HOME/RUMAH

Jumat, 18 April 2014

[Mozaik Blog Competition 2014] Meniti Jalan Pedang



Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id

  



Alhamdulillah, berhubung artikel ini masuk finalis 20 besar Mozaik Blog Competition yang pengumumannya dini hari tadi keluar, maka isinya dihapus. Untuk hak cipta penerbit Mozaik dan ekslusive karya yang insya Allah akan dibukukan. :)
Sekali lagi alhamdulillah karena dapat kepercayaan untuk meraih juara 2. Bahagianya. Tentu amanah ini untuk memacu diri untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas agar ke depan selalu dan bisa lebih baik. Semoga. Terima kasih pada kawan-kawan yang turut berkomentar karena memberi nilai tambah sehingga lolos sebagai finalis 3 besar, terutama untuk kawan-kawan di Blogger Energy (BE).
Salam seperjuangan blogger. :)

Limbangan, Garut, 18 April 2014

59 komentar:

  1. asek asek. blognya menarik teteh. tulisannya juga layak dibaca semua.

    salam Poetrafoto Photography :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Abah, terima kasih sudah mampir dan komen. Semoga ada manfaatnya. BTW, cerpen Poli dipajang di blog ini. Dan foto bukunya, Loktong, Teteh dapat dari blog Mas Muhammad Badri. Loktong memuat cerpen "Poli". :)

      Hapus
  2. Tak ada yang tak indah, semua memang tergantung bagaimana persepsi menerimanya. Beruntung bagi orang yang seperti mbak mempunyai pasangan yang memberi arti dan mendukung. Artinya, jangan pernah disia-siakan mbak. semangat selalu mari kita menebas-nebas biar Indonesia lebih indah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Sandi. Suami adalah Qowwam bagi saya, pun saya ingin bisa menguatkan ke-qowwamannya. Kami saling bantu dan melengkapi apa yang kurang dari masing-masing. Mendukung apa yang dilakukan demi keutuhan keluarga. Dan demi masa depan anak kami. Saya bahagia bisa melakukan itu dengan menulis. :)

      Hapus
    2. haha alhamdulillah semoga saya nantinya mendapatkan istri yang shalehah dan saling mengerti. semangat menulis teteh

      Hapus
    3. Insya Allah doa Mas Sandi akan terkabul Allah jika memang jalan pilihan itu merupakan takdir. Masih banyak perempuan salehah untuk dijadikan istri, yang bisa mengerti dan mendukung suami. Yang terpenting adalah ikhtiar yang dibarengi doa tiada henti. Aamiin. Semangat juga Sandi!

      Hapus
  3. gagal memang sakit. Namun dengan gagal kita akan mengerti keberhasilan. Hem inspirasi teteh. Saya kemarin berkali-kali gagal kirim resensi ke media cetak. tapi dengan membaca tulisannya teteh ternyata merasakan hal yang sama. Namun juga bangkit. Hem saya harus bangkit lagi biar mereka mau menerima tulisan saya :) #lanjutkan menginspirasi teteh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang terpenting lagi dari kebangkitan kembali adalah pelajari ulang apa yang kurang. Memperbaiki itu dengan belajar dari karya teman-teman, bertanya pada mereka jika tak tahu, berburu peluang, dan tetap semangat untuk memperbaiki kualitas tulisan. Saya senang bisa bangkit sekarang. Dan di bulan kelahiran. Kita punya keyakinan yang sama, maka perlu idealisme juga untuk mempertahankan. Bergaul dengan teman-teman sehaluan dan sekomunitas bisa terus menyemangati. Ada tempat untuk berbagi. Teruslah kirim resensi pada media mana pun. Semoga kelak upaya Sandi bisa berbuah. Karena benih yang kita tanam akan menghasilkan pohon juga pada akhirnya. Yang terpenting bagaimana merawat dan memupuknya. Agar kelak buah manis itu bisa kita petik hasilnya. Meski kita harus hadapi serangan "hama", misalnya.:)

      Hapus
  4. Wah wah.. merinding teh bacanya juga,menginspirasi :D
    tulisan ini "Aku telah tertinggal jauh dibanding generasi muda. Mereka kaya ide dan karya" ... saya fikir justru anak muda sekarang kebanyakan seperti terlalu mementingkan akhir daripada proses.. padahal benar sekali apa yang teteh katakan tentang "Proses tidak bisa dikesampingkan" karena proseslah yang akan menjadi sebuah sejarah.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada kenikmatan dari proses, Aa Ichsan. Ibarat kita telah menempuh perjalanan usia, tentu ada banyak hal yang kita alami dan rasakan. Inilah yang bernama proses. Perjalanan hidup kita! Pun menulis sama juga dengan perjalanan usia kita. Anggaplah demikian agar punya tujuan. Terima kasih telah bertandang. :)

      Hapus
  5. Blogwalking... Isinya sangat menarik dan inspiratif. Kreativitas terus terawat dengan kerja keras... Penulis tidak pernah mati, ia hanya akan mati kalau kehabisan ide dan kata-kata. Semoga menjadi penulis yang sukses... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir. Terima kasih juga doanya, Pak Badri. Aamiin. Karya yang ada di sini tidak sebanding dengan apa yang Anda hasilkan.

