini, dan introspeksi. 
Nunung Nurlaela telah berupaya keras berbagi hasil pengalaman dari pengamatan sekitar, tidak heran Felix Siauw memuji dengan, “Pembahasan Mbak Nunung asyik, lengkap, tak menggurui tapi tetap bernilai, dan memberi solusi.”
Dalam bab 2 Nunung memandu kita untuk bisa mengatasi sekian kasus KETIKA. Ada 25 motivasi dan tip untuk menghadapinya. Ketika baru menikah dan resmi sebagai penghuni PMI tentu kita alami hal seperti merasa asing dan serba salah. Solusi: kenali keluarga baru Anda, dan beradaptasilah; cermati, pelajari, tanyakan, dan lakukan.
Bekerja dan tidak bekerja pun kerap menjadi masalah, namun sebaiknya komunikasikan dengan baik. Ketika bekerja: aturlah, jadi yang terbaik, dan memberi. Ketika tidak bekerja: berceritalah, beri alasan, berusaha mandiri dan kreatif, serta jangan jadi parasit.
Tentunya masih banyak kasus KETIKA lainnya yang harus kita atasi dengan baik. Apakah mertua kepo, egois, mengomel, pilih kasih, berbeda keyakinan, tak merestui Anda, atau masih memanjakan pasangan kita. Atau hal lain seperti berbagi dapur, berbeda pendapat, berkonflik dengan anggota keluarga, aturan jika ke luar kota, menyambut hari raya, bergaul dengan tetangga, bicara tentang uang, tidak dipercaya lagi. Atau masalah buah hati yang tak kunjung hadir maupun ketika hamil dan buah hati lahir. Plus bagaimana cara mendidik buah hati dalam keadaan ber-PMI.
Belum lagi hal pelik lainnya ketika sakit, ada yang dipanggil Sang Pencipta, sampai keputusan bercerai harus diambil.
Nunung menawarkan beragam solusi dari contoh kasus yang diilustrasikan. Dan intisari utamanya adalah kesabaran. Bukan perkara yang mudah sabar itu, yang jelas bukan asal sabar. Ada panduannya. Seperti kasus ketika buah hati tak kunjung hadir, yang kita butuhkan adalah sabar, saling mendukung, berdoa, dan jangan berhenti berusaha (hlm. 86).
Memang tak enak alami pertanyaan gencar dari pihak keluarga, teman, sampai tetangga tentang momongan. Beruntunglah jika punya mertua bijak. Jika tidak, maka menantu akan minder, mertua tidak sabar, dan akibatnya suami jadi galau.Amat buruklah jika suami ambil jalan mudah yang ternyata salah.
Ada banyak faktor dalam kehidupan. Hukum sebab-akibat seharusnya bisa membukakan perspektif kita, bahwa posisi menantu dan mertua merupakan kesejajaran bukan ketimpangan seperti yang selama ini telah distigma. Maka jadikanlah hidup sepondok bersama mertua merupakan bagian dari keseharian yang wajar dan tanpa tekanan. Tentunya buku Pondok Mertua Indah bisa memandu kita untuk mewujudkannya.
“Menikmati kebersamaan dengan mertua menjadikan Anda lebih bijak, lebih hebat, dan lebih kuat serta membuat hubungan dengan mertua semakin erat. Rasa cinta pasangan Anda pun akan semakin besar dan kuat.” (Hlm. 137)***

Limbangan, Garut, 21 April 2014

#ResensiBuku #PanduanBahagiaSepondokdenganMertua #NunungNurlaela

[RESENSI] Lakon Muram Ririn Rahayu (Kumcer Kitab Gangpitu-Ririn Rahayu Astuti Ningrum)


RESENSI

Lakon Muram Ririn Rahayu


DATA BUKU                       : KITAB GANGPITU
PENULIS                  : RIRIN RAHAYU ASTUTI NINGRUM
PENERBIT               : PUSTAKA NUSANTARA
CETAKAN               : PERTAMA, OKTOBER 2013
TEBAL                      : 127 HALAMAN
ISBN                           : 978-602-7645-12-7
HARGA                     : RP34.500

