HOME/RUMAH

Rabu, 26 Februari 2014

Abu


Abu



Sudut malam di sebuah apartemen kawasan Kemang

M

alam keparat! Dari balik kaca jendela yang berembun ia memaki langit gelap di atasnya, dan panorama membosankan di bawah lantai ke delapan belas. Di Timur, selubung panorama lain tiada makna bagi matanya. Ia telah jemu pada semua. Nir adalah dunia yang paling masuk akal, setidaknya ia telah melebur dalam spektrum kehampaan.

Rumah besar di kawasan Kebon Jeruk telah lama ia tinggalkan. Rumah masa silam yang penuh kenangan sentimental tempat ia pernah tumbuh besar lalu dewasa sampai sekarang, ia tinggalkan setelah cukup mapan, setidaknya secara finansial, luput dari terjangan banjir berulang yang mengepung Jakarta. Ia tertawa. Ia tinggal di apartemen menjulang, konon daerah bebas banjir namun jalanannya tak luput dari genangan air, dirinya kering sekaligus dingin.

Ia ingin bersenang-senang sendirian selepas jam kerja panjang yang melelahkan. Sekarang Jumat malam. Saatnya mengulang ritual demi mencapai nirwana. Dunia yang sebenarnya tak lebih dari neraka membosankan. Ia butuh jeda. Lintingan ganja yang diisapnya semacam medium menuju Shangri-La. Ya, meski ini Jakarta bukan Nepal. Ia pernah berkunjung ke Nepal dua tahun lampau dan tidak sendirian. Seorang perempuan dari masa silam yang pernah dekat dengannya selama tiga tahun masa remaja kembali hadir, mengajak melakukan perjalanan sinting.

“Aku ingin merasakan eksotisme, yang kata Seno Gumira Ajidarma kala berkunjung ke sana, mulai memudar.” Begitu jawabnya kala ia bertanya mengapa harus Nepal, bukan Paris kota yang konon paling romantis.

Dan ia tertawa, menyipitkan mata besarnya sehingga kentara masih berdarah Tionghoa dari generasi yang telah berasimilasi sebagai warga dan keturunan Betawi. Lalu mengiyakan meski tidak paham. Melupakan sederet rencana bulan madu lainnya, mengambil cuti panjang demi keliling Nepal bersama seorang perempuan yang seolah dihadirkan Takdir  untuk mengisi kekosongan, memenuhi jiwanya dengan buncah perasaan bahagia tak terkira. Melebihi ganja.

Mereka cuma berbekal peta dan buku panduan wisata. Perempuan itu benar-benar ingin menapaktilasi jejak perjalanan pengarang yang dikaguminya. Maka mereka pun tenggelam dalam dunia fiksi yang direalkan. Dan ia terheran-heran mendapati dirinya begitu lepas, bebas, aman, sekaligus nyaman. Bersama seorang perempuan yang pernah ia percayai sebagai sandaran.

***

Kathmandu, dua tahun sebelumnya

“Inilah Freak Street!” seru Run riang. Kedua lengannya terentang ke udara.

“Ada apa dengan Freak Street?” Abu mencoba memahami keriangan Run. Tadi mereka berdua seolah sepasang turis kehilangan arah. Ia mengikuti ke mana Run melangkah sembari segenap panca indranya coba mencerap apa yang terjadi di sekitar. Selain kidung mantra dan aroma dupa yang membuat telinganya merinding dan hidungnya gatal, sapi-sapi itu gila. Di sepanjang lorong selalu terdapat sapi-sapi bergeletakan sesukanya tanpa diusik sesiapa. Abu tak habis pikir dengan perlakuan orang pada sapi, namun Run hanya tertawa-tawa. Ikut takjub seperti dirinya, lalu menjelaskan begitulah sapi dianggap hewan suci, semacam penjelmaan dewa mereka yang dihormati. Abu sendiri tak begitu suka membaca, apalagi memahami sejarah belahan dunia lainnya.

“Tahun ’70-an tempat ini dianggap surga bagi kaum hippies yang keleleran mengganja demi mencapai Shangri-La atau nirwana.”

“Jadi pengen ngeganja, nih,” Abu menggoda sambil membelalakkan matanya. Run mendelik lalu tertawa, ditinjunya bahu lelaki yang baru dinikahinya dengan mesra.

“Dasar junkie! Lebih baik bercinta demi mencapai nirwana!”

Abu segera merangkul Run dan menariknya ke dalam ciuman panjang di suatu sudut agak tersembunyi, tak memedulikan sekitar. Aroma dupa juga kidung puja menguar. Saat itu senja perlahan temaram.



