Sabtu, 11 Januari 2014

Kutu Air dari Sawah



Kutu Air dari Sawah


Telah menyebar di atas kedua kakiku.
Hasil yang kuperoleh kala dua jam sudah mengaduk-aduk
lumpur sawah, agar tanahnya gembur dan saluran air
bisa meresap; padahal sebelumnya tak apa-apa.
Barangkali tubuhku tak imun lagi setelah tiga tahun
berdiam dan bekerja selaku orang kota dalam jalur niaga.

Dan kini kutu air yang semula terasa jinak saja, menipuku
dengan bentol-bentol merah seperti habis digigit serangga.
Ada puluhan bentol jumlahnya.
Barangkali tiap bentol merupakan koloni dari statistika
kuman tak terhingga,dan gatalnya jangan tanya.
Aku tak boleh menggaruk atau tambah parah jadinya.
Salep Pagoda dari warung Haji Ayu tak mempan rupanya.
Aku tak punya sabun antiseptik khusus, yang ada hanya
sabun keluarga Lifebuoy. Kau punya apa
untuk mengatasi tusukan di kedua kakiku,
bahkan mencapai betis saat uangku habis?

Aduh, tak bolehkah aku mengaduh atau mengeluh
atas segala gatal-gatal tak tertahankan.
Ini hari keda kuman menyebar, dari aliran air sawah
yang terkontaminasi kotoran bebek gembalaan.
Kuman-kuman ini tak mempan dibasmi salep Pagoda.
Barangkali aku butuh sesuatu yang lebih keras,
merendam kakiku di dalam air panas campur cairan antiseptik.
Atau lebih baik berendam di Cipanas jika punya uang
untuk ongkos jalan. Bersenang-senang melupakan beban
jadi petani amatiran dan serangan kutu air kurang ajar
yang menyebar sampai tangan kanan.

Besok masih ada hari dan aku masih harus terus turun
ke sawah. Barangkali aku harus disuntik zat tertentu
agar imun dari segala macam kesialan.

#Limbangan, 31 Maret 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D