CERPEN memberi keleluasaan pada penulisnya untuk mengeksplorasi bahasa, menggali kekayaan kata dari khasanah peristiwa, sesuai budaya lokal yang dianutnya. Demikianlah Ririn Rahayu Astuti Ningrum menulis kumcer Kitab Gangpitu dengan indah sekaligus sarat filosofis.
Ririn mempersembahkan sepilihan cerpen yang ditulis dari tahun 2012-2013 dengan nada muram, kebanyakan memotret permasalahan yang menimpa orang terpinggirkan karena nasib, status sosial, bahkan kisruh politik.
Ada banyak cerpenis yang berusaha eksis dengan ciri khasnya, termasuk Ririn. Aroma kebudayaan Jawa sangat kental terasa, dari ujaran sampai tindakan. Dengan bahasa sastra sarat simbolisme, Kitab Gangpitu layak kita perhitungkan sebagai kumcer yang menyorot persoalan hidup dalam perspektif perempuan, memandang masa lalu sebagai bagian dari kekinian.
Ada banyak benturan di kumcer itu. Ajaran agama dibalut dalam mitos kitab Kalimasada versus kitab Gangpitu sebagai ajaran terlarang yang bisa membangkitkan amuk Nogo Samber Jiwo,  seperti dalam cerpen “Kitab Gangpitu”.  Bagi kita yang berada di luar budaya Jawa atau tak mengakrabinya, pasti asing dan tak paham soal kitab Kalimasada, bagian dari Kejawen  (ajaran asli leluhur tanah Jawa yang belum terkena pengaruh budaya luar, sebelum budaya Hindu dan Budha masuk).
Di dalam sana, Eyang Resi dan para Pakubumi merapal mantra Kalimasada. Sepenuh jiwa. Syahdu. Silu. Hanya itu yang mampu mereka lakukan untuk menahan Nogo Samber Jiwo dalam lelap peraduan. Mereka terus merapal, siang dan malam hingga suara tak lagi keluar. Mereka terus membaca hingga perlahan lebur dalam keheningan. Abadi. Moksa. Tinggallah enam buah Kitab Kalimasada di atas meja batu bundar. Tak terjamah, berdebu, penuh sawang. Buram.
Dan di negeri Sokoroso, khutbah terus berlanjut Suara hentakan-hentakan dan rapalan mantra Kitab Gangpitu menggelora. Orang-orang bersorak merayakan penghormatan. Dengan tawa berderai-derai mereka ikuti setiap gerak Sang Gae Odo-Odo sebagai bentuk penyucian jiwa model baru, meninggalkan kekunoan yang diajarkan Eyang Resi. Seluruh negeri bergetar karenanya. (Hal. 63)
Lalu apa yang terjadi dengan negeri itu? Sebuah umpama yang bagus mengenai negeri kita sendiri. Campuran mitos dan kekinian diramu Ririn dengan apik.
Dalam “Teror Kala Bendu”, masih menyorot budaya Jawa. Betapa Kala Bendu dianggap sebagai oknum perusak anak gadis agar terjerumus pada perzinaan akibat pacaran yang kebablasan, hingga hamil dan membunuh bayi tak berdosa begitu lahir. Peristiwa itu bukan hanya sekali. Bunuh diri atau penjaralah pilihan akhir mereka.
Lagi-lagi, dari sarangnya yang hitam, Kala Bendu menyaksikan tangisan Putri dengan gelegak tawa kemenangan. Satu lagi masa depan berhasil dia telan. Puas meretas. Bertimpas-timpas! (Hal. 73)
Perempuan adalah subjek sekaligus objek utama cerita Ririn. Yang terperangkap stigma masyarakat karena predikat (“Bapak untuk Zahra”); yang beroleh khianat (“Anafora Pengkhianatan”); yang menyaksikan perjuangan ayah (“Kasih Tak Bertepi”); yang melahirkan anak saleh (“Sandal Jepit Pak Haji”); yang berjuang demi anak semata wayang (“Sepotong Mimpi Buat Emak”);  yang terjerumus popularitas hingga abai menerapkan ajaran kitab Kalimasada (“Ledi Gigi, Mati!”); yang mencintai tradisi batik Tulungagung (“Perempuan yang Menggandrungi Gajah Mada”); yang dijual suaminya (“Perempuan yang Tubuhnya Tergadai”).
Masih ada lagi kegetiran Ririn dalam “Iman yang Terkoyak”, sosok pemuka agama terjerembab dalam jurang maksiat; “Seorang Anak yang Menggadaikan Ibunya”, potret muram wajah bangsa kita terhadap tanah air Indonesia, dililit kelindan utang tak berkesudahan; dan “Kisruh Bethara Kala di Astinapura”, adalah cerminan bagaimana sesungguhnya pemimpin dan anggota dewan kita sekarang.
Kritik sosial dan politik Ririn dengan perspektif sastra yang indah sekaligus menggugah. Untaian bahasanya akan membuat kita kewalahan jika tak terbiasa. Kalimat puitis berhamburan. Betapa ia kaya kosakata, menggali timbunan kata yang barangkali jarang dipakai selain hanya teronggok sepi dalam lembar demi lembar halaman Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jawa adalah akar budayanya, maka cerita wayang sampai kejawen berikut antropologi masyarakat Jawa dipaparkan dengan fasih. Sebagaimana fasihnya ia memaknai cinta dan nafsu mesti berdampingan secara seimbang bukannya salah satu dominan. “Syahwah dan Mahabbah” adalah gambaran diri kita untuk becermin.
Adapun hal yang harus diperhatikan ke depannya bagi Ririn Rahayu dan penerbit Pustaka Nusantara: penyuntingan yang apik!  Jangan sampai karya bagus jatuh karena abai kaidah gramatika. Ada banyak ketidaksesuaian EYD yang mengganggu. Semoga bisa lebih maju.(*)

