HOME/RUMAH

Jumat, 25 Juli 2014

Dua Liebster Award, 22 Jawaban Berlipat, dan 11 Pertanyaan

Award dari Rosiy



SELALU ada hal baru dalam dunia blog, dan saya sebagai blogger pemula merasa tersanjung beroleh 2 Liebster Award dari dua orang teman sesama blogger yang baru dikenal dalam hitungan bulan, Muhammad FathurRosiy dari Galassia del Sogno pelajar SMK berusia 17 tahun asal Surabaya, dan MeykeSantoso dari Melted Javanese Sugar asal Ambarawa yang tengah merantau jadi guru bahasa Inggris ke Jakarta.
Ya, blog saya http://rohyatisofjan.blogspot.com yang berjudul IKAN KECIL MERENANGI SAMUDRA LUAS sendiri masih berumur bulanan, sejak Desember 2013. Dan Juli ini saya berusaha menulis tanggapan atas Liebster Award yang mereka percayakan.
Sebelumnya, terima kasih untuk Rosiy dan Meyke karena telah memberi award Liebster dengan bentuk dan warna yang berbeda. Rasanya saya jadi kian bersemangat nge-blog. Merasa disayang dan layak dijadikan teman sepergaulan. Entah mengapa ada award bernama Liebster, saya belum menelusurinya lebih lanjut. Dan mengapa pula harus dalam bahasa Jerman? Liebster artinya sayang.
Baiklah, karena saya diminta untuk mengucapkan terima kasih pada si pemberi dengan menautkan link blog mereka berikut beberapa patah kata sekapur sirihnya, plus menceritakan 11 hal tentang diri saya (yang sudah tentu tidak gampang menjabarkan diri ini, hehe), kemudian menjawab masing-masing dari 11 pertanyaan. Pada akhirnya saya harus mengajukan 11 pertanyaan pada 11 orang “korban” yang layak saya sayangi. Inilah inti Liebster Award yang bergulir dari seorang blogger ke blogger lain. Bagaimana menjalin ikatan silaturahmi pada sesama dengan saling mengenal setelah sering saling blogwalking. Blogwalking yang bermanfaat tentunya dengan meninggalkan jejak yang mendalam dalam setiap komentar atas hasil posting-an.
Terima kasih Rosiy dan Meyke! Kalian istimewa. *Peluk hangat satu-satu.

11 hal tentang saya:
Baiklah, saya kesulitan menjabarkan diri karena sebagai insan yang sering berbuat khilaf, saya tak yakin adakah hal menarik dari diri sendiri untuk dibagikan pada orang lain.
1.       Seorang ibu rumah tangga cum penulis lepas amatiran yang tengah berjuang dalam setiap sendi-sendi kehidupan.
2.       Punya seorang anak balita bernama Palung Jiwa Muttaqin Pratama (4,8 tahun), hasil perkawinan dengan seorang lelaki sederhana yang sehari-hari kerja sebagai buruh tani atau kuli serabutan yang tak suka membaca dan tahunya kerja cari nafkah saja.
3.       Memiliki sejarah kehidupan yang getir namun mencoba untuk selalu bangkit meski kerap tersungkur.
4.       Bahagia menekuni dunia literasi karena bisa membebaskannya dari depresi. Membuatnya bisa mengaktualisasikan diri dalam relasi antarsesama dengan silaturahmi.
5.       Bermimpi suatu saat kelak bisa melakukan perjalanan keliling nusantara bareng anak dan suami untuk diabadikan dalam blog atau dibukukan.
6.       Gemar mengoleksi resep masakan dan tertarik pada ragam kuliner mana saja namun sulit mempraktikkannya karena ketiadaan alat tempur di dapur.
7.       Suka baca puisi namun sulit menulis puisi. Suka baca fiksi namun tak punya ambisi untuk menulis novel.
8.       Kedua telinganya tak berfungsi sejak usia sekira 6 tahun kurang lebih.
9.       Selain membaca, hal yang bisa membuatnya senang adalah menonton film dan main aneka game yang tersimpan di netbook Acer Aspire One-nya.
10.   Pencinta bahasa Indonesia yang sangat peduli pada kaidah kebahasaan berikut EYD.
11.   Senang ikut kuis, giveaway sampai lomba blog. Ada sensasi tersendiri kala berhasil menuntaskan tugas atau jawaban meski soal kalah-menang bisa menyusul belakangan. Ada adrenalin dalam hal tersebut. Berpacu dengan waktu kala diburu DL sambil mengumpulkan bahan sana-sini sekaligus mengasah imaji; lalu harap-harap cemas, plus hasil akhir berupa kalah atau menang, dapat hadiah atau bertangan hampa.

