HOME/RUMAH

Minggu, 23 Maret 2014

Penipuankah? Gak Pernah kirim Aplikasi ke Situs Careers!

Account Operator (IDR 1,100,000 - 1,600,000 per week) + 29 new jobs - Job Alert from JobStreet.com

Ke Saya
Mar21 pada 2:18 AM
Kami menghubungi Anda mengenai aplikasi Anda di situs Careers dan kami
menganggap Anda memenuhi kriteria kami untuk posisi . Payment Manager.
Perusahaan kami, Gran Turismo Club, sedang mencari karyawan paruh waktu.
Para pekerja yang baru kami rekrut memiliki kesempatan untuk mendapatkan
penghasilan dari Rp 1,100,000 hingga Rp1,500,000 per minggu.
Perusahaan kami berhubungan dengan orang-orang dan organisasi di belahan
dunia yang berbeda. Salah satu arah lapangan kerja kami adalah layanan
transfer di seluruh dunia. Ke mana pun orang ingin bepergian di mana pun
mereka berada, perusahaan kami ada di sini untuk membantu mereka dengan
tarif dan layanan konsumen terbaik! Untuk mengoptimalkan manajemen, kami
mempekerjakan orang-orang yang penuh perhatian, kreatif, dan bertanggung
jawab.

Untuk menjadi bagian dari tim besar kami, Anda perlu memiliki motivasi,
ijasah SMA atau universitas, keinginan untuk menghasilkan uang, serta
perhatian terhadap detil dalam proses transfer pelanggan. Anda juga
perlu memiliki keterampilan organisasi kerja dan pemecahan masalah
dasar.

Persyaratan Minimum:
- Berumur 21 atau lebih
- Memiliki KTP atau SIM yang masih berlaku
- Diperbolehkan bekerja di INDONESIA
- Tidak pernah melakukan tindak kriminal
Dengan menjadi bagian dari Gran Turismo Club, Anda akan memiliki
penghasilan tambahan yang baik dan kami juga memiliki sistem bonus yang
menggiurkan.

Jika Anda masih mencari pekerjaan, silakan email saya kembali -
rio.grande@gmx.com

Saya akan mengirimkan detilnya kepada Anda SECEPATNYA.
Kami akan meninjau jawaban Anda hanya dalam bahasa Inggris!
Periksa folder Junk pada email Anda jika email kami terkirim ke sana dan
bukan ke inbox Anda.

Best Regards,
JobStreet.com

PT JobStreet Indonesia, Wisma Bumiputera 5th floor, Jl. Jend. Sudirman,
kav. 75 Jakarta 12910

Privacy Policy - Copyright 2014 JobStreet.com
Klik untuk membalas se

Jumat, 21 Maret 2014

Menulis Biji Buah



Rubrik Bahasa

Menulis Biji Buah

Oleh Rohyati Sofjan 


*Penulis Lepas Cum Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Limbangan, Garut