Rohyati Sofjan, Penulis lepas, tinggal di Limbangan, Garut

#ResensiBuku #KitabGangpitu #RirinRahayuAstutiNingrum

[RESENSI] Lompatan Absurditas Kenangan (Novel Surga di Warung Kopi-Sidik Nugroho)



RESENSI

Lompatan Absurditas Kenangan


DATA BUKU                       : SURGA DI WARUNG KOPI
PENULIS                  : SIDIK NUGROHO
PENERBIT               : BHUANA SASTRA
CETAKAN               : PERTAMA, JANUARI 2014
TEBAL                      : X + 141 HALAMAN
ISBN                           : 978-602-249-480-5

JIKA orang Jawa punya filosofi, “Urip mung mampir ngombe.” Barangkali hidup memang cuma untuk mampir minum, sekejapan saja, mereguk sesuatu agar dahaga terpenuhkan. Dan Sidik Nugroho dalam novel Surga di Warung Kopi memiliki filosofi tersendiri: hidup cuma mampir ngopi!
Di warung kopi, semua orang datang dan pergi. Di warung kopi, tidak sedikit manusia yang menciptakan surga kecil barang sesaat untuk dirinya.
Lewat sebuah kejadian tak terduga, suatu ketika Iwan berada dalam dunia antara hidup dan mati. Ia bertemu dengan pacar, kawan-kawan, dan ayahnya yang telah tiada. Pertemuan-pertemuan itu terjadi di warung kopi -- kenangan demi kenangan pun bermunculan. Kenangan-kenangan itu melahirkan kebahagiaan -- mendatangkan surga di hati Iwan.
Memento Mori, semua manusia pasti mati. Semua manusia akan menuju liang lahat, lalu pindah ke alam lain. (Halaman belakang sampul buku.)  
Di dunia ini, betapa sering kita lupa bisa menciptakan surga tersendiri, meski dari hal-hal kecil. Lebih sering kita menciptakan neraka dalam diri, yang menggerogoti. Sidik Nugroho mengajak kita menyelami arti secangkir kopi dan warung kopi dari tokoh bernama Iwan. Menjelajahi ruang-ruang kenangan, pertemuan dengan mereka yang telah meninggal. Dan warung kopi adalah panggung untuk memampangkan pertunjukan silam dari tokoh demi tokoh yang telah memberi Iwan kenangan.
Cerita dimulai dari tiga babak pertemuan di warung kopi antara Iwan dengan Yanto sahabat masa kecilnya, Naning yang pernah dipacarinya, dan Pak Johny sahabatnya di gereja. Ada lompatan absurditas kenangan yang lembut di sana. Warung kopi sekejap bisa berubah tempat menjadi Singkawang di Kalimantan Barat kala bersama Yanto; padahal sebelumnya Iwan di Batu, Jawa Timur.  Ketika Yanto pergi, datanglah Naning menggantikannya di warung kopi itu, dan pertemuan berubah tempat menjadi restoran Amsterdam. Setelah Naning pergi lalu muncullah Pak Johny. Semuanya seperti mimpi dalam mimpi. (Hal. 21)
