Sabtu, 15 Februari 2014

Pasar yang Dikepung



Opini

Pasar yang Dikepung

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas Cum Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Limbangan Garut

D
i seberang Pasar  Ciawi, Bogor, suatu pagi kala menunggu bus untuk pulang ke Limbangan, Garut, 2 Syawal 1433. Mata terpaku pada spanduk besar yang terpancang di lantai dua pasar. Isinya menolak kehadiran (pasar) swalayan Ananda.
Saya kagum pada pernyataan tersebut. Sekaligus prihatin, sudah sedemikian terancamkah eksistensi pasar tradisional di perkotaan terhadap serbuan pasar swalayan atau toserba? Pasar swalayan yang diprotes itu berupa bangunan tingkat dua, dan jaraknya berdekatan dengan pasar tradisional, hanya dipisah beberapa toko. Jelas itu merupakan suatu “sikap tidak tahu diri” dari sang pendiri, bukankah ada peraturan tentang syarat pendirian toserba, agar jangan berdekatan dengan pasar tradisional (minimal 100 m?). Salut pada para pedagang yang menentang.
Di Pasar Cigombong, Bogor, saya tidak melihat ada spanduk macam itu. Karakteristik pasar dan geografis wilayah yang berbeda membuatnya aman dari kepungan pasar swalayan. Meski di dekat mulut jalan menuju pasar  berdiri dua  kompleks ruko dengan beberapa toserba. Pasar Cigombong yang besar dan ramai adalah urat nadi kehidupan perekonomian masyarakat sekitar. Baik yang tinggal di sekitar kaki Gunung Salak maupun wilayah terdekatnya. Mengingatkan pada suasana Pasar Limbangan.
Pasar Limbangan, Garut, memiliki sejarah yang sangat dekat dengan kehidupan saya. Dari kecil sampai dewasa. Melihatnya tumbuh besar dari pasar yang cuma bangunan jongko-jongko tanpa dinding, dan saat bubaran para pedagang akan memboyong barangnya pulang; bermetamorfosis menjadi pasar yang riuh,  merupakan pusat perekonomian sekaligus hiburan bagi urang lembur di Limbangan dan sekitarnya. Begitu unik dan lucu bagi orang yang lahir dan besar di kota.
Namun Pasar Limbangan sempat mengalami sisi getir, dua kali kebakaran yang saya lihat kala remaja. Sejauh ini entah apakah Pasar Limbangan akan terancam eksistensinya dengan kepungan beberapa toserba waralaba maupun bukan. Namun perlahan-lahan, sepertinya urang lembur merasa lebih nyaman dan bergengsi jika belanja di toserba. Ada perang harga yang ditawarkan.
Kala di Bandung, saya sempat menyatu dalam komunitas urban, bekerja sampai jam setengah sembilan malam membuat saya menjadi pelanggan toserba besar di Jalan Kiaracondong, beberapa ratus meter dari Pasar Kiaracondong. keterpaksaan dan rasa nyaman dalam memilih, sekaligus harga murah yang ditawarkan, setidaknya lebih murah daripada belanja di warung. Saya melupakan degradasi yang menimpa Pasar Kiaracondong. Mau bagaimana lagi, saya bekerja tiap hari dalam seminggu, hanya leluasa jika malam. Bahkan sekadar belanja buku pun, memilih toko buku Ultimus yang buka sampai larut malam. Gramedia tidak mungkin disambangi!
Padahal saya memiliki banyak kenangan dengan Pasar Kiaracondong. Pada tahun 1980-an, kala televisi swasta belum meraja, orang-orang meluangkan sore dengan jalan-jalan sampai malam ke pasar. Sungguh suasana yang ramai dan hangat. Aroma sate, roti bakar, bakso, mie tek-tek, dan lain-lain menguar di halaman depan pasar. Bahkan lapak majalah bekas pun laris diserbu. Pasar adalah pusat hiburan murah meriah bagi orang kota yang belum kenal mal. Di sana pula tukang obat ramai berkoar.
Namun hidup seringkali dengan kejam menjungkirbalikkan pasar hingga masa jayanya tinggal kenangan. Lihatlah suasana Pasar Kiaracondong sekarang. Jika subuh menjelang akan ramai dengan beragam transaksi sampai pagi, namun kebanyakan ramainya di luar pasar. Dimulai dari depan pertokoan di sekitar sampai depan pasar. Memacetkan arus lalu lintas. Sebuah pemandangan khas kota besar termasuk sub urban. Pasar Kiaracondong tidak hanya becek, kumuh, suram, sepi, bau, dan semrawut. Pasar Kiaracondong hanyalah sampel kekinian dari pasar tradisional yang dikepung toserba sampai hypermarket.***
Limbangan, Garut, 5 November 2013   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D