Menjawab pertanyaan Rosiy:
1.       Sebutkan lima kata yang menggambarkan blog kalian seperti apa? Tempat menyimpan dokumentasi karya pribadi.
2.       Negara mana yang sangat ingin kalian kunjungi dan apa alasannya? Nepal dengan panorama alam yang pernah dituturkan Seno Gumira Ajidarma; Maroko dengan kuliner khas dan kisah yang dituturkan Fatima Mernissi lewat memoar Teras Terlarang; Mekah berharap bisa beribadah di sana, menapaktilasi perjalanan Nabi Muhammad Saw.
3.       Jika di dunia hanya terdapat satu makanan saja yang dikonsumsi, menurut kalian makanan apa itu? Dan apa alasannya? Madu, obat mujarobat bagi kehidupan, sumber energi yang dihasilkan lebah pekerja dari tepung sari bunga. Karena khasiat madu dan keutamaan lebah  tercantum dalam surat An Nahl.
4.       Jika diberi kesempatan ke masa lalu, kalian ingin diberi kesempatan apa? Saat bapak masih sehat dan belum wafat, ada banyak hal yang belum saya perbuat.
5.       Konser apa yang sangat ingin kalian datangi? Yang akan disukai anak dan suami, saya mah sekadar penggembira saja. Biarkan mereka menikmati musik agar merasakan syukur atas panca indra yang masih lengkap.
6.       Artis luar negeri favorit kalian siapa? Dan apa alasannya? Dulu kala masih lajang pernah tergila-gila pada sekian aktor tampan. Tapi kalau sekarang, menilik dari kualitas akting dan personalisasi, saya suka Sean Penn meski ia bukan dikategorikan favorit karena unsur tampan kala lajang, kualitas aktingnya mengagumkan dalam film “I’am Sam”. Saya berharap Palung pun kelak merasa bahwa film itu ditujukan untuk kami.
7.       Lebih suka aliran musik apa? Dan apa alasannya? Karena telinga tak berfungsi, sukanya musik alam seperti desau angin, goyang pohonan, guguran dedaunan, rintik hujan, deburan ombak, dan aliran air.
8.       Jika diberi kesempatan hidup dua kali, apa yang ingin kalian lakukan? Memperbaiki kualitas diri agar hal-hal yang pernah disesali tak terulang lagi.
9.       Nama panggilan khusus kalian apa? Run dari Gurun.
10.   Mimpi terbesar kalian yang sampai sekarang belum tercapai apa? Perjalanan ke berbagai tujuan.?
11.   Usaha apa yang kalian tempuh untuk menebus mimpi di jawaban poin 10? Terus menulis dan membaca agar semua terwujud, sebab dua hal tersebut sanggup menjadikan hal mustahil menjadi mungkin.
Demikianlah dari Rosiy yang berpesan agar penghargaan tersebut tidak terputus pada dirinya. Ada amanah agar jaringan silaturahmi bisa tetap terjaga dengan baik. Sebab, seorang blogger selalu butuh rekan seperjuangan.

Menjawab pertanyaan Meyke:
1.       Sebutkan hal terpenting dalam hidupmu? Kebersamaan dalam keluarga, kehangatan dalam persahabatan, kerukunan dalam pergaulan, kepedulian dalam berbagai keadaan.
2.       Sebutkan 3 cita-cita/wishes yang paling ingin kamu raih? Punya rumah sendiri bareng anak dan suami di tanah hak milik sendiri atas hasil keringat sendiri; bisa keliling beragam tempat yang dulunya cuma dalam pembayangan khayali; hidup rukun dan harmonis dengan keluarga secara bahagia.
3.       Kalau semisal kalian bisa bertukar nyawa nih sama artis, kamu mau jadi artis siapa? Ehm, tukaran nyawa? Apa bisa? Hehe, gak pengen jadi artis. Makasih.
4.       Nge-blog buat apa cuyyy?! Buat beragam tujuan yang butuh penjelasan dalam satu postingan panjang. Kayak di sini, di sana.
5.       Barang apa yang lagi kamu pingin bingit? Netbook baru karena Aa Acer ini sedang sakit, kalau gak dapat, semoga bisa menangin hadiah tablet atau ponsel pintar (smartphone).
6.       Kalau kalian bisa dikasih traveling gratis, kalian mau pergi ke mana? Kalau travelingnya di dalam negeri, pengen ke Wonosobo dulu pada bulan Agustus untuk lihat festival balon udara berikut menjelajah berbagai tempat wisata yang asyik dan menakjubkan di Kabupaten Wonosobo. Kalau di luar negeri, pengen ke Maroko dulu karena Palung masih kecil.
7.       Untuk kalian yang kenal aku lewat tulisan, sebutkan 3 hal yang mendeskripsikan personality-ku berdasarkan blog aku! Ramai, hangat, periang!
8.       Untuk yang kenal aku, sebutkan satu saja postingan yang paling kalian suka! Tentang acara keliling Jakarta yang seru-seru ngenes bareng sahabat terbaik di sini dan sambungannya.
9.       Apa harapan kalian sebagai seorang blogger? Bisa tetap menulis dan beroleh tambahan pengalaman, persahabatan, dan penghasilan.
10.   Hal apa yang paling kalian benci? Fitnah, ghibah, riya, dan riba.
11.   Cinta itu apa uhuk! Cinta itu akan kau rasakan dan temukan kesejatiannya kala telah mengarungi ikatan halal dengan seseorang.
Panjang juga tulisan ini, habis dapat dua Liebster Award, sih. Ada rasa asyik kala menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Makasih Rosiy dan Meyke, kalian insan cerdas yang kritis sekaligus positive thinking!
Akan tetapi, bingung juga kala harus ajuin pertanyaan berikut menyusun daftar yang layak disayang. Mereka yang hadir dalam pergaulan dunia blogging ini adalah insan-insan hebat dengan cara tersendiri. Selalu ada hal baru yang menarik untuk dipelajari. Kisah-kisah menawan yang dibagi, perjalanan hidup dan pandangan luar biasa yang sebelumnya tak terpikirkan. Dan saya harap semoga mereka berkenan untuk melanjutkan Liebster Award ini agar tak terputus begitu saja. Sejauh mana kita mengenal orang-orang?

Sudikah menjawab 11 hal ini?
1.       Apa arti perjalanan hidup bagi Anda?
2.       Bagaimanakah cara mendapat kesejatian?
3.       Jika rumah bukan sekadar tempat singgah, rumah macam apakah yang diinginkan?
4.       Buku dan film apa yang paling menarik untuk dibaca dan ditonton?
5.       Deskripsikan tentang hujan!
6.       Pernahkah patah hati, dengan cara apa mengatasi?
7.       Ceritakan tentang kota asal.
8.       Suka game, jika iya mana yang paling disuka?
9.       Sejak kapan nge-blog?
10.   Dengan cara bagaimana Anda mengenal saya?
11.   Ceritakan sisi diri saya dari blog ini.