M
utiara Aryani, kawan saya di Batusangkar dengan riang menyatakan keheranannya kala membahas soal resep salad yang dimuat suatu majalah terbitan ibukota. “Satu sisir buah manggis….” Ia tertawa. Bukankah menurutnya yang benar adalah satu juring buah manggis. Barangkali redaktur majalah yang bersangkutan  tidak bisa membedakan bahasa yang tepat atau bingung bagaimana cara menulis biji buah manggis. Analogi yang tepat, menurutnya adalah “juring”, sama seperti jeruk. Mutiara mengumpamakan jeruk karena susunan buahnya yang melingkar dan tinggal dicopoti dari cangkang atau kulit buah.
Demi ketenteraman bersama, SMS tersebut dengan jenaka saya teruskan pada Pak T.D. Asmadi, kawan saya yang bergiat di FBMM (Forum Bahasa Media Massa). Mengajukan argumen Mutiara dan argumen saya yang sependapat dengannya, sebab merasa “sisir” itu lebih tepat untuk hitungan buah pisang. Saat itu saya sedang berada di dalam elf  ke Bandung jadi tidak mungkin langsung merujuk pada kamus. Pak T.D.A. ternyata merasa bahwa kata yang tepat untuk buah manggis adalah “juring” bukan “sisir”.
Persoalan bagaimana cara menulis “satuan” atau “bijian” petak buah ternyata bukan perkara remeh. Sekali saja media terpeleset dalam ketidaktahuan macam tadi, bisa fatal akibatnya. Pembaca awam bisa ikut salah paham. Padahal maknanya beda jauh dan berlawanan. Alangkah elok kiranya jika redaktur majalah yang bersangkutan memeriksa dulu kata yang meragukan itu ke dalam kamus macam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Satuan sisir biasa dikenakan pada buah pisang. Barangkali karena bentuknya yang mengingatkan pada sisir untuk merapikan rambut. Dalam KBBI edisi ketiga sisir (n: nomina/kata benda), selain sisir beneran, bermakna gugus pisang (bagian dari tandan). Sedangkan juring (n) searti dengan ulas dan pangsa. Menyusuri halaman lain dalam KBBI untuk memahami ulas ternyata berarti bagian buah-buahan (jeruk, durian, dsb) yang berbentuk  ruang atau petak-petak (mudah dilepas atau dibuka dari bulatan buahnya). Pun pangsa berarti petak-petak dalam buah-buahan (seperti buah durian).
Tidak bisa dibayangkan lucu dan ironisnya jika petak-petak dalam buah manggis yang manis dan menggiurkan disebut sisir. Amboi, carilah cermin!***
Limbangan, Garut, 23 Desember 2013

Kamis, 20 Maret 2014

Kasih Makan Nasi Padang




Polah

Kasih Makan Nasi Padang

Oleh Rohyati Sofjan


            Orang Indonesia di mata bangsa lain barangkali dianggap berkarakter aneh. Salah satu contoh keanehan tersebut dialami kawan saya di tempat kerjanya, suatu perusahaan elektronik patungan PMA Jepang. Malam itu ia sedang jengkel, stres dan lelah. Tenggat pekerjaan membuatnya harus lembur sampai larut malam. Dan pada saat itu bosnya yang berkebangsaan Jepang dengan panik bertanya apa yang harus dilakukan pada anak buah mereka di bagian produksi karena menolak lembur sampai pagi, sebab situasinya agak ricuh dengan “demo” mereka.

Diberondongi pertanyaan demikian, kawan saya yang sebentar lagi ingin segera pulang, dengan jengkel dan tanpa pikir panjang bilang, “Kasih makan nasi padang saja!” Suatu kalimat yang ia sendiri tidak tahu mengapa harus dilontarkan dan membuatnya heran.

Bosnya tercengang. Lucunya, barangkali karena panik, sang bos menuruti saran kawan saya dan segera mengumumkan bahwa karyawan di bagian produksi akan diberi makan nasi padang jika bersedia kerja lembur. Pengumuman tersebut disambut dengan ketercengangan para karyawan. Anehnya, “huru-hara” para pendemo berhenti. Mereka langsung diam dan bersedia kerja lembur.

Rabu, 19 Maret 2014

Teras Terlarang - Fatima Mernissi

(Foto dari)
 
DATA BUKU
Judul        : Teras Terlarang, Kisah Masa Kecil Seorang Feminis Muslim
Penulis      : Fatima Mernissi
Penerjemah : Ahmad Baiquni
Penyunting  : Sari Meutia
Penerbit    : Mizan
Cetakan     : I, November 1999
Tebal        : xv + 271
ISBN        : 979-433-234-8
Harga              : Rp7.000 (Diskon dari Rp28.400)

