HOME/RUMAH

Senin, 30 Desember 2013

Uang Sekarat



Podium

Uang Sekarat

Oleh Rohyati Sofjan 


*Penulis Lepas Cum Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Limbangan, Garut

U
ang sekarat adalah uang yang kondisi fisiknya sudah tidak layak. Terutama uang kertas. Tersebab kucel, lepek, sampai robek. Namun masyarakat banyak masih tetap saja menggunakannya. Entah karena ketiadaan pilihan atau terpaksa menerima uang demikian.
Fungsi uang sebagai alat tukar dan transaksi jual beli sesungguhnya kurang terlindungi. Kekerapan pemakaiannya akan tergerus waktu sehingga penampilannya tidak layak lagi dan bahkan kerap ditolak pelaku transaksi. Rasanya memalukan jika kita membeli sesuatu yang baik dan sangat dibutuhkan dengan uang kertas yang sudah tak laik pakai lagi. Tapi kita sering tak berdaya karena kekerapan peredarannya masih berkesinambungan di masyarakat. Tak ada yang mau bertanggung jawab sebagai pemegang. Pun tak ada informasi berharga bahwa uang demikian bisa ditukar lagi di bank terdekat dengan uang baru yang lebih segar dan gres.
Saya teringat adegan film tentang perjalanan uang 1 Dollar Amerika. Dari saat masih mulus sampai berpindah ke banyak tangan hingga melayang ke udara dan beruntung hinggap di tangan serang nenek tunawisma yang memperebutkannya dengan orang lain, Uang yang robek sebagian itu ternyata masih bisa ditukar di bank. Sang nenek bertanya pada petugas bank wanita yang ramah, akan diapakan uang rusak itu. Katanya akan dihancurkan. (Atau mungkin akan didaur-ulang kertasnya?
Saya kagum, uang sekarat itu masih bisa dihargai di sana. Bahkan menjadi peran sentral cerita. Bermula dari upah penghibur pesta lajang yang akan menikah, lalu terus-terus bertukar tangan pada setiap lakon cerita. Dan berakhir di tangan nenek gembel itu. Sedang sisa sobekan satunya? Ironisnya menjadi pembatas buku teman perempuan si cowok lajang yang malah batal menikah gara-gara pesta lajang yang ketahuan calon istrinya. Dan mereka kebetulan bertemu di bandara untuk melakukan penerbangan ke kota lain.
Selembar uang, alangkah panjang sejarahnya. Kita tidak pernah tahu bagaimana ia bermula. Mungkin sebagai bagian dari upah karyawan, masih mulus benar dan berbau bank. Lalu seiring asas kebermanfaatannya sebagai alat tukar, ia bisa berakhir menyedihkan. Menjadi uang sekarat yang kucel, robek, atau tercoret-coret. Uang rusak yang masih terpaksa diakui eksistensinya, meski tak jarang yang menerima menggerundel atau menolak.
Kebiasaan masyarakat sendiri dalam memaknai uang mungkin kurang menghargainya untuk menjaga kesinambungan agar tetap utuh. Mencoret uang dengan sederet nomor telefon, atau curhat ngaco atau apa saja seolah hal biasa. Itu uang kertas, nanti juga berpindah tangan, emangnya gue pikirin. Barangkali demikian pemikiran masyarakat kita. Sama sekali tak ada sosialisasi media dari pemerintah pada masyarakat tentang pentingnya menjaga keutuhan uang.
Namun, apa yang terjadi jika kita tidak sengaja merusak uang? Robek karena anak kecil? Terpaksa disambung dengan solasi plastik. Adakah rasa sayang dan bersalah? Atau kita salahkan uang yang kurang kuat? Lalu, bahan kertas apa yang paling kuat?
Di sebuah toserba, saya menyaksikan seorang ibu yang ditolak uangnya oleh kasir, setelah kasir itu berkonsultasi dulu dengan rekannya. Alasannya, uang seratus ribu tersebut sudah rusak penampilannya karena terendam lunturan pakaian. Bukan uang palsu, memang. Namun noda lunturan tersebut jelas sangat mengganggu jika dilihat dari etika bisnis. Baik sebagai alat upah karyawan atau transaksi dengan pemasok barang. Ibu tersebut terpaksa “berutang” dengan jalan menggesek kartu merchant toserba itu. Masih beruntung ia punya kartu gesek, bagaimana jika bagi yang tidak punya? Paling banter mengembalikan barang belanjaannya dengan rasa malu atau dongkol.
Sebaliknya, pada suatu hari yang lampau, di Gramedia BIP saya beroleh uang kembalian seribuan yang masih sangat gres. Tentu saya senang menerimanya. Seperti sengaja dilakukan untuk memanjakan konsumen.
Sekarang, di zaman serba gesek ini, kehadiran uang elektrik atau e-money memudahkan transaksi masyarakat. Selain kartu kredit dan debit atau kartu member toko tertentu. Namun bagi masyarakat pemakai jasa uang kertas, tentu membutuhkan inovasi yang lebih aman dan nyaman bagi rupiah mereka. Juga informasi tentang apa yang harus dilakukan dengan uang sekarat.***
Limbangan, Garut, 7 Maret 2013