11 insan pilihan sebagai yang tersayang:
1.       Nurul S. Huda > http://hudasanca.blogspot.com
3.       Arifah Abdul Majid > http://rumahjurnalku.blogspot.com
4.       Lia Caem > http://catatanjulian.blogspot.com
5.       Rizqy Maulana H > http://maulanaforu.blogspot.com
6.       Ruthadaning Inayaa > http://nyareinfo.blogspot.com
7.       Sopyan Nurcahyana > http://diaryalerga.com
8.       Gunawan Efendi > http://goresan-gunawan.blogspot.com
9.       Dede Ruslan > http://catatanruslan.blogspot.com
10.   Junaidi Khab > http://junaidikhab.wordpress.com
11.   Evi Sri Rezeki > http://myfairytalemytale.blogspot.com
Demikianlah, harapan saya semoga ada yang berkenan dan melanjutkan pada siapa yang dirasa layak untuk beroleh Liebster Award ini. Sebagai apresiasi atas jalinan silaturahmi antara blogger. Sebab, kita sebagai penulis yang menjadikan blog sebagai media ekspresi karya tentu berharap tidak sendiri dalam mengarungi aras kehidupan ini.
Ada banyak hal yang ditawarkan dunia blog. Tinggal bagaimanakah kita menyikapinya.
Terima kasih banyak, saya hanya seorang perantara, sebagaimana Rosiy juga.
Salam hangat dari Ikan Kecil Mengarungi Samudra Luas….

