Senin, 06 Januari 2014

Tiga Tahun yang Hilang



Litera

Tiga Tahun yang Hilang 

Oleh Rohyati Sofjan 


*Penulis Lepas Cum Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Limbangan, Garut

A
pa yang dirasakan seorang anak ketika harus berhenti sekolah dengan alasan cacat fisik? Dan bagaimana peran orang tua sendiri agar anak bisa tumbuh kembang dengan baik; secara psikologis dan kognitif?
Setamat SD saya dengan sangat terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolah. Bukan tidak ingin atau tidak mampu, tetapi ketulian saya sudah pasti akan sangat menghalangi untuk bisa belajar di sekolah umum yang diperuntukkan bagi “anak-anak normal”. Ya, kala SD saya terpaksa menjalani hari di sekolah umum karena keadaan. Saya sudah telanjur masuk kala orang tua tidak menyadari adanya kelainan pada telinga saya. Seingat saya, awal mula kehilangan pendengaran terjadi sejak usia 6 tahun, dengan sebab misterius. Saya tak ingat apakah karena infeksi telinga, pemukulan, atau apa. Yang jelas saya sangat tersiksa menjalani hari di sekolah umum, banyak tidak mengertinya. Untuk pelajaran yang didiktekan saja harus “mencontek” catatan teman sebangku.
Para guru sudah mengeluhkan keadaan saya pada orang tua, bukannya memindahkan saya ke SLB agar bisa beroleh suasana belajar yang nyaman dan kondusif, orang tua malah bolak-balik memaksa saya mengikuti beragam pengobatan. Dari yang medis sampai non-medis, dari yang masuk akal sampai kebangetan, dan tak satu pun akhirnya berhasil. Barangkali telinga saya sudah rusak parah. Error dalam saraf yang memengaruhi kinerja panca indra.
Barangkali berat bagi orang tua untuk punya anak yang masuk kategori cacat. Ayah saya yang berpendidikan tinggi harus mengalah pada ibu yang cuma sekolah sampai kelas 2 SR dan berasal dari kampung dengan pola pikir sempit. Kendali akan pengelolaan uang yang buruk oleh ibu membuat ayah yang belum setahun pensiun sebagai PNS sepertinya tak mampu memasukkan saya ke SLB yang jauh dari rumah. Jangankan saya, abang saya pun tidak diizinkan melanjutkan ke STM dengan alasan tidak serius belajar.  
Harus saya akui, ada ketidakseimbangan dalam harmoni keluarga. Peran orang tua sebagai pembina keluarga agar anak-anak nyaman dan terlindungi, juga tercukupi kebutuhannya; harus dikalahkan ego ibu. Ibu saya bukan jenis orang yang suka menabung demi masa depan atau berinvestasi dengan bijak. Dan ayah saya yang memercayakan gajinya untuk dikelola ibu bukanlah orang pelit.  Dan akibatnya, ketika pensiun, dengan berat ayah bilang tidak bisa lagi berlangganan majalah Bobo. Bagi saya Bobo bukan sekadar kawan belajar dan bermain selama 6 tahun kurang lebih. Dari Bobo saya bisa memahami bahasa dan nama benda-benda. Bobo adalah “telinga” saya. 
Saya harus menerima kenyataan tidak sekolah, dan kemampuan saya dalam hal memahami gerakan mulut (reading lip/oral sign) mulai berkurang banyak. Ketiadaan interaksi sosial dengan teman sebaya menjadikan saya tumbuh sebagai anak yang minderan. Hiburan saya adalah bacaan. Saya lahap apa saja asal ada hurufnya. Buku loakan atau pinjaman. Beli majalah atau buku bekas di Pasar Kiaracondong dengan uang jajan yang disisihkan. Sayangnya ibu tetap bukan jenis insan yang menghargai aksara. Jangankan koleksi majalah Bobo bekas langganan, majalah loakan pun harus alami nasib serupa, dijual lagi. Amit-amit banget masa itu!
Alhamdulillah, setelah tiga tahun menjalani masa yang paling amit-amit, akhirnya saya bisa melanjutkan sekolah. Dan dari SMP sampai SMU kembali umum. Bukan hal yang mudah. Namun tiga tahun yang hilang mengajarkan saya suatu tekad kuat untuk menghargai pendidikan. Dalam keterbatasan saya berusaha keras memacu diri bahwa saya mampu (melawan perasaan tidak berada di tempat yang semestinya). Meski tidak optimal benar sebab ada hal-hal di luar kapasitas kemampuan saya. Otak saya kuat dalam hafalan dan pemahaman huruf, namun lemah dalam abstraksi angka-angka. Matematika dan sebagainya memakai bahasa juga, namun saya kurang memahami bahasanya. Saya baru memahami rumusan matematika dan sebagainya setelah dewasa, membantu mengerjakan PR keponakan untuk kategori SD dan SMP, itu pun setelah memelototi buku ajarnya. Merasa harus bisa agar kelak tidak jadi ibu yang buruk dan payah di mata anak saya.
Sekarang saya ibu dari seorang balita yang hiperaktif. Istri dari seorang buruh tani di kampung. Masih mencintai literatur (dengan koleksi yang bertambah dan tak harus dijual ke loakan). Mencoba mensyukuri apa yang telah terjadi sebab hidup tak bisa diputar ulang ke belakang dalam perandaian. Dan ada banyak orang  yang mendukung, keluarga dan kawan-kawan!***
(Untuk kawan-kawan di Yayasan Jendela Seni Bandung, Mnemonic Geng Mnuliz, dan milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa)
Limbangan, Garut, 13 Agustus 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D