Minggu, 29 Desember 2013

Remaja Bermotor



Podium

Remaja Bermotor

Oleh Rohyati Sofjan


*Penulis Lepas Cum Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Limbangan, Garut


S
uatu sore di bulan September 2004, kala masih lajang dan bekerja di Bandung,   diminta berbagi pengalaman proses kreatif di Klub Kepenulisan HARDIM Bandung, saya sempat mengobrol dengan Bu Vivayani W.D., seorang ibu rumah tangga yang semangat belajar menulis. Ia cerita tentang idenya menulis artikel fenomena sepeda motor. Menurutnya, harga motor kian turun namun tingkat kecelakaan kian tinggi. Ia kesulitan mengembangkan idenya karena butuh data pendukung.
Saya tercenung menyimaknya. Lahir dan besar di Bandung, tepatnya di kawasan Kiaracondong, lalu pindah ke kampung halaman ibu saya di Limbangan Garut; menyaksikan hidup bergerak sangat cepat. Dulu motor barang langka dan mahal harganya. Almarhum ayah saya yang PNS cukup naik kereta PP ke kantornya di Balai Besar PJKA, gratis pula karena pakai KBD -- Kartu Bukti Diri untuk karyawan dan keluarganya --, jadi motor adalah barang “mewah” bagi kami. Cuma abang saya yang merasa wajibul kudu memiliki motor tanpa menakar kemampuan finansial sendiri.
Dulu Bandung tak diluberi motor, sekarang hampir dipastikan mayoritas warga merasa harus memilikinya. Bukan cuma Bandung saja, di kampung saya pun demikian. Kala remaja dan bersekolah di SMU Al Fatah, Limbangan pada tahun 1994-1997, tak ada teman yang bawa motor ke sekolah. Harganya masih mahal. Untuk transportasi paling naik sado atau angdes yang ongkosnya masih 100 rupiah selain ojek atau mobil omprengan yang beda harga. Kalaupun ada yang punya, tak membawanya ke sekolah, entah mengapa.
Zaman berubah, aturan berbeda. Pun Rupiah. Sekarang duit cepekan tak cukup untuk ongkos. Maka, fenomena remaja bermotor pun mewabah. Bagi yang rumahnya jauh dari sekolah motor sangat vital fungsinya. Bukan cuma orkay saja yang memiliki motor.
Lihatlah panorama pagi yang sibuk, anak berseragam putih-biru pun “bermotor” ke sekolah. Ada kaitannya dengan ongkos transportasi yang mahal selain efisiensi. Akan tetapi, bagaimana dengan di jalan raya dan pembiasaan pemakaian pelindung kepala? Safety guard!
Dalam film “First Love” anak SMP pun bermotor, lebih tepatnya skuter matik macam Honda Scoopy. Itu di Thailand. Meski bingung karena setara dengan kelas 1 SMP, kok kayak lumrah di sana. Namun salutnya, mereka patuh memakai pelindung kepala. Helm standar yang bahkan pemakainya mau repot menalikan di dagu. Tidak seperti di sini yang entah mengapa masyarakat seakan malas memasang tali helmnya agar aman benar di kepala.
Jika aturan di Thailand membolehkan remaja bermotor secara legal, meski untuk pelajar setingkat 1 SMP (di sana disebut kelas M-1), bagaimana dengan kita? Kultur dan aturan yang berbeda membuat sesuatu tampak legal atau ilegal. Wallahu a’lam. Ditambah lagi tingkat kecelakaan di sini masih tinggi. Berkaitan dengan sikap mental masyarakat sendiri.
Sekira pada tahun 2006, saya pernah jalan-jalan sendirian di Garut Kota. Lumayan sepi jalanannya. And I love it! Namun kenikmatan sebagai turis penyuka kota sepi itu bersifat fana. Garut Kota sekarang termasuk ramai juga, banyak motornya. Tahun 2009 kala angkot yang saya tumpangi bersama keluarga melintas sekolah yang kebetulan sedang bubaran, seorang remaja putri berseragam abu-abu sempat berdadah setelah motornya membelok ke jalan raya, dan pandangan bukannya ke arah depan jalan malah ke arah luar pintu gerbang sekolah tempat temannya. Barangkali ia pikir tak apa-apa, namun dalam perspektif saya itu tindakan gegabah. Sempat berdadah meski sekejap saat membelok ke jalan raya bukanlah tindakan baik. Napa tidak dadah dari tadi sebelum membelok ke jalan raya? Fokus utama bermotor mestinya ada pada pandangan ke depan demi keselamatan.***
Limbangan, Garut, 31 Maret 2013