Limbangan, Garut, 25 Juli 2014


Kamis, 24 Juli 2014

Black is Geblek

JIKA ada yang bilang hitam itu warna yang sangat-sangat-sangat misterius, sama seperti halnya kucing hitam di malam kelam  yang sekonyong-konyong nongol mengedarkan pandang dengan mata setajam laser dan berkilat-kilat lalu menerkam tikus lewat untuk disantap. Ehm, itu sih kucing tetangga yang kelaparan dan rajin mengganyang hama bukan jejadian.
Saya tak berminat bicarain hal mistis dari efek warna hitam yang berkesan sangat dark. Iya, hitam itu gelap. Iya, hitam itu luwes jika dipadupadankan dengan warna apa pun. Iya, hitam itu unsur dasar alam yang paling dominan. Sepatu anak sekolahan saja wajib hitam semua apalagi sepatu tentara. Jadi ingat masa SMP dulu, sekolahnya ‘kan ketat dan super disiplin. Semua anak wajib bersepatu hitam tanpa kecuali. Benar-benar diskriminasi bagi sepatu putih apalagi yang pengen nekat nyeker dengan alasan pijat relaksasi kaki. Karena itu, kala SMU, saya balas dendam dengan pakai sepatu kets putih merek Y#$% yang sayangnya cepat jebol dalam hitungan bulan gara-gara merana dipaksa digeret-geret mulu sepanjang jalan kenangan desa berbatu-batu sejauh 3 km kurang lebih.
Saya tidak antipati dengan hitam, saya hanya merasa sedang alami pemberontakan warna, anehnya kebanyakan barang saya jarang yang berwarna hitam. Mungkin kecenderungan alamiah mencari sesuatu yang lebih bersinar. Seperti putih dan abu-abu (itu mah seragam sekolah!). Putih dan abu-abu dipadupadankan itu keren-keren-keren! *Waktu itu persepsi ABG labil yang bahagia bisa sekolah sampai SMU.
Yah, sejak kecil saya selalu beranggapan bahwa pelajar berseragam putih abu-abu itu insan unyu. Dunia saya masih terbatas perpektifnya. Boleh dikata, saya tak pernah memikirkan warna hitam untuk dijadikan bagian berbusana. Kecuali celana stretch hitam yang sepertinya seksi.
Dan untuk tahu bagaimanakah hitam memengaruhi aspek kehidupan, saya harus melakoninya dulu. Menjadi cerita sial yang tidak pantas ditiru. Jadi, Wahai Saudara pembaca tulisan ngeyel ini, jadikan bahan pembelajaran yang layak direnungkan semendalam-dalamnya penuh penghayatan agar tak kejeblos lubang hitam sama.
Minggu pagi yang cerah dan bertralala adalah jadwal ekskul latihan karate di sekolah saya. Napa tralala? Bagi jomblo akut yang sudah lama putus dengan pacar tersayang (saya yang minta putus, hihi), saatnya ngelaba pada teman sekolah beda kelas yang juga sama ikut karate, senpai bersabuk satu tingkat di atas saya karena sudah lama ikut ekskulnya sejak 3 SMP. Bahagianya jika tiap hari bisa lihat doi yang sudah saya gebet pada pandangan pertama kala sama-sama diopsek. Meski cuma lihat doang dan tak bersapa-sapaan. Duluan senyum saja saya tak bisa. *Malu itu kaku, kaku itu malu. Malu-malu tapi mau.
Yang bikin saya tambah senang adalah akan ramai-ramai pelesir ke Curug Cindulang di Cicalengka bareng beberapa teman sekelas. Jadi, saya ribet sendiri bikin persiapan busana apa yang terbaik. Saya pengen keren. (Kala itu kata gaul bukanlah pilihan diksi populer karena gaul artinya bergaul-pergaulan-pokoknya interaksi bukan gaya hidup atau konotasi macam sekarang ini.) 
Tahulah sebagai cewek saya merasa rada ribet, piknik ke sungai serasa ke pesta saja. Jadi, dengan noraknya saya pakai all black dari ujung kepala sampai kaki. Sepatu pantofel hitam, celana jeans Levi’s hitam, kemeja hitam (hasil colong pinjam punya kakak lelaki), tas sekolah hitam (salah beli), dan topi hitam (hasil paksa pinjam punya teman lelaki yang lagi bengong di depan rumah orang, gak tahu mau ngapain). Alhasil, dengan barang-barang hasil gituan, saya merasa sukses jadi nona layak gabung di tim MIB (Men in Black). Eh, enggak, ding, layak pesta siang bolong, hahaha….
Saya senang karena berasa jadi puhatirang (pusat perhatian orang), serba hitam gini bagi saya semoga bisa membuat gebetan suka. Halah, pamrih. Tapi ada juga sensei (guru karate) yang bertanya apakah saya akan pergi ke Kota Bandung. Habis, tumben saya resmi banget bergayanya. Biasanya cuma pakai kaos oblong dan sandal model jepit doang. Tadi juga di jalan, kala menunggu sado, saya sempat “sial”, elf selalu berhenti tepat di depan saya. Masa saya harus loncat naik ke atas elf padahal jarak sekolah tidak terlalu jauh dan cuma dalam hitungan menit bersado.
Saya adalah insan konyol, selepas latihan karate dan jam istirahat, langsung cabut dari dojo yang cuma di halaman sekolah setelah Sophie, sobat sebangku, nongol. (Namanya Siti Sopiah, asal Kampung Saapan, Cigawir, Sophie adalah panggilan sayang saya untuknya.) Pamit pada yang lain. Padahaaal, sih, saya masih ingin terus latihan, terus ngelaba pada subjek cinta platonis jilid IV yang itu-itu saja orangnya. Apalagi jam 10 itu, cuaca lumayan bagus dan hidup bagi saya baik-baik saja sebagai jomblo yang tak risau dengan status kejombloannya (saya suka menghindar tiap diuber cowok!).
Konyol karena napa harus buru-buru cabut latihan sebab teman-teman pada ngaret datangnya. Jam 10 molor sampai nyaris tengah hari. Di mana-mana ternyata yang namanya ABG labil selalu pada ngaret. Terpaksa berbengong ria di rumah Ipih, base camp kami di sebelah Puskesmas Limbangan. Foto-foto gaje pakai kamera saku plus gaya kaku. (Kala itu selfie belum musim!)
Begitu semua pasukan piknik berkumpul plus barang bawaan berupa nasi dan lauk pauk untuk liwetan, ternyata ada seorang personel yang tertinggal. Nani, komandan pasukan sampai merengut kesal karena mamang angkot carteran pulang-pergi BT menunggu (sebenarnya istilah pulang pergi atau PP terasa janggal, tapi apa boleh buat atas nama kelaziman terpaksalah kejanggalan itu mengabadi). Terpaksalah cowok tengil bernama Abu (yang saya sayangi sampai sekarang), dijemput langsung ke pesantrennya di Cibiuk, dari Limbangan angkot harus memutar arah ke Jalan Leuwigoong demi misi penyelamatan pemaksaan Abu yang entah lupa atau sulit izin dari pesantren tempat mondoknya.
Alhamdulillah, kami tiba dengan selamat di Curug Cindulang (atau juga sering disebut Cinulang). Tidak sebesar Tawang Manggu dengan air terjun Grojogan Sewu, sih. Namun saya senang bisa ngerasain asyiknya hura-hura bareng teman sekelas. (Berasa muda lagi kala menulis ini!)
Jarak dari Limbangan ke Cicalengka lumayan jauh, sekira 1 jam kurang lebih. Ke curug ternyata harus berbelok menuju jalan menanjak dan itu lumayan jauh juga, melewati jalan desa lalu perkebunan dan hutan. Lumayan sepi. Duh, napa banyak lumayan. Garing!
Di sungai, saya menyesali diri karena pakai sepatu pantofel yang tidak mungkin diajak berbasah-basah plus tidak nyaman melewati jalan berbatu, kepanasan dengan serba hitam karena bergerak di ruang terbuka tengah hari gitu, merasa kurang kinclong akibat efek warna jadilah di foto saya terlihat kusam. Huhu, pengen tukaran atasan saja dengan Abu yang pakai kaos pink keren! Iya, Abu pakai kaos pink tapi tetap terlihat pantas, warnanya pastel gitu dan ada tulisan Spirit (atau Esprit?) entah apa -- yang jelas bukan gambar Barbie, hehe…. Dan tas saya yang isinya cuma baju karate doang terasa ikut panas di punggung, bahannya karet lateks, benar-benar efek salah beli!
Sejak itu saya kapok dengan hitam. Kapok siang-siang pakai busana hitam, kapok beli beli tas bahan demikian (korban musim!). Ternyata saya butuh waktu lama untuk menyadari info penting setelah dewasa. Warna hitam tak oke dipakai tengah hari membara gitu! Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri.
Alam punya cara untuk menyerap warna dasar kehidupan, seperti hitam yang entah mengapa sangat cepat menyerap panas dibanding putih. Ehm, baju karate saya syukurnya putih. Dan sampai sekarang saya tak begitu suka fashion warna hitam!***
Limbangan, Garut, 24 Juli 2014

Artikel ini diikutsertakan pada #BlackGiveaway


#Giveaway #NyareInfo #RuthadaningInayaa #BlackGiveaway


Yuk Travel Kuliner ke Wonosobo




Lambang dari Wikipedia

APA yang menarik dari suatu daerah selain alam dan budayanya? Kuliner!
Urusan lidah dan perut adalah fitrah dasar manusia yang tak bisa dikesampingkan. Dan setiap daerah memiliki keunikan tersendiri sesuai kondisi geografis dan topografinya. Alam Wonosobo yang sebagian besar  berupa pegunungan dan dengan hawa dingin memberi sapuan warna bagi ragam kulinernya.
Barangkali banyak yang tidak tahu apakah Wonosobo itu?