Teks di Sampul Belakang:
Meski mengalami pengungkungan yang ketat, nyatanya, seperti yang diketahui kemudian, Fatima Mernissi tumbuh menjadi seorang cendekiawan Muslim yang karya-karyanya memengaruhi banyak orang. Terutama mereka yang berminat pada kajian feminism Islam. Maka adalah menarik untuk menyimak bagaimana benih-benih kritisisme itu muncul di dalam dirinya.
          Membaca buku ini kita akan tahu bahwa peran beberapa perempuan yang ada di dekatnya cukup besar memengaruhi tumbuhnya semangat pemberontakan di dalam dirinya kelak di kemudian hari. (Nurul Agustina-Peneliti Gerakan Feminisme Islam di Indonesia)
Buku ini mengantarkan pesan kebebasan Mernissi…. Buku ini menjadi catatan puitis dan menggembirakan tentang masa lalu yang mulai memudar, dilihat melalui mata seorang gadis kecil yang selalu ingin tahu; yang hidup dalam keluarga Muslim terpandang di Fez sebelum kemerdekaan Maroko.
Mernissi selalu ingin menjadi seorang pencerita yang fasih, dan kini -- bernostalgia melalui masa kanak-kanaknya sejak usia 3 hingga 9 tahun -- dia telah membuktikan bakatnya. (Murad Wilfred Hofmann-The Muslim World Book Review, Vol. 16, No. 4 Summer, 1996)


 


Dan Alam pun Bertasbih



Jelajah Pustaka

Dan Alam pun Bertasbih

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas


S
aya iri pada anak zaman sekarang, mereka beroleh akses informasi dengan mudah, bagus pula. Syukur-syukur jika mereka bisa menggunakannya untuk mengoptimalkan potensi diri ke arah yang lebih baik secara positif. Apalagi dunia penerbitan sekarang lebih maju dibanding dengan zaman saya masih bersekolah dulu. Itulah sebabnya mengapa saya iri ketika membaca buku ajar biologi anak tetangga yang pelajar kelas XII Madrasah Aliyah. Judul di atas merupakan judul buku ajarnya, diterbitkan Balai Pustaka (cetakan pertama, Mei 2008), dengan stiker “Milik Departemen Agama RI Tidak Diperjualbelikan”, itu milik sekolah.
Dan Alam pun Bertasbih, begitu puitis. Andai saja semua buku ajar menggunakan metafora sastra baik sebagai judul maupun isi pasti itu akan sangat menggugah minat siswa agar mereka mencintai ilmu dengan kesungguhan hati. Pelajaran biologi bisa disampaikan secara menarik dengan ilustrasi berupa tabel, bagan, grafik, dan beragam foto berwarna yang bisa mempermudah siswa untuk mengenali bentuk sekaligus keagungan ciptaan illahi. Yang lebih penting lagi adalah bahasa! Bagaimana menyampaikan sesuatu yang dianggap berat secara ringan, jelas, bernas, dan meresap. Bahwa tidak zamannya lagi siswa harus hafal tanpa paham substansinya. Mereka bisa belajar dengan rasa cinta pada ilmu. Belajar dengan rasa syukur dan tawadu pada Allah Sang Maha Mencipta, sebab relung kesadaran mereka digugah untuk merenungkan makna kehidupan. Manusia tak lebih dari partikel kecil dari penciptaan jagat raya ini. Ilmu semestinya disampaikan secara bersahabat dengan bahasa yang komunikatif dan mengena. Bahasa kering dan bertele-tele hanya akan membuat anak didik merasa berjarak dengan ilmu sendiri. Ini pengalaman yang pernah saya rasakan selama 12 tahun bersekolah di sekolah umum. Apa yang pernah disampaikan menguap begitu saja. Buku ajar tak lebih dari materi yang membosankan, sekumpulan teks miskin imajinasi. Itulah sebabnya saya iri pada anak zaman sekarang, mereka beroleh kemudahan yang mestinya dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Jika pelajaran sastra dianggap terpinggirkan, tidakkah sastra sendiri bisa diaplikasikan dalam beragam buku ajar? Setidaknya keindahan dan fleksibilitas bahasa Indonesia menyentuh masyarakat banyak, secara dini pula. Dan dengan itu, siapa tahu masalah kekacauan berbahasa bisa diatasi. Tentunya sastra yang tak mengabaikan gramatika.
Dan Alam pun Bertasbih sesungguhnya bisa membantu siapa saja untuk memahami biologi secara keseluruhan, dengan kajian islami. Buku yang terasa istimewa karena terdapat beberapa kolom seperti Tahukah Kamu agar kita bisa tahu berbagai macam keterkaitannya dengan materi yang dibahas; Aplikasi Nyata yang memuat artikel penting tentang materi terkini; Ayat-ayat Qauliyah berisi kutipan arti ayat-ayat Al Qur’an yang berhubungan dengan materi; Mutiara Hikmah; Hadist yang mencantumkan hukum Islam; Tafakur yang memuat kontemplasi mendalam terhadap fenomena alam yang didasari atas keseimbangan daya pikir dan zikir; Tokoh Muslim yang menampilkan sosok-sosok pahlawan muslim biologi yang berjasa; dan Fakta yang Menakjubkan.
Ilmu sesungguhnya sangat bermanfaat jika disampaikan dengan bahasa yang jelas sekaligus mengena, bukan saatnya lagi siswa dicekoki buku ajar yang abai soal itu. Alangkah indahnya jika bahasa Indonesia tidak melulu mencakup sastra semata peruntukannya.
Limbangan, Garut, 17 April 2011