      Hapus
  6. Menginspirasi banget bacanya.

    Hidup itu memang tentang sebuah pilihan. Termasuk untuk jadi seorang penulis. Aku pernah dapet quote, "Kamu perlu mengalami proses berdarah-darah untuk bisa melihat tulisanmu terpampang di mana-mana."

    Intinya, menulis itu emang susah. Banyak tantangan. Tapi saat hati kita udah yakin, kita akan menikmati proses "susah"nya itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hidup kita adalah pilihan, akan ke mana menuju merupakan konsekuensi dari pilihan tersebut. Dan berdarah-darah itu kelak akan menyembuhkan sekaligus menguatkan kita. *Mendadak bijak, hehe. Makasih sudi mampir.

      Hapus
  7. Ternyata Allah maha adil ya.. di sana orang-orang yang disana diberi kesempatan, malah ia menyia-nyiakan. Di lain hal mereka yang (maaf) putus sekolah, belajar dengan giat dan rajin.
    Membaca tulisan kakak di atas, ini rasanya serasa membaca puisi. Puitis, diksi yang enak dibaca. Harus membaca dengan ekstra, karena bagiku aku masih belum terbiasa membaca karya fiksi seperti hal ini. Satu kata dariku. “amazing”.... iya, tulisan kakak luar biasa sekali..

    Semoga menang GA-nya ya..

    masukan, kalau bisa jangan diberi kode robot angka ya kak.. kasian yang ngoment..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Agha Maruf. Allah memang Maha Adil. Dan soal bahasa pilihan yang kupakai, ya berasa berat bagi orang tertentu karena aku lumayan "steril" dari pengaruh bahasa lisan di luar.
      Aamiin. semoga menang lomba blog ini. Kalaupun tidak, tak masalah, yang penting sudah usaha. Makasih sudah mampir.
      Insya Allah enggak akan pakai aplikasi macam-macam. Polos saja seperti sekarang. Lagian kode robot bikin capaek, kadang sulit baca captcha.

      Hapus
    2. oke... siap.. terimakasih banyak juga kak.....
      mohon koreksinya ya.. kalau lagi BW ke blog ane...

      Hapus
    3. Sip. Untuk jadi penulis yang baik harus khatam EYD. Jangan sampai keenakan gak mau belajar jadi menilai tulisan orang lain aneh isinya. :) Coba juga gabung di group kepenulisan PEDAS (Penulis dan Sastra). Bisa kok belajar di sana. Asyik gabungnya. Dan aku juga biasa melipir ke lapak yang pajang karya teman untuk dikomentari. Biasanya soal gramatika dan EYD. Sampai ada teman yang juluki aku Gadis EYD, haha. Padahal aku sudah emak-emak. Dan biasanya jurus andalanku untuk "membantai": gergaji dan cekikan maut. ;)

      Hapus
  8. wah sejak kecil sudah hobi membaca ya? keren

    tulisannya bagus tapi ada beberapa kata yang aku tidak mengerti maksudnya hehehe
    ya semua itu butuh perjuangan, bahkan dalam soal menulis . selamat ya resensinya masuk Jawa Pos, semua kan indah pada waktunya memang
    walau sempat jatuh tapi akhirnya tergerak lagi untuk mengasah pisau yg sudah tajam hehhee
    sukses buat lombanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti aku gagal mengomunikasikan hasil pemikiran ini kalau tulisanku ada yang gak dipahami orang lain. :) Ya, ada beratnya juga sih. Hehe. Makasih sudi BW. :)

      Hapus
  9. Keren dari kecil sudah hobi baca dan nulis. Ngerasa kesentil sama tulisan ini. Aku sudah punya 'jalan' sbg penulis setelah buku pertamaku terbit, tapi sudah setaun gak nerbitin buku lagi. Jadi semangat nulis lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah punya jalan, jangan berhenti begitu saja. Merintis sesuatu itu tak mudah, maka pertahankan apa yang telah dicapai. :)

      Hapus
  10. Postingannya bagus, menginspirasi. Jadi bikin Lia tambah semangat nulis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu ada hal yang bisa kita peroleh dari keluyuran di blog teman. :) Makasih sudah mampir.
      Tetap semangat menulis dan jangan berhenti.