Masih di apartemen kawasan Kemang, sekarang

Ia terjaga. Separuh sadar, separuh berhalusinasi. “Aku junkie, Run. Hanya bisa bercinta dengan ganja, tidak ada kehangatan tubuh dan jiwamu lagi! Nirwana itu neraka, tiada beda!” Ia terkulai. Ke alam mimpi.

***

Kathmandu, 2 tahun sebelumnya

Apa yang paling membahagiakan selain melakukan perjalanan panjang ke negeri impian demi mencapai eksotisme bersama pasangan tercinta. Itu yang dilakukan Abu dan Run. Nepal hanyalah salah satu tujuan dari sekian tempat lain yang sangat ingin Run kunjungi. Ya, ada tiga tempat utama yang menjadi impian Run untuk dijelajahi: Nepal. Maroko dan Mekah.

Maka, menyusuri lorong-lorong di Kathmandu seolah menyusuri dunia mimpi. Jiwa Run dan Abu terlempar ke dimensi asing yang mengeratkan penyatuan raga mereka. Dari Thamel, Freak Street, Lapangan Durbar, istana lama Hanuman Dhuka, Kuil Swayambhu, Nagarkot, Pokhara, sampai Sarangkot adalah eksotisme bagi mereka.

Namun pada akhirnya, ketika bersiap pulang kembali ke Jakarta sehabis memborong berbagai cendera mata, mata mereka dihempaskan pada pemandangan khas demokrasi dunia ketiga: demonstran Tibet penentang pendudukan Cina atas Tibet yang dilakukan sejak tahun 1959, tengah berbaku hantam dengan polisi anti huru-hara Nepal. Kekerasan adalah hal biasa di mana-mana. Run terpaku dan mengabadikan momen tersebut dengan kamera digital, namun Abu yang mengkhawatirkan keselamatan mereka segera menyeretnya agar gegas meninggalkan lokasi kerusuhan.

“Terlalu berbahaya di sini, Sayang!” serunya gemetar. Ia selalu takut akan kerusuhan. Mengingatkannya pada peristiwa kelabu di bulan Mei 1998, ketika tempat usaha keluarganya ikut dijarah dan dibakar, dan seorang keponakan perempuannya yang baru menginjak usia remaja tewas mengenaskan di sudut jalan lengang. Jiwanya selalu terguncang oleh peristiwa demikian. Apalagi kekasihnya yang sama masih keturunan etnis Tionghoa dan cantik turut menjadi korban, diperkosa secara biadab sampai terganggu jiwanya lalu bunuh diri dengan terjun dari karang terjal ke lautan, mayatnya tidak pernah ditemukan. Rencana masa depan jika lulus kuliah pun buyar. Tak ada senyum lembut Maryam -- perempuan pengganti sosok Sophie, kawan SMU di Limbangan yang ditaksirnya namun malah menikahi lelaki lain dan kini tinggal di Bandung --, yang mewarnai harinya lagi. Maka lelaki bekas pencandu narkoba itu lari pada habitat lamanya: ganja! Meningkatkan dosis pada tingkatan lain: kancing, LSD, sampai serbuk setan.

Ia nyaris menjadi zombi, bertahun-tahun, sampai keluarganya terpaksa bertindak. Mencoba menyelamatkan hidup dan jiwanya. Namun itu tidak berhasil. Dari luar ia tampak normal, dalamnya adalah daging pengonsumsi racun. Dan ia bahagia sekaligus tersiksa dengan racun dalam tubuh -- dan jiwanya. Sampai takdir mempertemukannya dengan Run di Bandung, tiga tahun lampau. Sophie yang juga sahabat Run semasa SMU, telah mempertemukan mereka kembali; Abu dan Run, sepasang sahabat yang sebenarnya memiliki rasa ketertarikan serupa namun tak berani mengungkapkan demi menjaga persahabatan. Bicara dari hati ke hati. Mencungkil luka lama keluar dan membasuhnya dengan harapan dan impian baru. Kembali merajut perkawanan dan persahabatan. Sampai Abu melamarnya kala menyadari bahwa ia membutuhkan perempuan itu, dan Run pun membutuhkannya lebih dari sekadar kawan.

Run menerimanya dengan satu syarat: berhenti menjadi junkie man secara total!

Pada hakikatnya syarat itu tidak mudah, ia sungguh tersiksa kala harus putus zat. Terkadang kebiasaan lamanya kumat. Namun Run menyemangatinya tanpa kenal lelah dan putus asa agar bisa terbebas dari candu yang telah mengalir dalam setiap pembuluh darahnya.