Menuju Titik Nadir



Menuju Titik Nadir


Wajah Iskandar semuram mendung di luar taksi tumpangannya. Perpaduan kemarahan dan penyesalan, juga kesedihan dan kepedihan. Tidak! Ia tak semestinya menerima kabar yang menghancurkan tentang dirinya dan Ryana. Kehamilan Ryana, istrinya, yang kesekian dan sudah sangat lama mereka nantikan ternyata berbuah petaka. Hasil tes darah yang dilakukan untuk memeriksa apakah akan ada gangguan dalam kesehatan dan kehamilan Ryana, menunjukkan istrinya positif mengidap virus HIV! Iskandar merasa disedot ke dalam pusaran badai dan tak tahu jalan keluar. Ia seolah bocah yang ingin pulang namun tak sampai-sampai.

Cerpen Rohyati Sofjan


I
a mengingat adegan dalam ruang pemeriksaan ketika dengan tenang sekaligus hati-hati Dokter Laksmi Rakasiwi memaparkan ketakterdugaan soal hasil tes darah bahwa Ryana…. Ah, mengingat kilas-balik itu Iskandar kian dihunjami rasa bersalah. Ia tahu dari mana muasal virus itu. Ialah yang menularkannya! Tidak mungkin Ryana -- yang bersih dari pengkhianatan.
Waktu itu Ryana terguncang. Iskandar cuma diam. Ia juga diam ketika Ryana meneriakkan penyangkalan.
“Itu tidak mungkin, Dok! Saya bersih, bukan pemakai narkoba, juga tak pernah menerima transfusi darah. Apalagi zina….” Napas Ryana tersengal dalam satu tarikan panjang. Lengan kiri Iskandar dicengkeramnya. Dan sorot mata Ryana itu, ah, Iskandar begitu membenci diri sendiri, betapa terekam penyangkalan dan kepedihan yang begitu dalam.
Dokter Laksmi hanya tersenyum. “Soal itu saya tidak tahu, namun barangkali Tuan Iskandar bersedia….” Ucapannya menggantung, ia mengalihkan pandangan pada Iskandar yang hanya diam.
“Katakan padaku, Iskandar, apakah kamu penyebabnya?” Ryana mengguncang lengan suaminya yang semula dicengkeram, dengan keras. “Kumohon.”
Senyap mengambang selama beberapa saat. Bagi Iskandar udara seolah sengak dan ia terperangkap.
“Barangkali,” jawabnya pelan. Begitu pelan dan berusaha menatap mata Ryana untuk tahu reaksinya, namun tak kuasa.
“Namun bagaimana?” kejut istrinya.
“Aku,” Iskandar menghela napas. Berat. Kehilangan kata, kata terbaik yang sering ia lontarkan dalam presentasi rapat perusahaan sekalipun.
Ryana mendengus. Lalu, “Ini bukan menyangkut soal kamu saja!”
“Aku tahu,” sesal Iskandar.
“Dan?” Nada suara itu, o, begitu tajam.
“Dan… aku telah melakukan kesalahan.”
“Kesalahan yang berimbas pada orang yang mencintaimu, juga janin dalam kandungan ini….” Suara itu mencapai taraf kasar, sesuatu yang jarang Iskandar dengar dari mulut istrinya, yang ia tahu penyabar sepanjang kebersamaan mereka selama ini.
Ia betul-betul marah, pikir Iskandar. Dan ia berhak untuk itu. Sedang aku? Pesakitan dungu lagi gagu. Seorang pendosa tak berharga.
“Sialan kamu, Iskandar!” sentak Ryana lalu bangkit dari kursinya. “Kita bicarakan ini di rumah. Sebaiknya kamu naik taksi.” Dengan kasar direnggutnya kunci mobil yang tergeletak di atas meja. “Saya pulang dulu, Dok. Sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya. Terimakasih banyak, dan maaf…,” Ryana mengangsurkan tangan pada Dokter Laksmi yang hanya bisa terpana. Sungguh, meski sedang mengalami berbagai krisis, baru kali ini ia bertemu dengan seorang pasien yang begitu tenang dan tegar. Hanya matanya saja yang disaput kabut luka mendalam. Ia tak menangis, seperti ada sesuatu yang ditahan.
Namun disalami juga pasiennya dengan kagum dan seulas senyum. “Hati-hati di jalan, Bu.”
“Dan kamu, Iskandar,” suara Ryana penuh cekat, “sebaiknya bicarakan semua dengan dokter jika masih punya keberanian sebagai seorang lelaki sejati….”