Iwan mulai menyadari suatu hal ketika bertemu dengan Pak Johny. Kenangan. Ya, mereka semua membangkitkan kenangan. Yanto, Naning,  dan Pak Johny… mereka hanya duduk-duduk saja. Mereka tak bicara, tapi dengan cara yang sulit dijelaskan, mereka datang membawa kenangan ketika Iwan menatap wajah atau mata mereka. (Hal. 41)
Meski pertemuan dalam warung kopi hanya dilakukan dalam diam yang asing, namun kilas balik cerita bergulir. Ada filosofi dalam campuran hal lucu, pahit, manis, sampai getir.
Tentang pendeta sakti yang pernah mencoba membangkitkan orang mati tapi gagal. Tentang rasa takut Pak Johny pada kaum hantu karena waktu kecil sering dicekoki cerita mistis oleh kedua orangtuanya. Tentang asal mula Pontianak (atau Puntianak)  yang disebut kota angker, karena konon merupakan singkatan dari perempuan mati beranak.
Namun ada hal yang sangat menggugah dari Pak Johny kala berbincang dengan Iwan. Orang yang kehilangan harapan! “Orang seperti ini tidak takut dipecat dari pekerjaannya. Tidak takut ditinggalkan kekasih, sahabat, atau keluarganya. Tidak takut pada bahaya, penjara, atau kematian. Tidak takut pada hantu berwajah paling buruk sekalipun. Tidak ada ketakutan lagi dalam hatinya, karena tidak ada lagi harapan di sana.” (Hal. 46).
Harapan adalah esensi dasar manusia demi menjaga martabat kehidupan. Dari harapan itulah kita bisa mewujudkan cita. Sebelum maut merenggut. Ya, hidup yang singkat ini akan mempertemukan kita dengan: Walaupun telah tiada, ada seseorang yang terus hidup di benak kita karena kenangan indah yang telah ditinggalkannya. Walaupun masih hidup, ada seseorang yang telah mati di benak kita karena luka yang ditorehkannya. (Hal. 74)
Ada teka-teki yang diantarkan sosok Teguh, tentang berada di dimensi manakah hidup Iwan sebenarnya. Apakah ia memasuki alam kematian dan bertemu dengan orang-orang yang telah pulang, karena absurditas melingkari lakon Iwan. Ia tidak lagi di warung kopi sederhana, berada di ruang luas yang entah apa dengan peti mati terbuka. Lalu siapakah di dalam peti mati itu?
Demikianlah Sidik Nugroho dengan lembut menjalin kelindan cerita tentang kematian yang sering kita abaikan. Kita abai bahwa si mati pernah memberi hidup dan warna pada orang-orang di sekitarnya. Biografi dalam warung kopi yang penuh teka-teki beroleh jawab pada bab epilog. Penutup tentang cerita yang masih akan mengurai cerita. Ada hidup yang menyala!(*)
Rohyati Sofjan, Penulis lepas, tinggal di Garut

Limbangan, Garut, 10 Maret 2014


#ResensiBuku #SurgadiWarungKopi #SidikNugroho

[RESENSI] Fragmen Kehampaan Pemeran - Korban (Kumcer Perempuan Lolipop-Bamby Cahyadi