“Kamu pasti bisa, Sayang. Jangan menyerah sebab setiap orang dikaruniai kemampuan untuk berubah lebih baik. Aku akan tetap mendampingimu sampai kamu berhasil mencapai pembebasan itu. Lakukan bukan demi dirimu dan diriku semata, melainkan anak-anak kita kelak. Darah yang mengalir dalam tubuhmu harus bersih sebelum menyatu dengan ragaku. Kelak dari darahmu akan tercipta generasi untuk kita bimbing mengenal Maha Cahaya. Dan aku pun ingin kamu menjadi cahaya bagi mereka.”

Dan impian Run pun menjadi impiannya. Maka ia berupaya keras agar bebas. Setelah berbulan-bulan terapi yang kali ini ia jalani dengan kesungguhan karena ada tujuan, dengan iradat-Nya tubuh dan jiwanya pun mengambang menuju pembersihan. Ia merasa segar, sehat, dan berpengharapan.

Keluarganya pun menerima Run, yang secara fisik kedua telinganya tak berfungsi namun secara kejiwaan seolah kaya dengan cinta dan kasih sayang pada putra bungsu mereka yang nyaris dianggap sebagai sampah pecundang-irasional.

Pernikahan mereka berlangsung secara sederhana sebab Run tak suka pesta apalagi kemewahan. Baginya yang terpenting adalah bagaimana mereka membina mahligai rumah tangga agar selamat sampai tepian. Ia telah mencapai fase usia matang, memiliki kecemasan sebagai perempuan. Dan Abu berjanji agar bisa menjadi qowwam sekaligus guru dalam hidup Run, dengan syarat Run pun menjadi guru dan meneguhkan ke-qowwam-annya.

Dan peristiwa demonstrasi yang berbuah kerusuhan di Nepal sempat menghantuinya. Ia sungguh takut kehilangan Run, takut tak ada lagi perempuan yang meneguhkan esensi sejatinya sebagai lelaki. Sudah cukup ia kehilangan Maryam secara tragis. Run menyadari ketakutannya, memeluknya di atas pesawat yang membawa mereka ke Singapura.

“Maut itu hanya awal, Sayang. Jangan takut kehilangan. Kamu atau aku entah siapa yang lebih dulu ‘pulang’, hanya butuh doa. Salah satu di antara kita harus tegar agar bisa mengirim doa untuk meringankan dosa dan menenteramkan roh yang hilang raga.”

“Namun aku tak bisa hidup tanpamu sekarang, Run.”

“Aku tak akan meninggalkanmu sekarang jika Allah berkenan. Maka marilah kita isi hari dengan sesuatu yang lebih berarti. Kamu dan aku, bersama. Aku bahagia bersamamu, Abu.”

“Matamu berbinar, Run. Kamu selalu memandangku dengan cinta dan kekaguman yang membuatku tersanjung sekaligus jengah.”

“Aku mensyukuri hidup, Abu. Aku mencintaimu,” bibir Run bergetar, dan matanya mengambang kristal bening. Namun wajahnya bercahaya. Ia tak tahan dan mencium kedua kelopak mata istrinya dengan sepenuh perasaan.

“Jika pun maut memisahkan kita, semoga salah satu dari kita ikhlas,” harap Run menyentakkan.



Masih di apartemen kawasan Kemang

“Jika pun maut! Jika pun maut…!” Ah, ia kembali terjaga. Lintingan ganja yang kesekian telah terbakar habis ujungnya dan nyaris menyundut jari. Ia mengumpat. Meremukkannya ke asbak.

“Di mana kamu, Run?” gumamnya lemah. Ia merasa letih luar biasa. Memandang ke arah pintu besar. Berharap perempuan itu membuka pintu masuk, dan meloncat ke pangkuannya dengan riang.

Ya, Run masih hidup sekarang. Tidak terbujur kaku bersama bayi mereka di kuburan nun di Limbangan. Run masih hidup sekarang, sedang memasak ikan mas woku di dapur yang rasanya pedas dan sedap, atau soto tangkar dan sate betawi, atau sup iga dan apa saja; dan ia menanti dengan sabar sembari bergurau tengah kelaparan. Run masih hidup, sedang berkutat di depan laptop, menulis novel panjang tentang petualangan sepasang kekasih mengarungi samudra luas ala Tristan Jones pelaut legendaris asal Inggris; dan ia setia menyediakan teh, kopi, atau susu, dan makanan kecil lainnya tanpa diminta agar sang istri tetap punya energi untuk menghidupkan lakon imajinernya. Run masih hidup sedang membaca The Catcher in the Rye J.D. Salinger, dan ia berbaring di pangkuannya sembari mendengarkan Green Day sampai The Doors yang diputar MP3 sampai ketiduran. Run masih hidup, sedang membaca buku mengenai kehamilan, dan ia sendiri membaca buku panduan menjadi ayah; musik klasik bergema di ruangan, Beethoven dengan Simphony No. 9. Run masih hidup, sedang menjahit baju mungil bagi calon bayi mereka. Run masih hidup, sedang berdiri di depan cermin sambil tersenyum mengelus perutnya yang hamil 6 bulan; dan Abu berdiri di belakang sambil mencium lehernya mesra. Run masih hidup, bercakap dengannya tentang apa saja. Run masih hidup, akan melahirkan bayi mereka yang sudah lama dinantikan. Run masih hidup….