 Gambar dari Wikipedia
Wilayah Wonosobo merupakan suatu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dengan ibukota Wonosobo. Di timur berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Magelang, di selatan berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, di barat berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan Banjarnegara, di utara berbatasan dengan Kabupaten Batang dan Kendal. Boleh dikata Wonosobo sangat strategis dan mudah dijangkau dari mana saja. Belum lagi alamnya yang sebagian besar berupa pegunungan menambah daya tarik pelancong untuk bertandang.
Kabupaten Wonosobo berdiri pada 24 Juli 1825, yup berarti hari ini merupakan hari jadi Wonosobo yang ke 189. Selamat, ya. Aaah, berharap suatu saat kelak bisa bertandang ke sana. Menikmati panorama alam sekaligus wisata kuliner. Panorama alam Wonosobo sungguh menakjubkan. Dulu yang saya tahu cuma candi dan pegunungan Dieng doang, eh ternyata masih banyak tempat wisata lainnya di sana. 
Namun kali ini saya ingin membahas sedikit panduan mengenai potensi kuliner khas Wonosobo. Tidak kalah ciamik dengan Bandung kota kelahiran saya, apalagi Garut yang merupakan rumah saya sekarang. Rasanya saya sangat-sangat-sangat ingin merasakan sensasi yang berbeda. Ingin melongok dapur warga Wonosobo! *Efek mendadak lapar kala saum ramadhan gini, hehe.
Kegiatan traveling tanpa mencicipi kuliner khas Wonosobo terasa hambar. Ada banyak makanan khasnya yang menggiurkan untuk disantap. Yuk intip! *Siap-siap daftar belanja untuk praktik bikin.
1.      Mie Ongklok, adalah mie yang direbus dengan cara digoyang-goyang (diongklok) dan dengan kuah daging kental berkanji (luh). Rasanya, ehm yummy. Enak dimakan panas, sangat pas dengan hawa dingin Wonosobo. Berminat bikin atau tahu bagaimana komposisi bahannya? Cekidot resep Diah Didi’s Kitchen disini!
2.      Tempe kemul, adalah tempe goreng balut tepung, semacam tempe mendoan. Namun yang khas darinya adalah bahan dan racikan bumbunya. Pakai tepung terigu, tepung kanji, dan santan, berikut bumbu-bumbu utama seperti kunyit, ketumbar, kencur, kemiri, bawang putih, dan kucai. Tambahan kunyit memberi warna kuning yang khas. Enak disantap panas dan dengan tambahan cabai rawit nan menggigit. Resepnya di sini!


 

3.      Opak singkong. Ehm, kata opak tuh familiar banget di kampungku. Semacam penganan yang disangrai atau digoreng dengan bahan dasar ketan atau singkong. Biasa dibentuk bulat tipis seperti opak Cipeujeuh/cipati di kampungku ini yang terbuat dari ketan. Namun rupanya opak singkong khas Wonosobo berbeda. Siplah, bisa menambah pengetahuan kuliner nusantara. Bahan dan cara bikinnya sederhana, dari singkong rebus yang dipipihkan, dicampur garam dan kucai, lalu dijemur kering.

4.      Lekok atau geblek, semacam cireng (aci digoreng) ala Wonosobo. Bentuknya kayak pretzel dipilin-pilin gitu. Atau modifikasi kayak lanting (penganan khas Jawa, renyah dan keras), namun lekok lebih lunak dan sedap disantap panas-panas.

5.      Sego megono, semacam tumisan yang kayak urap karena bahannya kacang panjang, buncis, teri, kelapa parut, plus bumbu-bumbu.
6.      Dendeng gepuk, bikin penasaran karena tiap daerah punya bumbu khas dan cara masak berbeda dalam membuat dendeng.
7.      Manisan carica. Salah satu yang terbaik secara standardisasi mutu adalah produk Carica Gemilang. Carica adalah semacam pepaya gunung yang tumbuh di dataran tinggi Dieng. Ukurannya lebih kecil daripada pepaya biasa dan membulat. Sangat cocok untuk memenuhi nutrisi tubuh karena kaya kandungan gizi.


8.      Kopi Bowongso. Tidak lengkap rasanya jika kuliner tidak disertai minuman seperti kopi. Aromanya yang khas dan harum bisa menenangkan tubuh. Kualitas terbaik dari biji kopi pilihan dengan cara tanam dan petik yang tak sembarangan menghasilkan kualitas kopi premium siap ekspor ke mancanegara. Rugi rasanya jika tak merasakan sensasi ngopi ala Wonosobo dengan Bowongso Coffee asal Kalikajar.
9.      Teh Tambi, relaksasi dengan menyesap teh hangat bisa membawa sensasi tersendiri. Cocok untuk buah tangan.
10.  Selain itu, masih banyak lagi jenis kuliner lainnya yang bisa disantap di tempat atau dibawa sebagai buah tangan seperti kacang dieng, kripik jamur, purwaceng, dan lain-lainnya.