BUKU

Fragmen Kehampaan Pemeran - Korban

Oleh ROHYATI SOFJAN


Judul              : Perempuan Lolipop
Penulis            : Bamby Cahyadi
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan          : Pertama, Februari 2014
Tebal              : 198 Halaman
ISBN               : 978-602-03-0259-1
Harga             : Rp50.000

ORANG yang memerankan atau pemegang kendali dalam kehidupan sehari-hari disebut Pemeran. Korban adalah orang yang dikendalikan. Meskipun demikian, hidup sering membawa kita dalam lakon absurd. Menjadi Pemeran sekaligus Korban, atau  Korban yang punya andil sebagai Pemeran.
Bamby Cahyadi mengurai keadaan demikian dalam kumpulan cerpen Perempuan Lolipop. Setiap tokoh memiliki porsi tersendiri, sebagai korban sekaligus pemeran. Tiada bedanya. Lakon inferior atau superior dalam kehidupan sejatinya sering kita perankan secara bergantian. Dengan atau tanpa kita sadari.
Dalam “Credo Quia Absurdum”, Suhardiono merasakan betapa terkutuknya ramalan yang semula ia percayai karena mustahil terjadi. Ramalan itu malah memakannya dalam suatu kecelakaan yang merenggut korban. Suhardiono, sebagai penabrak, adalah pemeran yang kehilangan sebab korbannya anak sendiri yang hendak ia jemput!
Pertukaran peran pemeran-korban terus berlanjut dalam “Tubuhku Tersesat di Jalan Pintas”. Bagaimana tubuh hanya medium bagi pertukaran roh. Bamby Cahyadi telah mengubah korban sebagai pemeran. Yang dibunuh malah hidup dalam jasad pembunuh, sedang pembunuh ikut mati dalam jasad korban yang dibunuhnya. Pertukaran ragawi semacam itu melahirkan alur ketegangan kala korban mencoba pulang ke rumah, menemui keluarganya. Yang ditemui adalah absurditas, ia ditolak anak dan istrinya karena menempati tubuh yang salah. Ketika menyadari, ia tersesat dalam panik yang teramat sangat, berlari mencari tubuhnya yang hilang di tempat kejadian.
Ada kekacauan dunia mimpi, kehampaan lakon manusia yang sering kita alami. Kematian merupakan hal dominan dalam kehidupan sama halnya dengan kelahiran. Kematian seringkali melahirkan kegilaan karena meninggalkan kehampaan bagi yang ditinggalkan. Demikianlah dalam “Aku, Polisi, dan Pistol”. Seorang anak yang kehilangan ayahnya memilih cara menyalakkan pistol peninggalan sang ayah pada objek tikus pengganggu daripada bunuh diri.
Sebaliknya seorang tokoh yang ingin mati dengan cara bunuh diri malah bertukar jasad dan peran dengan orang yang ingin hidup (“Dua Rangkai Kisah Kematian”). Dan seorang perempuan yang ingin mati mencipta dunia tersendiri dalam lukisannya setelah selalu terganggu mimpi buruk (“Mimpi Stefani”).
Setiap pemeran dalam kehampaan berupaya menemukan jalan keluar dari labirin tak berujung yang memerangkapnya. Lelah menjadi korban permainan peran, seorang suami menemukan kedamaian kala menyadari bahwa dunianya tidak sama lagi setelah diikhlaskan istrinya (“Nadya Lebaran Sendirian”). Atau arwah seorang nenek dalam wujud gadis kecil peniup harmonika di kuburan menerima kenyataan bahwa ia harus tenang di alamnya, setelah yakin telah bertemu reinkarnasi suaminya dalam wujud seorang bocah laki-laki yang menemani bermain (“Peniup Harmonika”).
Balutan bahasa Bamby yang indah dan meliuk membawa emosi pembaca untuk ikut meliuk, penasaran dengan kelanjutan cerita sampai ending-nya yang kadang dibuat twist. Nuansa muram memang dominan karena tema yang dibawanya cenderung berat: kematian dan kehampaan.
Tak ada cara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat. Ketika berhadapan dengan jalan yang tampak tak berujung dan jembatan serupa yang membingungkan. Terus saja berjalan. Setiap belokan, setiap sudut, menghadirkan misteri tersendiri. Tersesat adalah anugerah, karena dirimu tak tahu apa yang menanti di balik tiap kelokan. Bukankah begitu dengan kehidupan, bahkan kematian sekalipun? (Hlm 69.)
Perjalanan dalam ketersesatan ternyata menantang sekaligus mengasyikkan. Pun seseorang bagi kita bisa menimbulkan tanya tentang sosoknya. Pernahkah kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh? Pernahkah kamu melihat seorang perempuan yang tampak begitu kesepian? Perempuan itu, duduk sendirian di satu sudut gelap di sebuah kafe sambil menjilati permen lolipop kegemarannya. Ujung lidahnya bergerak-gerak pada permen berwarna-warni itu. Dia menjilati lolipopnya, menikmati rasa buahnya, sembari berpura-pura tak memikirkan apa pun. (“Perempuan Lolipop”)
Dalam cerpen itu Bamby mengurai dunia yang seakan surealis. Kenyataan berbaur dengan hal yang tampak absurd, berpura-pura seakan masih hidup. Pun dalam “Dunia Murakami”, keganjilan adalah keindahan. Bertemu sosok perempuan misterius yang bisa memasuki dunia cerita Haruki Murakami dengan masuk ke halaman sekian novel 1Q84.