Ia bangkit, kepalanya sakit. Juga tubuh dan jiwanya. Telinganya berdenging, ada Chopin sekonyong-konyong memainkan partitur murung, begitu menyayatkan. Kali ini ia benci musik demikian, jiwanya telah berkubang dalam kemuraman. Langkahnya terhuyung menuju sumber bunyi. Membuka pintu kaca balkon. Tempias deras hujan dan dingin menerpa wajah dan tubuhnya. Ia melangkah ke tengah balkon. Berdiri di antara kepungan pot-pot tanaman hias dan herba yang kini ditelantarkan. Membiarkan jarum-jarum hujan menghunjam. Ia telah lama berhenti menggunakan jarum suntik sejak pertemuannya dengan Run. Ia telah berjanji. Namun ia telah melanggar janji dengan kembali mengganja. Ia tidak tahan lagi dan sangat butuh lari.

Langit gelap. Gelegar kilat memecah cakrawala. Ia menyeringai. Sakit itu kian menghebat. Tubuhnya gemetar. Ia membenci kota ini. Kota yang telah merenggut jiwa istrinya. Ketika itu Run hamil 8 bulan dan mereka dalam perjalanan rutin menuju rumah bersalin. Namun siang itu Jakarta tidak ramah, ada demonstrasi. Entah demonstrasi apa, ia tidak peduli. Dan kali ini berbuah kerusuhan seperti yang sering ia saksikan di televisi, sejak peristiwa Mei 1998 lalu di Kathmandu. Run dan Abu terjebak di tengah kepungan amuk massa. Menjadi bagian dari peristiwa seremonial negeri ajaib bernama Indonesia. Abu mencoba memutar KIA-nya ke tempat aman dengan panik meski Run menenangkan. Ia tak mau mengambil risiko mengingat bakal bayi dalam perut istrinya. Namun entah dari mana muasalnya, suatu kekuatan jahat dengan kejam meledakkan kepala istrinya. Ia histeris begitu menyadari dari beberapa rentetan peluru tajam telah menembus kaca depan dan bersarang tepat di bagian kening. Ia histeris mencoba menyelamatkan jiwa Run. Darah menggenang sampai bagian kaca samping, ikut mengenai tubuh Abu. Ia histeris seperti Tristan Ludlow dalam film Legends of the Fall ketika Isabel Two istrinya tertembak para penjahat. Run tewas seketika, hanya sempat bersyahadat lemah. Ia mencoba membawa Run ke rumah sakit terdekat, namun terlambat. Mereka sempat terjebak macet dan huru-hara, meski Abu kali ini ngebut  dan nekat menerobos barikade manusia dan kendaraan. Tim dokter angkat tangan. Pun operasi caesar tak berhasil menyelamatkan bayi mereka. Yang menurut USG sebelumnya seorang lelaki dan akan dinamai Palung Jiwa Yazid. Peluru itu telah ikut melemahkan sistem kehidupan bayi.

Bagi Abu, dunia telah runtuh! Ia lebih dari terguncang. Sendirian. Setelah Maryam, lalu Run sekaligus Palung. Apakah hidup masih ada arti? Siapa pun tak bisa menghibur. Tai kucing! Ia tak butuh hiburan atau ucapan belasungkawa. Ia ada di sana. Tubuh istrinya bersimbah darah, dan darah itu menyimbahi tubuhnya pula. Mengenai rambutnya -- rambut belah tengah yang selalu diacak-acak istrinya, bahkan sejak SMU. Mereka tak semestinya di sana. Persetan takdir! Hidup adalah semacam pilihan! Persetan dengan musibah. Tak ada yang mengaku salah. Tinggallah ia dirajam penyesalan dan rasa bersalah, sendirian.

Kali ini ia melihat langit. Kegelapan menyelubungi semua, juga jiwanya. Ia melihat ke bawah, jiwanya gamang. Ia sungguh ingin terjun menyusul Run dan Palung. Namun bukankah, “Jika pun maut....” Tidak! Adakah tindakan lebih pengecut selain lari dari kenyataan dan mengingkari janji?!

Abu bersimpuh di balkon, ingatannya mengembarai saat-saat paling membahagiakan bersama Run.