Bagaimanapun, menjelajah Wonosobo demi wisata kuliner tidak cukup dalam waktu sehari. Ada banyak tempat yang menyajikan keunggulan. Seperti mie ongklok mana yang paling enak dan direkomendasikan, tempe kemul mana yang paling kriuk, sampai manisan carica mana yang paling top. Yang terpenting bagi pelancong beroleh kepuasan tersendiri.
Dari hasil penelusuran di google, mie ongklok Longkrang di Jalan Ronggolawe No. 14  dan Pak Muhadi masuk peringkat yang terdaftar di Foursquare. Tempe kemul memang bisa diperoleh di mana-mana. Dan manisan Carica Gemilang bisa merambah ke banyak tempat di luar kota Wonosobo sendiri. Sayang di Limbangan, Garut, saya tak lihat itu di pasar sampai toserba. Carica masih terasa asing.
Ah, tunggu apa lagi? Jika tertarik, mari berkemas atau rencanakan perjalanan ke Wonosobo. Jika belum siap, bisa praktik bikin makanan khas Wonosobo di rumah sembari membayangkan panorama alam Wonosobo yang menakjubkan!
Jika di tempat Anda tidak tersedia manisan dan sirup Carica Gemilang, bisa dipesan langsung ke pabriknya. Sudah ada akun Facebook-nya, lho. Begitu pun jika Anda meminati kopi Bowongso, asli Wonosobo, bisa pesan ke rumah produksinya di Kalikajar.
Betapa kuliner Wonosobo yang sebenarnya sederhana namun istimewa karena adanya perhatian pada mutu produksi plus kualitas bahan, bisa GO LOKAL! Dan semua tak lepas dari peran serta warga Wonosobo sendiri demi memajukan sumber daya alam (SDA) berbasis sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Dan peran serta pemerintah turut andil demi menyejahterakan masyarakatnya.
Kepemimpinan Wonosobo saat ini dipegang oleh Bupati Kholoq Arif dan Wakil Bupati Maya Rosida. Selamat hari jadi Wonosobo. Semoga Wonosobo kian bersinar sesuai semboyan lambang daerahnya: ASRI (Aman, Sehat,Rapi, Indah). Betapa beruntungnya Wonosobo karena telah dianugerahi alam yang sedemikian memukau dan dikepung bentang pegunungan tertinggi di Pulau Jawa. Seakan surga muncul dari kahyangan. Andai langkah saya bisa bersegera ke sana. Merasakan dinginnya hawa diredam panasnya kuliner khas yang mengepul dan menguarkan aroma harum.
Dirgahayu ke-189, Wonosobo!***
Limbangan, Garut, 24 Juli 2014

Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway #HariJadiWonosobo189

http://golokalmagz.wordpress.com/2014/07/01/giveaway-menulis-artikel-blog-harijadiwonosobo189/
 




