      Hapus
  11. waaah semangat banget nulisnya ya...
    sampai2 selalu ngirim tulisan ke surat kabar mulu walaupn sering mengalami penolakan. semangat pantang menyerah untuk terus menulis itu seharusnya dimiliki sama anak2 Blogger Energy.. agak miris sebenernya ngeliat blogger yang sering banget nelantarin blognya.

    dua bulan berturut2 tulisannya dimuat di JAwa Pos itu prestasi keren loh... semangat menulisnya harus terus dijaga.. kado ultah modemnya jangan disia-siakan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mas Edotz. "Kan menulis untuk eksis sekaligus bantu suami juga agar dapur ngebul, hehe. Alhamdulillah dari resensi yang dimuat beroleh tambahan banyak teman dan banyak buku, gratis pula! Untuk diresensi lagi. Ikutan IRC 2014, nih. Jadi ada target.
      Blog itu penting untuk pengembangan diri, sayang jika ditelantarkan. Menulis jika memang sudah diniatkan sebagai penulis, maka harus bersinambung.

      Hapus
  12. tulisannya inspiratif banget, tapi ada beberapa kata yg ga ngerti artinya sama ada yg typo jg. saran aja ya kak (maaf) mungkin bisa sebelum diposting ada baiknya dicek lagi biar ga banyak typo. cuma saran aja sih hehe. tetep semangat terus ya kak, kegagalan itu bukan akhir dari segalanya, tp awal dari kebahagiaan. wow woww kakak keren tulisannya dimuat di Jawa Pos,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang typo itu mana saja, De? Gak apa kok kalau sudah ditunjukkan mana yang typo-nya agar bisa diperbaiki dan ke depan tak terulang lagi. :)
      Makasih sudah mampir juga.
      Baru empat kali dimuat Jawa Pos-nya. Tahun 2004, 2005, dan 2014. Tidak mudah menembus koran besar. Tapi alhamdulillah honornya lumayan. Bisa bantu suami dan borong buku!
      Ronin-kah yang tak dimengerti? Ronin itu samurai tak bertuan. Yaa, saya ini penggemar berat karya Eiji Yoshikawa. Cerita samurai. Novelnya Musashi dan Taiko. Sudah baca tapi versi e-book. Lagi garap esai untuk rubrik Di Balik Buku JP, bahas novel Musashi. Tapi harus baca ulang itu. 802 halaman. Lagi mabok buku sekarang, hehe. Padahal dulu sedih banget gak bisa baca buku baru. :)
      Alhamdulillah, menulis itu berkah.

      Hapus
  13. bacanya puitis dan penuh makna, jadi inget salah satu temen yang suka nulis ke koran tapi pake nama ibu dan kakak atau kadang pake namanya sendiri, cuma buat dapetin souvenir dari mereka, tapi alhamdulillah tulisannya selalu masuk, ayo jangan mau kalah ama yang muda ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, makasih dah mampir dan memberi semangat. Senang bisa dapat keluarga baru di BE. Saling menyemangati.

      Hapus
  14. Keren ini tulisan nya. Pengalaman nya itu inspiratif banget, bikin ngerasa "kok gue malah gini sih?". Seakan gak bersyukur dengan segala yang udah di kasih dan di permudahkan. Malah gue sia-siain buat yang aneh-aneh. Lah mbak nya, berjuang dari nol bahkan dengan alat yang seadanya. Salut.

    Menurut gue mah mbak udah jadi penulis berkelas deh dengan kosakatanya yang ketjeh banget. Banyak yang gak gue ngerti sih -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa yang telah Allah beri pada kita harus disyukuri dengan terus menggali potensi diri. Setiap perjuangan memang harus bermula dari nol besar. :)

      Hapus
    2. hehe iyaa iya mak ^^
      Alhamdullilah untuk hidup ini

      Hapus
  15. Semua akan indah pada waktunya memang. Butuh perjuangan yang panjang dan jatuh bangun tak hanya sekali untuk bisa berdiri dan berjalan degan tegap meretas cita cita kita untuk terus menulis.

    Terus berjuang dan tak pernah menyerah ya.:)

    Semoga menang kontesnya^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap perjuangan ada banyak kisah yang menyertainya.

      Hapus
  16. semuanya berawal dari nol, gak harus menjadi suksesn secara instan ... , kadang jatuh bangun untuk terus berkarya . cuma mau bilang semangat n semoga menang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua perjuangan bermula dari nol besar, namun dengan kegigihan insya Allah berbuah hasil. Sukses adalah proses bukan akhir.

      Hapus
  17. terkadang, orang hanya ingin melihat hasilnya, tapi tidak menghargai prosesnya. Tulisannya bagus.pengen belajar kosa kata yang lebih banyak lagi darimu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, proses dan hasil hanya bagian dari buah upaya kita sebagai insan.
      Kosakata bisa dipelajari dari keinginan belajar dari mana saja. Termasuk membaca dan menulis. Sekaligus bergaul dengan yang bisa mengajari kita.