Ia melihat dirinya dan Run, begitu jelas. Kala libur akhir pekan atau panjang, duduk di dekat sungai dengan kaki berjuntai di kali kecil sambil memerhatikan Mang Kosim dan Epul mencangkul di sawah seberang. Run dan Abu berjalan-jalan menyusuri lereng gunung kampung Run sampai di kampung terjauh. Run dan Abu ikut Al keponakan Run berikut sepupu-sepupu lainnya, yang Run sebut para kurcaci, ngurik belut di sawah. Run dan Abu menikmati panorama arah Timur di balkon loteng rumah ibu Run. Run dan Abu menata rumah masa depan mereka di kebun dekat jalan. Run dan Abu berkebun. Run dan Abu menebar pupuk ke sawah. Run dan Abu menanam pohon lalu tanaman hias lainnya di halaman rumah masa depan. Rumah panggung tradisional khas bumi Pasundan bertingkat dua dengan balkon menghadap Timur dan Utara. Run dan Abu menyesap kopi atau teh manis di balkon, menikmati panorama pagi kala halimun masih menyelimuti pegunungan. Run dan Abu berkumpul dengan geng menulis Mnemonic di suatu taman Kota Bandung pada Minggu yang cerah sampai mendung.

Ia melihat begitu banyak. Terlalu banyak di kehidupan yang singkat.

“Ia kembali tengadah. Menentang hujan, kedua lengan terentang ke udara, memaki Tuhan.  “Untuk apa hidup  jika semua Kau renggut?!” teriaknya parau.

Namun langit hanya menjawab dengan bulir-bulir air yang membekukan.***

Limbangan, Garut, 4 April 2008, 02:55 WIB
Dimuat majalah Kartika, Agustus 2010 




Tristan



Fiksi


Tristan

Oleh Rohyati Sofjan


T
ristan seperti muncul dari ketiadaan, sekonyong-konyong yang diam, dan aku hanya bisa terpaku di ruang tamu ini menyaksikan sosok yang masuk begitu saja tanpa salam. Wajahnya beku, ia bahkan tidak melihat ke arahku, sang tamu. Tristan menghilang ke ruang tengah, barangkali masuk kamarnya, entahlah. Aku merasa kecewa dengan pertemuan kesekian yang selalu saja berakhir tanpa sapaan.
Bodoh, aku tak berani menyapanya! Bagaimana bisa kusapa wajah beku seperti itu, huh, cool banget,  kayak habis dipendem di freezer ‘kali.. Ah, Tristan, wajah tampan itu selalu mengusik anganku. Aku sudah terpesona padanya kala ia dipajang di ruang tamu dalam bingkai besar, sebuah foto keluarga yang hangat. Tristan tersenyum lepas berdiri mengapit Najmi kembarannya bersama Palung abang mereka yang enam tahun lebih tua, di depan mereka duduk ayah bundanya. Aku langsung suka senyum Tristan, dan tak menduga begitu bertemu dengannya jauh dari kesan murah senyum.
Najmi, nama lengkapnya Najm Syaqib Istiqomah dan biasa dipanggil Najmi, masuk dengan nampan besar berisi makanan dan minuman, plus senyum ramah yang terkembang. Ia mirip Tristan namun dibedakan dari segi jantan-betina, Najmi lebih ramah dan murah senyum daripada abangnya.
Aku lebih tertarik pada Tristan ketimbang rasa haus dan lapar setelah seharian berkutat mengerjakan makalah penelitian biologi kami. “Apa ia selalu begitu?”
“Maksudmu?” Najmi bingung meraba arah ucapanku yang empat kata sebagai sambutan.
“Abangmu jutek atau sok jaim, sih?”
“Oh,” Najmi tersenyum geli, “kenapa emang?”
“Tiap aku berada di sini ia selalu masuk begitu saja tanpa beruluk salam, apalagi bonus senyuman.”
“Wah, kasihan kamu,” Najmi malah menggoda. “Ia memang selalu gitu ma cewek. Jangan tersinggung, banyak yang tersinggung dengan ulahnya yang dianggap sombong atau tak sopan, ia bisa berdalih tak ada urusan.” Najmi angkat bahu. Aneh, punya kembaran kok beda watak.  
Aku memandang Najmi berharap ia bisa cerita lebih banyak tentang kembarannya, namun Najmi seperti tak ingin melanjutkan. Ia seperti tak suka mengumbar cerita tentang keluarganya. Kedua orang tuanya tinggal di desa, rumah besar ini milik Palung abang mereka yang kerja di Vietnam. Palung sudah lama mengincar rumah dekat Taman Cilaki ini, begitu terbeli langsung minta kedua adiknya untuk menempati. Palung masih lajang, kata Najmi. Setidaknya Najmi dan Tristan yang kuliah nyambi kerja di Bandung tak perlu kost apalagi keluar biaya lainnya. Ada Palung yang menyokong mereka.
“Kapan Palung pulang?” Sudah satu jam dan aku bosan dengan suasana diam, tugas biologi ini membuatku capai, ini makalah tentang energi alternatif dari tumbuh-tumbuhan, bagaimana pati jagung dan beras bisa dimanfaatkan. Sudah selesai tinggal diedit ulang. Ya, biologi kajian pilihan kami. Aku dan Najmi di ITB, Tristan di ATB, itu Akademi Tata Boga. Aneh ya, pilihan jurusan Tristan. Lelaki macho yang sepintas mirip Orlando Bloom itu mestinya berkutat dengan mesin bukan masak.
“Belum tahu, bisa bulan ini atau depan. Ada apa dengan Palung?” lagi-lagi Najmi menggoda, senang punya dua abang yang keren ‘kali.
“Minta oleh-olehnya,” rajukku.
Najmi tertawa dan mengiyakan. Dan saat itu Tristan tiba-tiba muncul, selalu seperti dari ketiadaan sosoknya bagiku, menyapa Najmi, “Aku berangkat dulu, hati-hati di rumah. Mau pesan apa untuk bahan belanja nanti?”
“Apa aja deh, yang penting enak dimakan, jangan lupa bumbu dapur....”
“Dan martabak bangka!” usulku tiba-tiba, aku sendiri tidak tahu mengapa. Tristan hanya diam seolah tak mendengarku. Lalu berlalu tanpa melihatku.
“Jangan lupa martabaknya buat Rika, Tristan!” teriak Najmi sambil tertawa yang disambut tawaku. Entah mengapa aku merasa bahagia, berharap kekakuan dengan Tristan mencair. Aku sudah lama kenal Najmi sejak mapram namun baru akrab karena tugas biologi ini.
Tristan sudah menghilang dengan motornya. Mulutku usil lagi, “Ia mau ke mana?”
“Kerja di Potluck, jadi tukang masak dan sebagainya. Abangku ‘kan jago masak. Mau nginap untuk mencicipi masakannya nanti malam?”
Dan tawaran Najmi kusambut dengan sangat senang hati. Kapan lagi aku mencicipi masakan Tristan, makan malam bareng yang kuharap romantis. Argh! Eh, aku ‘kan sudah punya pacar! Gimana reaksi Inal jika tahu yayangnya malah terbayang-bayang pada cowok lain, pengen dimasakin pula! Dan jangan lupa sudah lancang minta oleh-oleh martabak bangka, haha....  