Rente



Rente


Penduduk kampungku terjerat utang. Ada banyak. Dan ibuku salah satunya. Utang tak perlu yang membuatku meradang. Ibu akan tetap berutang, dengan atau tanpa sepengetahuanku. Percuma aku melarang, ibu akan selalu beralasan, alasan bodoh yang membuatku tak berdaya. Marah pun percuma. Barangkali utang adalah hobi baru ibu, semacam penyakit lebih tepatnya. Keinginan beroleh uang cukup besar dalam waktu seketika  mendorong ibu mengorbankan ketenangan dan kesejahteraan kami dalam jangka panjang.

Cerpen Rohyati Sofjan


U
ang tunjangan pensiun ibu yang tak seberapa dipotong pihak bank tempat ia meminjam uang, gara-gara abangku butuh pinjaman dan ibu terpaksa mengagunkan surat pensiunnya. Ada banyak hal yang membuat ibu harus demikian, berulang memperpanjang agunan. Namun jika ditambah meminjam pada rentenir jelas itu sudah keterlaluan, apalagi untuk hal tak produktif.
“Ibu karep sorangan!” kata abangku satu hari sebelum pernikahanku. Masalahnya ibu tak mau mendengar omonganku demi kebaikan. Aku ingin pernikahanku dengan cara sederhana dan hemat biaya. Namun ibu jenis orang yang tak bersyukur, begitu keras kepala memaksa belanja. Merasa gengsi jika tak bisa menyajikan sesuatu yang biasa dilakukan orang hajat, dari acara uleman atau ritual memberi amplop dan balas memberi bingkisan pada para pemberi sebelum hari pernikahan, sampai menyajikan masakan pada undangan di hari pernikahan.   
Aku tak paham istilah karep sorangan, banyak sekali kosakata bahasa Sumda yang sering tak kumengerti karena keterbatasanku; kehilangan fungsi pendengaran sejak kecil dan bahasa yang sangat kupahami hanyalah Indonesia -- dari aneka bacaan yang kubaca. Sorangan artinya sendiri atau sendirian. Namun aku tak berani bertanya apa arti karep pada abangku, ia sudah pusing dan dongkol. Jauh-jauh datamg dari Ciamis ke Limbangan Garut hanya demi tugas mulianya, menjadi wali pada hari pernikahanku, pengganti almarhum bapak yang sudah belasan tahun tiada.
Abang hanya pedagang arloji keliling, menawarkan dagangannya secara kreditan pada siapa saja, kebanyakan ia menawarkan ke kantor polisi di beberapa kota karena punya banyak relasi. Anaknya dua, lelaki semua dan masih kecil. Lelaki jelang empat puluh tahun yang merasa gagal sebagai kepala keluarga karena belum bisa memakmurkan hidup anak istrinya, rumah saja masih mengontrak. Waktu aku hendak menikah dan mengutarakan niatku soal perayaan sederhana seperti abangku dulu, aku tak ingin membebani siapa pun, tidak juga calon suamiku yang hanya bisa memberi sejuta rupiah untuk keperluan pernikahan pada ibuku.
Aku tak pernah berpikir bahwa ibu ingin abang membantu juga dari segi finansial. Aku tak tahu bahwa uang sejuta ternyata tak cukup di mata ibu, ditambah beberapa ratus ribu dari sisa gadai sawah. Aku sedih begitu tahu bahwa abang ikhlas menyumbang 500 ribu yang bagiku tak perlu. Bukankah Al dan Rama lebih membutuhkannya? Apalagi teteh iparku hanya ibu rumah tangga biasa. Apalagi mereka sebenarnya terlilit utang juga. Penghasilan ada tetapi sering macet di luar karena sulit ditagih, dan untuk modal sampai kebutuhan sehari-hari bisa jadi harus berutang entah pada siapa. Ditambah bekas kecelakaan yang menimpa abangku ketika tabrakan, motornya ditabrak pengendara motor mabuk di siang bolong yang membuat jari kelingking kaki kirinya harus diamputasi. Begitu banyak beban tergurat di garis wajahnya yang lelah. Ia tidak seperti ibu yang janda pensiunan, tinggal enaknya dapat uang tiap bulan berkat almarhum bapak yang mengabdi selama 30 tahun sebagai pegawai negeri di Balai Besar Perusahaan Kereta Api, Bandung.