“Saya biseks,” kata Iskandar kemudian. Setelah istrinya lama pergi, setelah ia diam untuk entah berapa lama dengan kepala tepekur ke lantai, setelah dengan sabar Dokter Laksmi mengingatkan. Dilihatnya raut wajah dokter itu. Ah, begitu datar, dan cuma memberi anggukan pelan.
“Sudah periksa darah juga tes kesehatan lainnya?”
“Belum,” gelengnya lemah.
“Anda tahu risikonya?”
Iskandar hanya diam. “Barangkali,” akhirnya, “namun saya tak mengira akan bisa seperti ini.” Ia sungguh menyesal. Sangat menyesal.
“Kita akan lakukan pemeriksaan menyeluruh, sekarang juga. Jika Anda tak keberatan sebab lebih cepat lebih baik.”
Iskandar hanya mengangguk, “Ya. Namun istri saya bagaimana, Dok?”
“Kami akan cari jalan. Butuh pemeriksaan dan perawatan menyeluruh juga. Anda tahu itu akan makan waktu dan butuh  biaya besar. Belum lagi janin dalam kandungan istri Anda berisiko ikut tertular.”
“Saya tahu, namun bukan itu yang saya inginkan.” Ia hilang kendali dalam kebingungan. Matanya terasa memanas oleh gelombang perasaan yang menghantam. “Sungguh!”
Hanya anggukan yang diberikan dokter. Seorang profesional kepada pasiennya. Dan Iskandar menyadari batas-batas kapasitas dalam relasi antarpersonal. Batas yang mendekatkan sekaligus berjarak.
***
Akhirnya ia tiba di rumah, setelah meminta taksi berputar-putar tanpa tujuan sekadar penundaan. Dilihatnya mobil Kijang Innova mereka diparkir di halaman, di luar garasi yang pintu dorongnya masih terpentang seperti tadi. Ryana sudah pulang. Ia membayar taksi sesuai tarif argometer. Dan udara di luar taksi betul-betul sengak seperti akan ada badai. Dilihatnya langit dipenuhi arakan awan kelabu. Bumi masih berputar dalam rotasi yang dikenalnya, rotasi yang kadang ia abaikan. Namun ia tahu badai yang sesungguhnya ada di dalam rumah yang akan dimasuki. Sungguh, ia tak ingin memasuki wilayah “badai” itu, namun ia harus. Ada kekuatan angkuh yang menyeretnya untuk itu. Kekuatan dari kesalahan bertahun-tahun lampau yang tak ingin dikenangkannya.
Pintu pagar masih terbuka. Ia menutupnya sebagaimana kebiasaan yang sering dilakukan agar rumah tetap aman. Namun apakah akan membantu sebab ialah penjahat yang telah merusak ketenangan rumah hunian mereka.
Dengan gontai ia menuju pintu depan. Betapa ia tidak ingin sampai. Kalau bisa, ia ingin melangkah mundur dan tak memasukinya sebab tak pernah menghuni rumah itu. Rumah yang asri bergaya mediterania dipenuhi rumpun-rumpun mawar, beberapa di antaranya membentuk pagar merambat di atas pergola. Warna merah muda sesekali menyembul membiaskan aroma harum yang segar di antara pucuk dedaunan. Iskandar tidak tahu apa nama latinnya, ia bukan arsitek seperti istrinya yang penggila jenis tanaman hias terutama bebungaan. Boleh dikata, halaman depan selalu beraroma bunga. Aroma tajam yang kadang terbawa angin ke dalam rumah mereka. Dari mawar, kenanga, cempaka, melati, sampai sedap malam dan entah apa lagi.