M
akan malam yang kuharap romantis ternyata tak terwujud. Setelah semalaman menunggu Tristan dengan dalih kabita kana martabakna, dan penampilan supercantik ala Rika yang kuaaplikasikan dari majalah Kartika punya Najmi, pada akhirnya malah membuatku layu. Tristan pulang menjinjing belanjaan tidak sendirian. Di belakangnya ada seorang perempuan ayu berjilbab yang anggun plus modis mengekor dengan dua kantung plastik kecil, salah satunya berisi sekotak martabak. Aku hanya bisa melongo ketika Tristan melenggang masuk begitu saja. Aku bahkan tak membalas senyum ramah dari perempuan ayunya. Aku merasa seperti ranting kering yang dipatahkan angin. Begitu tiba-tiba, dan aku tak bisa menahan laju gravitasi untuk jatuh ke bumi, bumi kesadaranku sendiri!
Dari ruang tengah kulihat Tristan begitu akrab dengan  perempuan itu di pantry. Ada senyum dan tawa mewarnai mereka. Aku pilu sekaligus cemburu karena senyum dan tawa Tristan tidak ditujukan untukku. Ia begitu menarik, sangat menarik jika tersenyum dan tertawa. Begitu tulus dan lepas. Andai saja senyum itu untukku. Betapa berubahnya Tristan dengan kehadiran perempuan itu, bukan lagi lelaki beku yang habis dipendem di freezer. Ia begitu hidup dan wajah putihnya sesekali merona bahagia.
Aku masih terpaku di sofa ketika Najmi muncul dengan sepiring martabak bangka yang masih hangat. Namun aku sudah kehilangan selera apalagi membayangkan makan malam yang romantis. Tristan memasaknya tak sendirian! Harusnya aku yang menemani, aku tak jago amat namun ingin juga diajari Tristan masak makanan ala restoran dengan penyajian yang ciamik!
“Siapa dia, Naj?”
Seperti biasa Najmi selalu tersenyum sebelum mengawali ucapan, barangkali kali ini ingin mencairkan suasana karena wajahku keruh sekali. Sangat kentara rasa tidak sukaku karena kehadiran perempuan itu. “Mbak Atiqah, istrinya.”
Deg! Bagaimana bisa fragmen ini harus kujalani. Aku memandang Najmi, sangat tersinggung. “Kok aku tak diberi tahu ia dah nikah, semuda itu pula, kalian ‘kan sama-sama belum lulus kuliah?”
“Jangan ngomel, sabar, Rika. Ia dah lama nikah, dah setahun. Cuma aku dan kamu yang tahu. Please, aku mohon jangan umbar soal ini pada siapa pun, orang tua kami saja belum tahu, apalagi Palung. Sengaja dirahasiakan demi menjaga perasaan Palung yang trauma karena calon istrinya meninggal akibat kecelakaan kala ekspedisi ke pedalaman.” Kali ini Najmi berhenti, diliriknya Tristan dan Mbak Atiqah yang sedang memasak. “Memang tidak etis namun Tristan merasa tak bisa menunggu lebih lama lagi, takut MBA. Mungkin Palung akan mengerti namun Tristan yang pendiam dan tertutup itu tidak akrab dengan Palung dan tak tahu bagaimana cara menyampaikan keinginan soal menikah yang bagi Palung bisa terasa lucu. Sejak kecil Palung yang usil dan mischief suka mengganggunya. Barangkali Tristan ingin membalas Palung dengan caranya. Aku tidak tahu.” Najmi angkat bahu. Dan aku hanya bisa melongo.
“Jangan melongo saja, dimakan tuh martabaknya, khusus buat kamu dari Tristan, katanya dipilih yang spesial. Sayang jika keburu dingin, Rik. Aku nyiapin meja makan dulu.”
Aku masih duduk merenungkan ucapan Najmi, dan aku merasa picik dalam fragmen ini. Ya, nikah muda sudah biasa, masalahnya bergantung cara. Aku melihat Tristan dan Mbak Atiqah, mereka begitu mesra layaknya suami istri. Ada ikatan sah di antara mereka, ikatan halal. Mendadak aku tidak cemburu lagi, aku hanya iri pada kemesraan mereka. Sedang aku sangat sering gonta-ganti pacar, alasanku bosan. Hanya Inal yang tetap bertahan untuk menjadi pacarku. Aku merindukan Inal kakak tingkatku. Kapan ia melamarku, ya? Kulahap martabak bangka sambil membayangkan masa depan dengan Inal, apakah kami akan nikah muda juga, secara diam-diam atau terang-terangan?
Makan malam sudah siap. Kami makan dalam suasana yang riang dan hangat. Masakannya sangat lezat. Dan aku mencoba terbiasa dengan sikap Tristan yang berjarak.***
Limbangan, Garut, 19 April 2011 
> Dimuat di majalah Kartika edisi 98, Oktober 2001  