Ibu barangkali jenis orang yang kurang bersyukur, cenderung boros untuk hal mubazir. Anaknya harus pontang-panting cari nafkah demi menghidupi keluarga, mengapa ibu harus membebani demi alasan gengsi agar tampak hebat dan mampu di mata orang lain. Padahal apa yang dilakukannya masuk pepatah Sunda, ginding pakampis: berlebihan tapi kempes.
Untuk keperluan bingkisan pada para tetangga saja, yang aku tak tahu akan begitu banyak berdatangan, Kang Asep pemasok warung kami yang menalangi; mengirim barang kebutuhan dan dibayar belakangan begitu hajat beres. Ibu pikir banyak tamu yang datang karena ia dikenal banyak orang sekampung sebagai orang baik dan istri Pak Aden. Ibu, ironisnya, jarang mendatangi tetangga yang hajat. Dan orang kampung seolah bersimpati padaku yang memiliki keterbatasan namun berusaha utuh sebagai perempuan dalam hal jodoh. Begitu banyak amplop sampai beras dan padi yang kami terima, ditambah kelapa, bihun, dan lainnya.
Semestinya uang sumbangan dari para tetangga itu bisa mencukupi keperluan kami. Namun ibu membuat kejutan tolol: belanja bahan makanan seolah memasak untuk ratusan orang, padahal yang hadir pada hari H nikahanku hanya beberapa puluh orang pengiring pengantin dari pihak keluarga calon suamiku.
Aku memandang nanar bibiku yang sedang mencuci entah berapa kilo daging sapi di kamar mandi. Lalu bungkusan plastik besar berisi beberapa ekor ikan mas yang banyak. Dan daging ayam. Karung jala berisi aneka sayuran berupa kol, kentang, brokoli, wortel, tomat, kecipir, jagung muda, mentimun, sampai bumbu-bumbu. Lalu buah-buahan buat rujak. Lalu dua kantung besar kerupuk ikan. Dan entah apa lagi. Yang jelas aku dan abang sampai stres melihatnya. Para kerabat sibuk membantu di dapur, barangkali sambil menggunjingkan ibu yang punya sifat riya dan senang dipuji. Ibu ke Bandung untuk urusan jual kalungnya sebagai tambahan hajat. Aku ingin kabur saja dari kesintingan ini, melupakan rencana pernikahanku dengan lelaki yang kucintai.
Aku terlambat mengetahui bahwa untuk urusan bahan masakan itu, ibu dengan bantuan Mang Ano adiknya, berutang 2 juta pada kawan Mang Ano. Dan bahwa ibu akan membuat kekacauan dengan merusak kepercayaan pada Kang Asep dengan telat membayar, lalu utang 2 juta itu pun sulit dibayar ibu dan harus ditebus dengan cara menjual sawahnya kelak. Lalu rentetan utang itu membuat hidup ibu harus tetap gali lubang tutup lubang, sayang lubang yang digalinya terlalu dalam.
Pada hari pernikahanku, aku murung, tidak bahagia betapa hidupku dikendalikan sesuatu yang tak terpahami. Aku membenci kendali ibu akan uang, ia tak bisa mengendalikan diri dan malah dikendalikan materi.
Aku gagal menginginkan ketenangan finansial. Aku menyesal ibu yang menangani hajatan ini. Seandainya saja aku yang pegang kendali barangkali semua kekacauan ini tak akan terjadi. Aku tak perlu jadi kambing hitam dengan alasan apa yang dilakukan ibu adalah bentuk sayang anak. Abang bilang jika benar ia menyayangi kita, segala ketololan itu tak perlu terjadi. Rusaknya nama baik di mata orang dan berhadiah tambahan utang yang menggunung tak terbayar.