      Hapus
  18. wah saya jadi terharu dengan perjuangan kak Rohyati,, jadi berkaca utk diri sendiri. saya pikir cuma saya yang mengalami penderitaan menuju kesuksesan ditengah gempuran teknologi yang kian canggih ini. yang semangat ya kak Rohyati. jgn pernah menyerah,,terus berkarya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama terus berkarya berkarya. Untuk Julian juga semangat. Dan jangan berhenti belajar agar lebih baik daripada yang sudah-sudah.

      Hapus
  19. huaaa..salut banget sama perjuangan kakak di dunia tulis menulis...bener2 from zero to hero...

    mulai dari SMP sampai tulisannya bisa dimuat di koran besar...gpp tertinggal jauh, yang penting kakak kan masih punya semangat besar buat mengejar ketertinggalan itu...

    bener juga ya...jalan pedang...makin diasah, makin tajam pedangnya...makin keras perjuangannya, hasil pun makin manis...

    moga menang lombanya, dan yang pasti... keep writing kak... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih dukungannya, De Miftah Faradisa. Tertinggal memang tak enak, namun lebih tak enak lagi jika terus membiarkan diri berkubang dalam ketertinggalan.
      Harus bangkit meski sakit. :)

      Hapus
  20. buset jaman masih peke mesin ketik udah nulis, lah saya mah baru sekarang2 ini. salut sama si mba-nya nih. berjuang selama 14 tahun sampe akhirnya jadi seperti sekarang :))

    tetep semangat mbae :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya di tahun 1999 sudah ada komputer, tapi tak kuat belinya. Kala SMP di tahun 1993 pernah belajar komputer kok. Program komputer zadul lebih rumit daripada sekarang. Alhamdulillah, 14 tahun yang panjang, semoga tetap berlanjut ke depan dalam berjuang. Tofik juga, ya. :)

      Hapus
  21. tulisannya super sekali mbak. jiwa penulisnya sangat kuat. rela lakuin apa aja buat bisa terus menulis. gak peduli harus nempuh jarak sejauh apapun. dan tidak mempermasalahkan apakah tulisannya menghasilkan atau tidak. semangat yang patut ditiru. anak-anak jaman sekarang seperti termanjakan oleh teknologi ya mbak. saya saja baru kenal internet setelah lulus SMA.

    salutlah sama semangatnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mari berjuang juga.
      Lakukan itu karena cinta. :)

      Hapus
  22. intinya, untuk meraih sesuatu itu tidak ada yang instan. inspiratif banget,bu. mungkin bisa share juga tips-tips biar tulisan kita bisa diterima untuk diterbitkan di koran atau majalah?hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tipsnya banyak banget, saya ambil dari sekitar. Bertanya pada teman-teman yang telah makan asam garam juga. Silakan kalau mau bertanya. Insya Allah dengan senang hati berbagi. Di bagian (label) Suratku ada surat untuk teman yang berisi bahas karya.

      Hapus
  23. cerita teteh menginspirasi banget.. saya juga yakin di diri saya sendiri bahwa apapun perjuangan dan pengorbanan yang kita lakukan, hasilnya pasti akan indah di kemudian hari.. meskipun kebanyakan perjuangan dan pengorbanan yang kita jalani tidak semulus yang kita kira.. tetap semangat, teteh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Isna, keyakinan adalah api dalam diri, jangan dibiarkan mati. Kalau semangat telah mati, maka padamlah harapan kita. :)

      Hapus
  24. Setiap profesi memiliki risiko yang berbeda-beda,
    Seorang pendaki gunung akan mendapatkan risiko terburuk (kematian) apabila dia tidak menerapkan ilmu-ilmu ttg pendakian gunung. Seorang penulis juga akan mendapatkan risiko besar apabila "asal nulis" yang menyebabkan beberapa orang/ormas dirugikan.

    Salut atas kegigihanmu mbak, he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Risiko adalah bagian dari hidup kita. Harus berani menempuh risiko. Namun kita juga harus mempertimbangkan agar jalan yang kita ambil tak merugikan diri sendiri apalagi orang lain.
      Terima kasih sudah mampir. :)

      Hapus
  25. wah keren mbak, , jaman jadul bertahan sampai sekarang.
    perjuangannya keras pula,

    sementara saya gampang menyerah, tulisan gak lolos lomba ajah udah down, 3 haru gak mud nulis hahahahahha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo jangan mudah menyerah jika kalah. Kekalahan cuma merupakan langkah awal dari jalan menuju kemenangan yang harus diperjuangkan. Semangat!

      Hapus
  26. keren sekali, mak.. tidak sabar menunggu karya inspiratif mak Rohyati nih, sukses selalu ya mak :)

    BalasHapus
  27. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  28. Itu kenapa kata "alhamdulillah" dicetak miring, Mbak?

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D