Senin, 21 Juli 2014

Perkenalan dengan Bebek



Perkenalan dengan Bebek


D
ARI kecil saya tak peduli pada makhluk itu. Suka sih baca komik Donal Bebek sampai menonton film kartunnya, namun tak pernah perhatiin jenis-jenis bebek dalam kehidupan nyata. Dulu juga ibu pernah piara bebek entok yang hobi cebar-cebur di balong rumah kami di Bandung sampai terpaksa “lenyap” sebagai hidangan keluarga, dan saya tak terlalu ingat bagaimana detailnya.
Namun perkenalan sesungguhnya dengan bebek terjadi selepas SMU, di rumah teman ada tetangga yang piara bebek jenis angsa dan saya menontonnya karena kagum saja. Tak tahunya bebek itu marah ditonton saya, padahal cuma sekilas lihat saat hendak ke warung. 4 ekor jalan beriringan, induknya dengan dua anak. Pak atau Bu Bebek malah mengejar saya dengan paruh panjang sembari meleter nyaring, lehernya menjulur ke depan dan sayap dikepak-kepak, disoraki keluarga besarnya. Lho, kok malah diusir dan dimarahi? Terpaksa kabur tungang-langgang karena seumur hidup belun pernah diserang bebek dan tak tahu bagaimana rasanya jika moncong itu malah mematuki atau terbang hinggap di kepala saya. Siapa yang tidak berdebar, coba?
Saya justru terpikir untuk miara bebek setelah dewasa, entah napa. Terjadi begitu saja ketika menulis surat untuk seorang kawan, Mazfans; bercita-cita piara ayam, bebek, kelinci, dan kambing di kampung halaman. Hanya ayam dan bebeklah yang bisa dipiara soalnya tak bisa ngarit rumput. Tinggal dikasi makan dedak sampai nasi sisa.
Bebek pertama kami dikasi seorang saudara dari Bandung. Sepasang jantan dan betina, entok putih. Cukup besar untuk kawin. Namun ibu jengkel karena si jantan malah sempat hilang setelah ajak betinanya ngeluyur sambil cebar-cebur di balong orang, Itu cukup jauh dari rumah, tak tahunya si jantan cuma ngumpet di kolong rumah panggung Bi Titi yang dekat balong. Jelang petang berhasil ditangkap dan diamankan dengan pemberontakan dan leteran nyaring; “Tidaaak, aku tak sudi diperlakukan tak adil! Jangan tangkap, jangan tangkap! Jangan perlakukan tubuh dan sayapku seolah aku binatang malang disewenang-wenangkan, argh...!”
Ibu terpaksa menyembelihnya karena sebal, dikurung ribut mulu pengen keluar, dibiarkan keluyuran takut hilang atau kabur sebagai bebek buronan paling dicari. Tinggal si betina yang dibiarkan tetap hidup sebagai piaraan karena dianggap berkelakuan cukup baik, tak doyan keluyuran, kita sebut saja Desi Bebek. Yang terpaksa dipulangkan ke alam baka sebagai santapan, sebut saja Donal Bebek. Yah apa boleh buat bebek pemberontak itu bisa memicu revolusi, mengajak Desi kabur juga, barangkali. Daripada kehilangan seekor atau sekaligus, dalam pemikiran ibu mending Donal dimanfaatkan dagingnya. Tak peduli Desi butuh pejantan unggul untuk kawin. Dasar ibu!
Butuh waktu cukup lama bagi Desi untuk kawin dan beranak. Dititip pada Bi Wati dan Mang Kosim yang juga piara bebek untuk sementara diurus mereka ternyata tak menghasilkan anak. Entah telurnya gagal tetas atau dikorupsi. Jadi Desi terpaksa dipulangkan. Dipiara di kolong rumah panggung kami. Sebelumnya harus adaptasi dulu, tidak begitu saja boleh keluar. Dibiarkan keluyuran di luar setelah terbiasa dengan habitat barunya.
Dan saya bengong ketika suatu pagi Desi malah bersahut-sahutan dengan sepasang bebek entok jantan dan betina punya tetangga sebelah atas. Ada apa? Berantem. Kata ibu cuma kenalan dan ngobrol. Busyet! Saya takut Desi dikeroyok dua bebek tetangga yang berbulu hitam putih. Memang sih sepintas gitu. Keduanya matuk Desi dan Desi membela diri sambi mundur, saya terpaksa turun tangan untuk membela Desi dengan mengusir sang pengacau. Aman. Namun beberapa waktu kemudian kejadian tersebut berulang. Saya bosan, toh Desi bisa kabur atau menjaga diri jika benar-benar “dianiaya”. Polah kaum binatang suka membingungkan.
Tambah bingung ketika pada akhirnya mereka malah jalan bareng. Perkenalan dah berlanjut membentuk geng bebek? Yah biar saja. Setidaknya Desi tak kesepian, syukur-syukur bisa kawin dengan jantan tetangganya. Dipoligami, ihik. Dan madunya pasti cemburu sebab galak pada Desi. Namun tak bisa apa-apa sebab harus mengerami telur dari pejantan tangguhnya yang selingkuh.
Pada akhirnya Desi beranak juga, telurnya banyak. Anak yang tersisa cuma 6 ekor dari selusin butir telur. Ibu yang mengambili telurnya, katanya kalau kebanyakan takut repot atau tak jadi dierami. Pertama diberi tahu ibu bahwa telurnya telah menetas, pada suatu pagi, saya kagum banget. Ih, culun pisan anak-anaknya. Mungil dengan bercak kuning dan hitam, ada juga yang kuning polos semua. Beda banget dengan Kwik-Kwak-Kwek di komik Donal Bebek. Pokoknya menggemaskan bagi saya, baru seumur hidup pada akhirnya punya bebek piaraan yang beranak banyak.
Ibu menaruh mereka di kolong dapur yang rendah dan berlantai bambu yang ada lubangnya. Dari lubang yang biasa dipakai untuk ngasi makan dan minum, saya tergoda untuk memegang seekor anak bebek. Tertangkap. Si anak karuan mewek, dan induknya ngamuk. Saya tak peduli, cuma ingin memegang dan mengelusnya saja. Desi masih ngamuk-ngamuk  sambil mondar-mandir di bawah kolong. Pada akhirnya saya kembalikan anaknya, Desi berhenti ngamuk. Mereka diam. Namun saya tak bisa menghentikan kebiasaan usil, kalau kumat kembali menangkap satu-dua untuk dipegang dan dielus-elus saja. Cuek Desi ngamuk, cuek anak-anak malang itu syok berat diangkat tiba-tiba lalu  badan mereka “digerayangi”. Buang bom yang mengotori tangan dan lantai bambu sebagai hadiah untuk kejailan saya. Argh!
Saya tak menangkap mereka lagi ketika dah besar dan boleh keluyuran di halaman. Punya hobi baru: jadi pengamat. Bisa bermenit-menit menonton polah mereka, dari makan, minum, tidur, sampai cara jalan yang superculun. Tiap saat menghitung jumlah mereka. Soalnya konyol banget, anak-anak selalu saja ada yang terjatuh ke bawah halaman rumah tetangga. Pasti rasanya sakit jika gitu. Dan saya repot mengawasinya karena batas halaman batu itu tak berpagar. Terpaksa turun ke bawah untuk mengambil budak bangor yang sulit ditangkap, mana harus melindungi diri dari amukan Desi. Ngerti gak saya cuma ingin nolong bukan culik! Desi emang selalu gitu pada siapa saja. Memandang curiga. Si anak kabur ke arah lain, saya ikuti, ia berkelit sambil mewek-mewek ditonton saudara-saudaranya yang entah napa seolah jadi backing vocal, dan saya atau siapa saja harus berhati-hati jangan sampai Desi  terbang  menyerang. Pokoknya untuk melakukan aksi penyelamatan itu kita harus siaga juga agar selamat dari amukannya.