Aku tak ingin seperti Bi Empay, 3 rumah di belakang rumah kami. Ia kehilangan rumah dan kebunnya karena utang. Pinjamlah uang pada rentenir dan harus bayar 2 kali lipat. Bi Empay berutang untuk modal warungnya. Sayang utang yang dibuat ada banyak pada beberapa pihak. Terlalu mengerikan jika tiap minggu harus bayar ratusan ribu padahal penghasilan tak menentu, suaminya buruh tani sekaligus dagang es krim keliling di Bandung. Ia menggali lubang dan lubang itu menelan rumah dan hartanya. Keluarga mereka terpaksa kabur ke Kubang, sebuah kampung terpencil melewati Desa Panceureunan setelah desa kami.  Kampung yang berbatasan dengan hutan, tempat bekas pertempuran TNI dan gerombolan apa gitu. Yang jelas di sana menjadi kuburan bagi mayat gerombolan. Ongkos ojek ke sana dari kecamatan kami 20 ribu rupiah, ke kampungku hanya 4 ribu rupiah. Bi Empay tak cuma kabur, masih menyisakan jejak utang pada koperasi kelompok dan harus ditanggung kelompoknya untuk dibayar. Ia dan keluarganya menjadi gunjingan sekaligus kemarahan. Betapa utang bisa merusak banyak hal, dan semua bermula dari nafsu dan kesombongan.
Dan pada akhirnya, dari suamiku aku baru tahu apa arti karep sorangan, mau menangnya sendiri! Aku sedih mengingat usia ibu yang begitu senja mestinya ia mendapat kesenangan dan ketenangan. Ia tak pernah dapatkan itu karena satu hal yang dianggap sebagai kehormatan baginya adalah kekayaan dan kesuksesan dalam materi. Ia bukan jenis orang yang menghargai proses, baginya hasil adalah hal paling pasti untuk diagungkan. Betapa ia bisa merendahkan diri jika berhadapan dengan si kaya, lupa bahwa segala pemberian semata dari-Nya, bahkan napas ini pun titipan. Ia tak segan mengumumkan apa-apa yang telah dilakukan, jasa atau pemberian untuk siapa saja. Meratapi masa jayanya waktu masih kaya dan sering dirubung kerabat sampai tetangga yang membutuhkan bantuannya, saat miskin mereka seolah tak peduli dan menghinakan. Bahkan dua anaknya yang payah secara materi pun jadi sumber keluhan pada orang-orang. Terasa begitu pamrih dan riya jika harus mengumumkan kebaikan diri sendiri seperti itu.
 Aku hanya ingin bisa terbebas dari utang dan riba. Di belakang rumahku, rumah mama Susan kosong dan hendak dijual, ia sendiri kerja di kota sebagai pembantu karena utang-utang yang dibuat pada berbagai pihak tanpa sepengetahuan suaminya, seorang pekerja bengkel di kota. Di sekelilingku kehidupan petani bukanlah hal menjanjikan secara materi sekarang ini. Kau akan membutuhkan modal besar untuk mengolah tanah kebun atau sawahmu, sedang harga pupuk dan hal-hal lainnya kian tak masuk akal.
Suamiku hanya petani. Memburuh pada siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Bertahan dalam pekerjaan yang jarang dan penghasilan kecil demi bayi kami yang baru 8 bulan, bayi lucu yang cerdas dan tampan seperti ayahnya.
Barangkali aku pemimpi, seperti kata suamiku, ingin mengentaskan hidup kami dari kemiskinan karena utang yang menjerat keluarga. Namun siapa tahu dengan itu rasa frustrasiku selaku anak akan berkurang, setidaknya ayahku tak merana di alam kubur karena namanya masih dibawa-bawa dalam surat pensiun yang diagunkan pada bank yang dilakukan ibu.***
Limbangan, Garut, 15 Juli 2010


Di Banyuwangi Langit Terbelah-belah



Di Banyuwangi Langit Terbelah-belah

Langit terbelah hantarkan aku yang patah.
Pada dingin alir air.
Pada kelabu cakrawala rindu.
Pada petir yang menampar hening.
Pada sepi yang menguyup jasad.
Pada angin yang menghantarkan suaramu,
sebagai kenang yang lebam.
Limbangan