O, betapa silam belasan tahun ia dan Ryana telah menghuni dan merawat rumah itu. Dan belasan tahun lewat segalanya mesti berakhir seketika. Hanya karena ia, ya, hanya karena ia memilih jalan yang menyesatkan: jalan penuh kutukan ketika ia takluk atas nama syahwat. Sesuatu yang dianggap sebagai penyimpangan, atau perbuatan abnormal bagi orang yang merasa masih punya moral.
Semua karena Randy McLane, kawan sekamarnya kala kuliah di Sydney University demi mengambil gelar master untuk bidang periklanan. Waktu itu ia masih hijau untuk mengenal dunia kampus sebagai anak dari negara berkembang yang terdampar atas beasiswa perusahaan. Randy yang mengenal baik Indonesia dan sering berkunjung ke Bali, banyak membantunya. Ia sendiri mengambil gelar master untuk bidang jurnalistik. Iskandar, karyawan cemerlang asal dusun pedalaman, benar-benar tertarik dalam pusaran kebaikan Randy tanpa tahu ada udang di balik batu. Ia menganggap Randy sebagai sahabat tak tergantikan. Bulan demi bulan berlalu, mereka kian akrab dan tak terpisahkan. Sampai semua terjadi saja, sesuatu yang mengubahnya. Randy mengajak berlibur di suatu rancah luar kota, liburan yang mengesankan bagi Iskandar sebab ia bisa melihat langsung seperti apa tanah pertanian dan peternakan di Australia itu sesungguhnya. Namun di tempat itu pula, Randy melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkannya. Sesuatu yang mengubah hidupnya sampai sekarang. Semua bermula dari sentuhan kala mereka tidur dalam satu ranjang. Ranjang yang cukup sempit untuk memuat dua orang. Randy yang pelan-pelan “menggerayanginya”, Iskandar semula berontak namun kalah tenaga. Ia menyerah pada bisik rayu Randy dan gelombang getaran yang mulai dirasakannya. Terkutuklah ia. Terkutuklah Randy. Sampai pada akhirnya Randy berterus terang akan kegayannya. Ia membujuk agar Iskandar menjadi something special-nya. Pada mulanya Iskandar enggan dan mual. Namun bukan Randy namanya jika tak berhasil menaklukkan sesuatu yang diincarnya. Tak peduli di Indonesia Iskandar telah bertunangan dengan Ryana.
Randy, di mana ia sekarang? Setahun silam Iskandar berusaha berhenti dari dunia gay itu sejak Randy, kekasih gelapnya, tak lagi berkabar. Hasrat itu kadang menggelegak, tak peduli Ryana sang istri setia mendampinginya tanpa pernah tahu sejarah hitam Iskandar. Ya, dua belas tahun mereka menikah tanpa dikaruniai anak. Iskandar ingin berubah  meski terkadang ia takut punya anak dan menjadi ayah. Setahun ini ia mencoba memperbaiki diri begitu timbul kesadaran akan makna bahwa pada suatu hari manusia harus tampil sebagaimana adanya. Kesadaran yang barangkali terlambat sebab ia malah menularkan bibit penyakit pada diri sang istri. Dulu Ryana pernah hamil, sampai tiga kali namun selalu keguguran. Dan pada kehamilan ke empat, akankah Ryana, juga sang janin, selamat? Baru kali ini Iskandar sadar betapa rapuhnya kehidupan. Ia ingin bertobat.