Si anak tertangkap. Dengan hati-hati saya taruh di tempat aman dan cukup jauh dari Desi.  Bocah itu segera lari menghampiri induknya yang masih meleter nyaring. “Sompret!” Namun tidak lama, setelah dirasa aman mereka akan diam dan kembali melakukan aktivitas harian. Begitu tenang. Namun kejadian tersebut terus berulang. Jatuh. Aksi penyelamatan. Koor leter super bebek mania. Begitu terus, sampai mereka cukup besar untuk tak jatuh ke bawah lagi, atau setidaknya bisa memastikan tempat mana yang aman.
Menikmati polah lucu para bebek adalah hal menyenangkan. Kalau tidur siang mereka akan berbaring di sekitar Desi sambil merapatkan sayap dan meringkuk. Begitu damai dan nyaman. Bahkan ada saja yang naik ke atas punggung sampai leher Desi. Tidur di sana dengam mata mengantuk dan kepala terangguk-angguk yang sontak bisa tegak waspada begitu terdengar suara mencurigakan. Seperti langkah orang lewat. Mereka akan kembali melanjutkan acara tidurnya kalau dirasa dah aman. Begitu seterusnya. Dan saya betul-betul menikmati polah mereka, sangat berbeda dengan ayam yang lincah dan sulit ditangkap. Gaya jalan bebek yang megal-megol lenggang-lenggok dan mudah ditangkap itu serasa hiburan. Betapa Tuhan penuh selera humor. Menciptakan makhluk lucu yang proporsional. Ya, lihat saja anatomi tubuhnya, seimbang dan tak sia-sia. Pendek montok (mungkin karena itu disebut entok?), dengan bagian belakang yang kalau jalan lenggang-lenggok. Jadi, entok itu = pendek montok atau pendek montok lenggang-lenggok? Hehe....
Sebelum beranak, Desi itu sulit makan dan pemilih banget. Cuma doyan kangkung bukan dedak apalagi nasi. Padahal tak tiap hari kami makan kangkung. Itu masalah kebiasaan, barangkali di tempat asalnya ia tak kenal dedak karena mahal dan daerah perkotaan. Jadilah Desi bebek kota yang tak kampungan. Bikin bingung karena meskipun sudah usaha dibiasakan dengan dedak dari hasil menggiling padi di pabrik huller campur kangkung dan sayuran hujau lainnya, Desi cuma asal cicip. Ia akan icip-icip dikit lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah ogah pada dedak itu. Dan cuma akan menyantap kangkung atau sayuran hijau lainnya saja jika dicampur. Desi pun kurus dengan sukses. Bebek veggie yang tak montok dibanding madunya. Itu mencemaskan kami. Namun pada akhirnya Desi terpaksa (atau dipaksa?) mengubah pola makannya setelah beranak banyak. Barangkali karena kelaparan. Itu pun sedikit saja icip-icip pada dedak. Masih disertai gelengan kepalanya kuat-kuat. Sampai anak-anaknya yang besar sebagai barudak kampung pun ikut-ikutan gaya Desi. Tidak terlalu pemilih memang dengan alasan lapar. Malah menjelang gede mereka rakus pisan. Terpaksa menambah porsi jatah makan mereka. Ibu negur karena saya keseringan kasi jatahnya banyak-banyak, katanya harus menghemat dedak karena tak setiap saat kami menggiling padi, dan kadang beli dedak di pabrik kampung. Alasan saya biar cepat gede semua. Dan beranak banyak. Belakangan setelah dewasa, hanya 5 ekor yang tersisa. 3 jantan dan 2 betina. Yang satunya lagi (entah jantan atau betina)? Saya lupa ke mana. Yang dua ekor pada akhirnya dibeli tetangga, sepasang jantan dan betina ABG. Cuma 10 ribu per ekor.
Kata ibu berat ngasi makan karena mereka pada rakus semua. Bagaimana tidak rakus, saya kasi makan 3 kali sehari. Pagi, siang, dan jelang sore. Ya, agar malamnya mereka tidur kenyang sebagai bebek yang diperlakukan adil dan kelak bisa melapor pada Tuhan, bahwa mereka bahagia dipiara saya. Amin.
Kegalakan Desi tetap berlanjut sepanjang hayatnya, kalau lagi meleter ngomel-ngomel pada orang lewat, anak-anaknya akan ikut menyahuti. Namun yang menyedihkan, Desi sering mengejar anak-anaknya tanpa alasan yang saya pahami. Bocah bangor yang dikejar induknya langsung lari terbirit-birit sekencang-kencangnya sebab kalau tertangkap akan habis dipatuki nyokapnya yang kumat. Saya kasihan melihatnya, pernah coba memisahkan mereka namun lebih sering tak berdaya melihatnya karena berada di luar jangkauan saya. Apakah Desi berlaku sebagaimana mestinya sebagai ibu yang sedang memarahi (baca: mematuki) anaknya yang badung dan tak mau menurut atau kurang ajar dalam pandangan kaum bebek? Wallahu a’lam. Apakah yang dilakukan Desi lumrah adanya dalam kehidupan kaum bebek sebagaimana ibu-ibu kaum manusia yang memarahi anaknya dengan cara menghajar atau memukul atau mencubit atau menjewer? Bagi Desi, ia hanya punya paruh maka digunakannya, kadang kakinya mendarat telak di tubuh sang bocah malang. Saya bingung karena baru kali ini melihat ibu bebek yang super galak. Baik dan melindungi pada anak-anaknya, namun di lain waktu bisa ngamuk-ngamuk sambil mengejar mereka. Dan bocah sial adalah yang paling berhasil menarik perhatiannya atau telah membuatnya sewot.
Ketika anak-anaknya besar dan melebihi ukuran tubuh Desi, kegalakan Desi tak berkurang dan anak-anaknya tetap patuh untuk takut lantas lari terbirit-birit jika dikejar induknya yang sedang ngamuk. Desi adalah induk yang super menakutkan bagi anak-anaknya, namun tidak bagi madunya. Desi tetap takut pada si betina bebek tetangga yang cemburuan dan suka mengejar Desi untuk “dihajar” dengan paruh dan kakinya. Pejantan hanya melihat tak berdaya. Cuma bisa melihat sambil meleter-leter, barangkali coba melerai namun tentu saja tak diindahkan bininya yang cembokatan.
Desi, ketika sedang dihajar madunya malang sekali, seolah pasrah, posisi tubuh ditindih, sayap terkulai, dan kepala dihajari aneka jab mematikan. Namun dalam kehidupan kaum bebek, Desi tak sampai terbunuh karenanya sebab bebek dewasa, beda dengan bebek kanak yang rentan terluka lantas mati karena hajaran seniorennya.