Ada 19 cerita bernas dalam kumcer tebal ini. Perempuan Lolipop layak Anda baca, sastra menjadi sesuatu yang asyik dicerna. Merenungkan kematian dan kehampaan sebagai bagian dari relung bawah sadar yang sering kita abaikan. Dan tokoh-tokohnya memiliki naluri dasar berupa hasrat untuk bertahan. Sebagai korban maupun pemeran!***
#ResensiBuku #PerempuanLolipop #BambyCahyadi

Sabtu, 09 Agustus 2014

Enam Bulan Kesan Gabung Bareng Blogger Energy



HAPPY ANNIVERSARY 2ND, BLOGGER ENERGY!


Tepat hari ini, 9 Agustus 2014, Blogger Energy (BE) berulang tahun ke-2! Selamat untuk BE, selamat untuk para Rangerz yang sudah ngurusin BE, selamat untuk para Gyerz yang berumah ramah blogger di BE. Mari kita nyalakan kembang api, terserah mau siang ini atau malam nanti. Asal jangan bakar petasan saja, ya. *Bakar sate atau jagung saja, asal pula jangan bakar orang atau rumah orang, hehe….*
Saya sudah baca beberapa ulasan teman-teman Rangerz dan Gyerz tentang BE. Pada asyik dan banyak sudut yang dituliskannya. Perkenalan mereka dengan BE, kesan-kesan, kontribusi, sampai apa yang telah didapat dari BE. Tulisan mereka keren!
Inilah awal mula saya yang sudah emak-emak beranak satu dan berkepala 3 (usia bukan hydra, wew), terdampar di BE.
Main ke blog Ayam Sakit punya Ichsan Ramadhani, lihat banner BE di sisi kiri atas blog-nya. Ternyata bisa diklik dan langsung ke www.bloggerenergy.com. Dari sana baca kalau BE adalah semacam komunitas bagi para blogger dan ada groupnya di Facebook. Langsung deh baca aturannya dulu di blog BE tetang syarat penerimaan anggota. Susah payah bikin tulisan di blog untuk memenuhi syaratnya.
Dan setelah selesai bikin tema blog personalku, baru deh, daftar. Rada ribet karena harus menunggu sampai tanggal 9 segala. Gak tahu napa. Lalu, tada, di inbox FB ada pesan gini:

·         Edotz Herjunot
Hai.. gue Edotz dari Blogger energy, thanks udah klik join komunitas blogger energy di facebook.
Tapi maaf banget belum bisa di-approve, karena kita punya persyaratan khusus..
jadi biar lebih banyak tau tentang Blogger enery bisa baca dulu yang ini, http://www.bloggerenergy.com/2013/02/aturan-calon-anggota-baru.html
gitu aja infonya, kalo udah lengkap syaratnya bisa klik join lagi di grup FB Blogger Energy.
gue tunggu semangatnya buat jadi keluarga blogger energy ya
thanks..
·         Rohyati Sofjan
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 18:36
Makasih Mas Edotz, tapi gue udah bikin tulisan tentang keinginan gabung di Blogger Energy, apa ada yang kurang?
Formulir juga sudah diisi.
·         Edotz Herjunot
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 18:38
Iya mbak, mungkin belum dikasih tau ke kita, jadi kita belum tau... Kayak ke email bloggerenergy@ymail.com..
Yaudah mbak Rohyati tinggal klik join aja ntar kita approve langsung kebetulan ini pas tanggal 9 , thanks ya.. Kami tunggu
·         Rohyati Sofjan
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 18:39
Bentar, mail yahoo suka error, tadi sulit dibuka.
Dan ini link blognya:
Maaf dikirim ke sini saja, loading lama, dan Yahoo kalau jam sibuk suka gitu. Bisanya dini hari.
Saat orang lain pada ngorok.
Semoga bisa diterima gabung.
Apa gak masalah karena gue ikut banyak group blog?
Makasih banget ya.
·         Edotz Herjunot
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 18:44
Haha asal blog personal dan pasang banner BE semua boleh gabung kok... Tinggal menuju grup BE terus klik join sekali lagi ya Biar bisa di approve
Hehe
·         Rohyati Sofjan
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 18:46
Join lagi, hehe. Sudah berada di halaman BE dan bengong karena gak ada bekas yang dulu kala ingin join. Oke deh. makasih.
Tuh, sudah klik gabung group dan tunggu pintu dibukakan. Tok-tok-tok, petok-petok kukuruyuk....
·         Edotz Herjunot
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 18:50
Haha siip deh, abis ini bisa langsung perkenalan yaa..
·         Rohyati Sofjan
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 18:51
Ya, makasih. Kenalan dengan anggotanya. Gak apa ada emak-emak gabung? Gak akan digertak?
·         Rohyati Sofjan
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 19:02
Menidurkan anak dulu ya, ngamuk Palungnya.
·         Edotz Herjunot
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 19:25
Iya gpp, santai aja.. Haha Ntar sempetin dulu baca rulesnya atau dokumen2 di Blogger Energy..
Biar tau aturan2nya dan cara promo postingan, serta macem2.. Bukannya mau kebanyakan aturan, tapi biar bisa dikoordinasi dan rapi aja gitu.
Okedeh~
·         Rohyati Sofjan
https://fbstatic-a.akamaihd.net/rsrc.php/v2/y4/r/-PAXP-deijE.gif09/03/2014 20:47
Oke. Anak sudah bobok. Tinggal acara kenalan, makan malam dulu. Lapar.
Dilihat 10 Maret

Keren, ya, Mas Edotz itu ternyata Rangerz yang ramah meski tulisannya suka tajam dan pedas. Kebanyakan ngegalau, hihi. Galau tapi ngena. Ngena karena ada hal tertentu yang bisa bikin orang tersayat juga. Oh ya, kalau pengen kenalan dan bergalau ria, sila kunjungi rumahnya di www.edotzherjunot.com. Blog-nya sudah berbayar. Kerasa doi blogger prof gitu bareng Yoga Shena yang punya rumah www.yogashena.com, plus dua insan Rangerz lainnya kayak Bayu P. Abuna yang berumah di www.bayubuna.com dan M.Arif Budiarto yang berumah di www.bocahsaico.com. Duh, pada domain com semua.
Bagi yang belum tahu apa itu Blogger Energy, saya kutip tulisan dari file group FB-nya:

Tentang Blogger Energy




Blogger Energy merupakan sebuah grup blogger yang hanya dikhususkan untuk blogger yang bergenre "PERSONAL" saja. Harapannya grup ini bisa menjadi wadah bagi kita untuk bertukar informasi, ide, ataupun mempromosikan tulisan blog masing-masing.