Ia memasuki rumah dengan langkah setengah mengendap. Sungguh ia takut pada kemungkinan Ryana akan menyerangnya dengan apa saja. Atau mencacinya. Atau, atau, atau…. Iskandar merasa pening dan kepanasan. Akhir-akhir ini ia merasa tidak sehat namun semula beranggapan barangkali karena tekanan pekerjaan. Apakah sekarang ini karena virus yang bercokol di tubuhnya telah mencapai tahap ganas? Ia tidak tahu. Dulu ia kurang peduli soal itu. Ia tak berganti-ganti pasangan selain pada Randy dan Ryana. Namun apakah Randy, yang sampai sekarang tetap melajang, setia? Bagaimana jika Randy sendiri telah lama tertular virus itu? Iskandar ngeri.
Ia tak melihat Ryana di ruang tamu, tidak juga di ruang tengah. Namun ia mendengar suara gedebuk benda jatuh di ruang kerja merangkap perpustakaan mereka. Perlahan ia menuju sumber suara di arah paling belakang dekat taman. Pintu kaca  ruang kerja terpentang lebar, dari pintu itulah ia melihat Ryana sibuk dengan laptopnya di antara tumpukan buku tebal yang tampak baru. Ia tidak tahu buku-buku apa itu. Angin kencang dari kipas gantung menerbangkan tirai tipis dari pintu kaca yang sama terpentang lebar menghadap patio dan taman, ikut mengembus anak rambut di kening istrinya yang diikat ekor kuda. Ah, ia masih tetap muda dan cantik dalam usia jelang kepala empat. Betapa kemudaan dan kecantikan itu akan terenggut oleh sesuatu yang tak semestinya. Dan dosa itu, Iskandar harus menanggungnya sebagai beban selama sisa hidupnya yang entah sampai kapan.
“Ry….”
“Kamu sudah pulang?” Ryana sama sekali tak memalingkan wajah dari laptop tersebut.
Iskandar tidak tahu harus bagaimana. Apakah kepulangannya tak diinginkan? Apakah Ryana ingin agar Iskandar segera menyingkir dari hidupnya, dari rumah kebanggan mereka?
“Ry, aku… aku… menyesal.” Ia tetap mematung di ambang pintu, hanya beberapa langkah saja dari kursi oval Cellini tempat Ryana duduk di antara laptop dan tumpukan bukunya. Ia mendengar Ryana mendesah. Menggumamkan sesuatu yang tak jelas, serupa rapal doa.
“Tadi aku berkeliling dari toko buku ke toko buku demi mencari literatur mengenai HIV/AIDS, juga beberapa buku mengenai motivasi hidup dan keagamaan….” Kali ini Ryana memalingkan wajahnya ke arah Iskandar yang memandang dengan penuh sesal. Ada diam yang asing di antara mereka.
“Bagaimana tesnya?”
“Aku belum tahu, Ry.” Iskandar melihat bahwa mata itu seperti habis memeram tangis.
“Kemarilah,” Ryana melambai sembari menunjuk ke sampingnya. Iskandar ragu, namun demi dilihatnya kesungguhan sang istri, Iskandar terpaksa mendekat. Duduk di sisi kursi dengan segan.