Selasa, 25 Februari 2014

Puisi yang Dimabuk Senja



RESENSI

( Pustaka Nusantara)

Puisi yang Dimabuk Senja

 

DATA BUKU            : KUUKIR SENJA DARI BALIK JENDELA
PENULIS                  : NOVY NOORHAYATI  SYAHFIDA
PENERBIT               : PUSTAKA NUSANTARA
CETAKAN                : PERTAMA, DESEMBER 2013
TEBAL                      : 109 HALAMAN
ISBN                          : 978-602-7645-18-9
HARGA                     : RP35.000,-  

ADALAH senja, panorama yang senantiasa mengilhami penyair untuk memuisikannya, menggoda orang turut menafsirkan dalam beragam persepsi sesuai ranah pengalaman. Dan Novy Noorhayati Syahfida mengumpulkan kepingan senja yang sarat cerita dalam antologi puisi tunggalnya, Kuukir Senja dari Balik Jendela.

Seperti Seno Gumira Ajidarma yang bercerita dalam cerpen “Senja di Balik Jendela”,  Novy mengukir senja dalam puisinya, senja yang sarat cerita. Sukacita dan duka berbaur menjadi satu dalam irama kehidupan, dan yang menyatukan kepingan manik kenangan adalah cinta.

Berceritalah tentang cinta dalam balutan senja, maka dapatkan panorama rasa yang menghanyutkan. Sebagai penyair, Novy cenderung liris sekaligus lembut memuisikan senja; meski marah, sedih, bahagia, atau terluka.

Bisa saja baginya, senja telah mati/ dalam pekik sunyi nelayan pantai/ terkurung bersama ribuan camar tua/ yang terluka// dalam “Kematian Senja”. Atau juga mengumpamakan dirinya sebagai, aku ini senja/ yang kadang berwarna jingga/ namun pernah pula merah menyala/ …aku ini senja/ jangan panggil yang lain/ karena senja tak meninggalkan sisa// (hal 24).