Beberapa hal yang menjadi "penyakit" dalam suatu grup blogger adalah terkadang anggotanya tidak mau peduli dan hanya menjadi sekedar ajang untuk pembuangan link aja abis itu udah, gak ada yang blogwalking. Selain itu, sesama anggota juga kadang gak saling nyapa.
Nah... oleh karena itu, mari kawan bareng-bareng kita bentuk sebuah grup blogger yang aktif, informatif dan punya rasa kekeluargaan yang kuat..

Tiap ada temen yang posting blog, jangan segan untuk berkomentar karena setiap komentar adalah ENERGI bagi para blogger..

komentar itu penting

Kita akan semangat ngeblog kalo blog kita dikomentarin. Blogger mana yang gak seneng blognya rame??? mari saling berkomentar dengan demikian kita semua jadi tambah semangat ngeblog dan satu hal lagi bentuk support sesama blogger adalah dengan saling membaca setiap postingan yang dipromoin oleh temen kalian. Budayakan membaca sebelum berkomentar :))

bukankah itu bisa jadi energy yang besar dan luar biasa???

bagaimana mungkin seorang yang masih awam dalam dunia blog mampu berlari dengan kencang jika tidak didukung oleh manusia-manusia yang sudah berdiri tegak disitu???
Di Blogger Energy gak beda-bedain mana yang udah ahli ngeblog sama yang newbie semua SAMA. Kita akan memberikan komentar yang kita sebut ENERGI ke semua blogger personal.

Kalian Blogger Personal? Siap untuk memberikan energy dengan Gyers lainnya? Let’s Join With Us!!!
Gak suka blogwalking, membaca dan berkomentar?
TERIMAKASIH SUDAH BERKUNJUNG SILAKAN CLOSE TAB ANDA :)


sekian
salam blogger energy
                                                                                                                       
Galak ya, aturannya. Namun sangat bermanfaat bagi semua. Terasa beda dengan group blog lainnya di Facebook. Ada banyak manfaat yang bisa didapat dari BE. Bukan cuma kebersamaan sampai ilmu semata, solidaritas, disiplin diri, sekaligus jujur pada diri sendiri. Itu penting untuk balas blogwalking pada yang lain kala promo blog di dinding group BE. Dan bagi GA Hunter macam saya, ternyata asyik jika beroleh banyak komen pada tulisan di blog yang telah dipromoin di group BE. Berasa rame!
Saya yang pada mulanya sekadar daftar dan masuk saja, merasa sempat tersesat juga. Bukan pada aturannya melainkan ternyata mayoritas anggota BE pada muda dan yang aktif kebanyakan berusia belasan sampai dua puluhan. Gak ada yang tiga puluhan ke atas (kecuali saya). Jadi berasa tua sendiri, hihi.
Ada rasa gak nyambung juga karena kebanyakan bahas soal asmara sampai kejombloan atau kesingelan. Bacanya gimana, gitu. Ngingetin saya pada masa-masa lajang dan belia. Kadang saya suka ngaco nanggapinnya dalam kolom komen, ngasi pengalaman terdulu yang sering juga terdudul, hihi.
Paling asyik kala baca pengalaman sekolah atau kuliah, bisa ngasi gambaran kayak gimana sistem pendidikan dewasa ini secara langsung. Membandingkannya dengan dulu. Yang membuat saya senang ternyata kebanyakan blogger BE pada berprestasi. kalau tidak di nilai akademik, bisa saja bidang lainnya. BE bagi saya ibarat rumah besar untuk kumpul bareng. Berbagi macam-macam kisah. Terasa hangat dan akrab!
Saya harap semoga usia BE tidak terhenti pada angka 2. Semoga bisa awet dan panjang umur sampai puluhan tahun ke depan. Semoga kita semua tetap rajin dan semangat nge-blog plus blogwalking. Semoga pula para anak-cucu dan keturunan kita kelak bisa menjadi bagian dari keluarga besar BE. Aamiin….
Selamat milad atau hari jadi. Mari kita saling berbagi energi bersama Blogger Energy!***
Limbangan, Garut, Jawa Barat, 9 Agustus 2014

“Tulisan ini diikutsertakan dalam best article Blogger Energy