“Masih ingat Rebbeca Watson rekan kerja Randy McLane?” Pertanyaan itu serupa guruh. Didengarnya guruh yang sebenarnya meledak di angkasa. Tentu ia kenal Beck yang pernah diajak Randy menginap di rumah mereka dalam rangka peliputan berita.
“Beck bilang bahwa Randy kemarin malam meninggal karena,” Ryana seperti sengaja mengambil jeda namun matanya tajam menghunjam wajah Iskandar seolah hendak mengelupasi dalam irisan tipis, “virus HIV yang sudah sampai taraf AIDS!” Ryana menyodorkan laptopnya, di sana ada surel dari Beck untuk Ryana.
Gemetar Iskandar menerima laptop itu. Ia kian pucat  membaca kalimat demi kalimat Beck sebagai jawaban atas pertanyaan Ryana barusan.
“Yang aku tahu tentang Randy denganmu hanyalah sepasang sahabat tak terpisahkan, namun lama-kelamaan aku mencurigai kalian. Entahlah, Iskandar, naluriku yang bilang. Sebagai istri kupikir kamu aneh karena ada saat di mana aku merasa kamu tidak seperti biasanya jika bersama Randy….”
“Ryana….”
“Namun aku mencintaimu, terlalu mencintaimu untuk…, untuk…. Ya, Tuhan, apa yang kulakukan? Aku tak mencegahmu, apalagi bertanya padamu!” Tangis Ryana pecah seketika.
Ia amat terguncang, begitu pun aku, pikir Iskandar dengan mata basah. Kematian Randy di luar dugaannya. Randy yang cerdas dan ramah, yang supel dalam setiap pergaulan serta selalu tampil gagah. Begitu cepat maut merenggut hidupnya. Randy yang tak ingin Iskandar tahu selama setahun ini sekarat digerogoti “karma” perbuatannya. Randy yang ternyata seorang petualang cinta. Bisakah Iskandar percaya?
Ryana masih terguncang dalam sedu-sedan. Itulah sebabnya mengapa di ruang praktik tadi ia bisa agak tenang, sekarang ia hilang kendali karena naluri bawah sadar seorang istri pada akhirnya menemu jawab meski sudah terlambat.
“Aku takut, Iskandar!”
Iskandar menjawab ketakutan Ryana dengan merengkuhnya dalam pelukan yang erat dan ikut menangis bersama. Ia pun sama takutnya, barangkali lebih takut. “Aku mencintaimu, Ryana, maafkan aku…,” sesal itu seolah sia-sia. Di luar guruh kembali meledak seolah langit pun murka. Angin kencang kian memainkan tirai, memberi bebunyian asing beserta dingin. Namun Iskandar merasa terbakar.
“Aku ingin janin dalam perutku tetap hidup, aku ingin tubuhku tak digerogoti virus laknat,” erang Ryana. “Aku benci kamu, Iskandar keparat!” tamparnya histeris. Lalu luruh kembali dalam pelukan lelaki yang selama dua belas tahun ini tak lebih dari seorang pemain sandiwara gagal. Iskandar merasa tamparan itu tak berasa apa pun bagi jiwanya yang hampa.
Hujan turun pelan-pelan. Kemudian menderas dan menderas, beserta gelegar guruh yang keras. Di luar, taman tampak kelabu dan muram. Di dalam, sepasang insan berpelukan dalam tangis penyesalan. Ada sesuatu yang belum usai.***
Limbangan, Garut, 10 Agustus 2007