Senja, dalam tafsiran KBBI, bermakna waktu (hari) setengah gelap,  sesudah matahari terbenam. Apa yang tersisa dari senja sendiri selain kegelapan malam. Apakah Novy, sebagai senja, merasa dirinya tak menyisakan apa-apa setelah pudarnya pesona yang dipancarkan jika “gelap” menjelang, hanya meninggalkan kehampaan dan ruang misteri terbesar?

Akan tetapi, jika dirinya adalah senja, setiap saat selalu memampangkan pesona meskipun pada akhirnya karam ditelan malam. Pun sebagai penyair, Novy seakan dimabuk senja, lalu mengajak kita ikut berpesta dalam  “Aku Senja dan Kau adalah Ombak”: Aku senja dan kau adalah ombak/ bertemu dalam satu titik yang sama/ kerinduan…/ pada batu karang serta pepasiran/ pada nyiur yang melambai enggan// Aku senja dan kau adalah ombak/ yang letih mengharap/ pada cinta…/ di luasnya samudera/ di langit nan jingga// Aku senja dan kau adalah ombak/ aku yang dimabuk cahaya/ dan kau yang bersetia/ mari kita tuang lagi satu puisi/ di sini, di pantai ini…//

Ada 100 puisi dalam antologi ini, Proses kreatif yang panjang dan produktif, dengan titi mangsa tahun 1997 sampai 2013. Betapa Novy rajin berkreasi mengolah alur pikir dan rasa menjelma puisi. Dan dengan judul  Kuukir Senja dari Balik Jendela, sebenarnya seakan menunjukkan betapa Novy merasa dirinya sebagai pengamat. Dari balik jendela ia menyaksikan berbingkai-bingkai panorama senja yang sarat cerita.

Puisi yang ditulisnya cenderung  pendek, liris, dan mudah dipahami. Bermain dengan imaji. Ada yang kuat ada pula yang lemah. Bergantung selera penafsiran pembaca. Penyair kelahiran Jakarta, 12 November 1976 ini menulis puisi sejak usia 11 tahun. Jika dirunut dari jejak panjang kepenyairannya berarti Novy telah 26 tahun berpuisi. Rekor yang mengagumkan.

Setiap puisi mengajak kita menapaktilasi peristiwa yang dipaparkan penyair, setiap puisi adalah kelindan peristiwa itu sendiri. Dan setiap puisi merekam takdir. Meskipun sepi.

Puisi membawa kita pada keheningan atau hiruk-pikuk peristiwa. Ditujukan pada seseorang atau sesuatu, ada juga untuk pencipta langit dan bumi. Puisi adalah kabaran jiwa, upaya manusia agar karsa terpelihara.

Begitu pun dengan Novy, bersikeras menjaga elan vital karyanya bukanlah hal mudah. Sebagaimana pasang-surut laut, hidup pun adakalanya membuat kita terpuruk. 100 karya yang ditawarkannya adalah upaya mengajak pembaca menafsirkan sekaligus menikmati senja. Senja bisa mengajak kita memahami rahasia usia, sekaligus sesuatu yang fana.

Sebuah catatan bagaimanapun harus ditorehkan sebagai apresiasi sekaligus kritik konstruktif. Sebagai penyair Novy telah memiliki ciri khas dalam puisinya, pilihan diksi yang sederhana dan mudah dipahami. Seakan ia ingin leluasa berkomunikasi, mendedah pikir dan rasa tanpa kendala. Dan rima pun terjaga. Akan tetapi, masih ada yang perlu dikoreksi. Kekinian dalam berbahasa!

Puisi bisa berlindung di balik licentia poetica, namun sebagai penyair yang baik janganlah mengabaikan gramatika. Ilmu tata bahasa bagaimanapun untuk melengkapi karya penyair agar lebih bernas. Samudera yang dipilih Novy kiranya bisa “dibakukan” menjadi samudra. Janganlah bunyi dijadikan dalih sebagai pemberi kekuatan dan pengaruh bagi puisi, bagaimanapun bahasa jangan dikebiri.

Sebaiknya penyair khatam EYD dan panduan berbahasa agar karyanya tetap elok dinikmati sepanjang masa. Dan semoga kelemahan Novy dalam beberapa bagian kelak bisa dikoreksi. Tabik! (*)

ROHYATI SOFJAN, Penulis lepas, tinggal di Garut    

Limbangan, Garut, 12 Februari 2014
> Dimuat harian Jawa Pos, Minggu, 16 Februari 2014 


(Foto Untung Wahyudi)